Ekspor Ikan Tapanuli Tengah Terancam Gulung Tikar

0
48
(foto: djpt.kkp)

Jakarta, Klanews.id – Seiring merosotnya produksi pendaratan ikan di Kabupaten Tapanuli Tengah selama dua tahun terakhir, akibat seringnya dilanda cuaca ekstrem, eskpor ikan dari kedua daerah, khususnya ke negara-negara Uni Eropa juga ikut menurun.

Data yang diperoleh berdasarkan Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan (SHTI) yang dikeluarkan oleh Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga selaku perpanjangan tangan Kementerian Kelautan dan Perikanan di wilayah ini, jika pada tahun 2012 lalu, ekspor produksi perikanan dari daerah ini mampu mencapai 2.252 ton, tahun 2013 turun menjadi 2.143 ton.

Pada tahun 2014 ini, ekspor ikan yang biasanya dalam bentuk Frozen Coo-ked Loin Skipjack Tuna (ikan cakalang masak beku), dipastikan akan kembali merosot. Sebab, hingga Agustus 2014, ekspor produk ikan tersebut masih berjumlah 1.312 ton.

Demikian disampaikan Kepala PPN Sibolga, Henry M Batubara S Pi MSi didampingi Kasi Tata Operasional, M Salim SPi di kantornya, Kamis (9/10).

Lihat juga: Mimpi Buruk Indonesia Sebagai Negara Maritim

“Ekspor ikan kita dari daerah ini memang kian merosot sejak 2 tahun terakhir, khususnya dalam bentuk Frozen Cooked Loin Skipjack Tuna (ikan cakalang masak beku) yang biasanya ditujukan ke negara-negara Uni Eropa.

Menurunnya angka produksi ekspor ini paling dominan dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem yang sering melanda wilayah perairan zona tangkap nelayan di sini, sehingga menyebabkan produksi hasil tangkapan pun menurun, termasuk jenis ikan ekspor seperti cakalang dan Madidihang,” terangnya.

Selain faktor cuaca ekstrem, merosotnya produksi ekspor ikan dari Tapteng juga dipicu beberapa kendala administrasi. Di mana, kapal perikanan di Tapteng dan Sibolga kebanyakan menggunakan alat tangkap jenis Purse Seine Pelagis Kecil (PSPK).

Alat tangkap PSPK itu tidak bisa didaftarkan ke Regional Fisheries Management Organization (RFMO) karena terkendala tekhnis. Selain itu, kapal perikanan di Tapteng dan Kota Sibolga banyak yang menangkap ikan tidak sesuai dengan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) yang dimilikinya.

Sesuai hasil verifikasi treking Vessel Monitoring System (VMS) yang dilakukan oleh PPN Sibolga, banyak kapal penangkap ikan asal kedua daerah yang beroperasi sampai ke laut lepas, padahal kapal tersebut belum terdaftar di RFMO.

Sehingga, ikan hasil tangkapannya tidak bisa memperoleh SHTI sebagai syarat utama bagi negara-negara Uni Eropa untuk mau menerima produk ekspor ikan kita (kata Henry M Batubara).

Lihat juga: Perikanan Indonesia Sulit Tembus Pasar International

Kendala ini kian diperparah dengan kelakuan para nakhoda kapal perikanan yang melakukan operasi penangkapan ikan di laut namun tidak mengaktifkan VMS, supaya kapal dapat dipantau.

Menurut Henry, Negara Uni Eropa itu sangat selektif dalam menerima hasil produk ikan. Mereka tidak mau menerima produk ikan yang tidak dilengkapi oleh dokumen-dokumen yang resmi dari pemerintah Indonesia, karena khawatir ikan-ikan itu hasil produk illegal fishing, tidak sehat atau sudah dicampur dengan zat kimia.

“Nah, untuk mengatasi ini, pemerintah kita sesuai Permen Kementerian Kelautan dan Perikanan Nomor 13 Tahun 2012 tentang SHTI mengharuskan produk hasil tangkapan yang memiliki SHTI. Syarat-syaratnya antara lain adalah jenis alat tangkap yang sesuai dan harus selalu mengaktifkan VMS saat beroperasi,” katanya.

Dijelaskan, dengan VMS ini, seluruh negara anggota RFMO dapat memantau lokasi operasi kapal penangkap ikan, sehingga mereka tahu apakah alat tangkap dan lokasinya tidak menyalahi.

“Sementara, inilah yang menjadi salah satu kendala yang masih kurang dipatuhi oleh kapal-kapal perikanan di sini. Akibatnya jelas, produk hasil tangkapan mereka tidak boleh diekspor ke Uni Eropa yang menjadi pasar utama ikan kita,” terangnya. (HR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here