Dampak IUU-Fishing Terhadap Perkembangan Ekonomi Indonesia

0
211
(foto: eco-business)

Jakarta, Klanews.id – Potensi sumberdaya hayati laut yang terbesar adalah perikanan. Dalam dekade 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa eksploitasi dan eksplorasi hasil perikanan di Indonesia menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

Selain berpotensi, kegiatan yang membarengi eksplorasi di laut adalah kegiatan tindak pidana perikanan yang sangat merugikan Indonesia. Menurut Badan Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO), kegiatan tindak pidana perikanan disebut dengan istilah Illegal, Unregulated, and Unreported Fishing (IUU-Fishing), yang berarti bahwa penangkapan ikan dilakukan secara illegal, tidak dilaporkan dan tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) menyatakan bahwa kerugian Indonesia akibat IUU Fishing diperkiraan mencapai Rp 30 triliun per tahun sedangkan BPK memperkirakan tahun ini Indonesia menanggung kerugian sebesar Rp 300 triliun.

Lihat juga: Dampak IUU Fishing Terhadap Sosial Indonesia

FAO menyatakan bahwa saat ini stok sumber daya ikan di dunia yang masih memungkinkan untuk ditingkatkan penangkapanya hanya tinggal 20 persen, sedangkan 55 persen sudah dalam kondisi pemanfaatan penuh dan sisanya 25 persen terancam kelestariannya.

Hal ini diperjelas dengan pernyataan dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) bahwa tingkat kerugian tersebut sekitar 25 persen dari total potensi perikanan yang dimiliki Indonesia sebesar 1,6 juta ton per tahun. Kondisi perikanan di dunia ini tidak berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia.

Pada tahun 2003 – 2007, KKP telah melakukan pengawasan dan penangkapan terhadap 89 kapal asing, dan 95 kapal ikan Indonesia. Kerugian negara yang dapat diselamatkan diperkirakan mencapai Rp 439,6 miliar dengan rincian Pajak Penghasilan Perikanan (PHP) sebesar Rp 34 miliar.

Selain itu, subsidi BBM senilai Rp 23,8 miliar, sumber daya perikanan yang terselamatkan senilai Rp 381 miliar, dan nilai sumber daya ikan tersebut bila dikonversikan dengan produksi ikan sekitar 43.208 ton. Berdasarkan data tersebut, setiap tahun diperkirakan Indonesia mengalami kerugian akibat IUU Fishing sebesar Rp. 101.040 trilliun per tahun.

Lihat juga: Dampak IUU Fishing Terhadap Hubungan Politik Indonesia

Kerugian ekonomi lainnya, adalah hilangnya nilai ekonomis dari ikan yang dicuri, pungutan hasil perikanan (PHP) akan hilang, dan subsidi BBM dinikmati oleh kapal perikanan yang tidak berhak. Selain itu Unit Pengelolaan Ikan (UPI) kekurangan pasokan bahan baku, sehingga melemahkan upaya pemerintah untuk mendorong peningkatan daya saing produk perikanan.

Selama tahun 2013, operasi kapal pengawas telah berhasil memeriksa sebanyak 3.871 kapal perikanan yang terdiri dari 47 Kapal Ikan Asing (KIA) dan 3.824 Kapal Ikan Indonesia (KII). Dari jumlah tersebut, telah ditangkap sejumlah 68 kapal perikanan yang diduga melakukan pelanggaran di bidang perikanan yang terdiri dari 24 unit KII dan 44 unit KIA.

Jenis pelanggaran yang dilakukan oleh KII tersebut antara lain: menggunakan alat  tangkap terlarang, tidak memiliki dokumen/dokumen tidak lengkap/dokumen palsu, dan melanggar wilayah penangkapan ikan (fishing ground) yang telah ditentukan dalam SIPI. Adapun pencurian ikan yang dilakukan oleh KIA berasal dari Malaysia, Philiphina, Thailand dan Vietnam.

Akibat dari IUU-Fishing indonesia mengalami kerugian ekonomi/pendapatan negara trilliunan rupiah per tahun dari sektor perikanan. Sehingga pemerintahan di bawah kepemimpinan presiden Joko Widodo ditantang harus membenahi pengawasan dan perijinan penangkapan ikan pada zona yang sudah di tentukan (fishing ground) untuk mengurangi terjadinya illegal fishing yang memebuat kerugian negara membengkak. (HR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here