MSDC Unhas Gairahkan Riset Kelautan

1
219
Belajar selam di klub selama MSDC Unhas(foto istimewa)

Jakarta, Klanews.id – Arah pembangunan kelautan nasional sejatinya didasarkan pada potensi sumberdaya tersedia. Syarat pembangunan dimaksud adalah proses perencanaan yang berbasis pada data dan informasi faktual.

Oleh sebab itu, segenap pihak seperti Pemerintah, Perguruan Tinggi hingga pihak swasta harus ikut serta dalam melaksanaan pengkajian atas kondisi, isu sumberdaya dan memberikan rekomendasi yang relevan.

Pemerintah Kabupaten Selayar, di ujung selatan Provinsi Sulawesi Selatan, memahami hal tersebut sehingga memberi dukungan kepada mahasiswa Unhas dalam melaksanakan riset tersebut.

Upaya tersebut ditunjukkan dengan memberi apresiasi ke unit penyelaman berbasis kampus bernama Marine Science Diving Club (MSDC), di Fakultas Ilmu Kelautan Perikanan.

MSDC adalah wahana mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin, yang berdiri sejak tahun 90-an untuk memperkuat kapasitas penyelaman dan menggairahkan riset kelautan.

Lihat juga: Generasi Muda dan Poros Maritim Dunia

“Substansi pendiriannya adalah sebagai penguat kecintaan dan kompetensi mahasiswa dan masyarakat luas dalam mengelola dan mengembangkan bidang kelautan berbasis keterampilan penyelaman,” kata Kemal Abdurahman Massi, salah seorang pendiri MSDC yang dihubungi KLANEWS, (13/4).

Tahun ini, untuk kesekian kalinya, pengurus MSDC melaksanakan ekspedisi dengan bekerjasama dengan Pemkab Selayar.

Mereka menyebutnya Ekspedia Walrus Abu-Abu MSDC-UH. Mengusung tema “Eksplorasi Pesona Alam Pulau Kakabia”, kegiatan dimulai sejak 9 April 2018 dan berlangsung selama dua minggu.

Tujuan riset

Kegiatan ini merupakan komitmen bersamma MSDC dan Pemkab Selayar untuk mengumpulkan data terkait ekosistem terumbu karang serta data oseanografi di Pulau Kakabia.

Bukan hanya itu, misi ini ditujukan untuk menggali berbagai potensi yang dapat digunakan sebagai basis untuk pengembangan Pulau Kakabia sebagai salah satu aset Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Wakil Rektor 3 Unhas, Dr. Ir. Abdul Rasyid, M.Si mengatakan bahwa ekspedisi Walrus Abu-abu yang diselenggarakan oleh anggota Marine Science Diving Club (MSDC) Unhas bertujuan untuk menggali potensi alam pulau Kakabia, sebagai manifestasi Tridharma Unhas.

“Seperti terumbu karang, ikan karang, bentos, flora dan fauna darat. Harapannya dapat memberikan informasi terkait potensi sumberdaya pulau kecil, kepada masyarakat dan juga kepada pemerintah melalui buku,” katanya ke KLANEWS.

Kebersamaan di tengah Laut yang tenang (foto: MSDC)

Ketua panitia pelaksana, Yandi Wirawandi, menyatakan bahwa ekspedisi terdiri dari 12 personil dan akan terbagi ke dalam beberapa bidang kajian dan dilengkapi dengan alat-alat riset, seperti tabung selam dan kebutuhan lapangan lainnya.

“Data yang dikumpulkan dapat dijadikan rujukan oleh pemerintah daerah setempat dalam pengambilan keputusan. Juga menjadi referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan oleh mahasiswa Kelautan,” terang Yandi Wirawandi.

Sementara itu, Andi Muh. Agung Pratama AR, ketua MSDC-UH berharap tim dapat berangkat dengan selamat, melakukan pengambilan data dengan baik serta dapat menyelesaikan pendataan pada semua titik-titik yang telah ditentukan.

“Kepada koordinator lapangan agar tetap Wasapada Diri Anuraga dalam mengawal tim dari Sekretariat MSDC-UH hingga pengambilan data di Pulau Kakabia dan kembali untuk memaparkan hasil ekspedisi,” katanya.

“Setelah tim merampungkan hasil riset, mereka diharapkan dapat memberikan presentasi ke Pemerintah Selayar melalui workshop, dengan harapan dapat memberi masukan hal-hal apa yang bisa laksanakan di sana melalui program,” pungkasnya.

Tentang Kakabia

Jika pernah membaca peta laut pada kaki pulau Sulawesi, pada jarak antara wilayah perairan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan, di situlah letak Pulau Kakabia.

Pulau yang oleh warga di sekitar Pulau Bonerate hingga Pulau Madu, di wilayah administrasi Selayar, disebut sebagai pulau persinggahan sekaligus pulau kaya potensi.

Pulau tersebut banyak dimanfaatkan oleh warga asal pesisir Sulawesi, utamanya yang tinggal dalam gugus Kabupeten Wakatobi dan pesisir Pulau Buton. Mereka memanfaatkannya sebagai tempat singgah atau berlindung saat cuaca buruk maupun berburu hasil laut.

Lihat juga: Miangas, Eksotisme Beranda Utara Indonesia

Menurut laporan warga Selayar, Pulau Kakabia merupakan pulau yang banyak disinggahi burung-burung raksasa. Yang oleh nelayan disebut burung bebek lantaran ukurannya amat besar.

“Warnannya kekuning-kuningan dengan warna hitam dan berukuran besar dengan mulut panjang,” kata warga bernama La Suga ketika bertemu KLANEWS.

Pulau Kakabia dapat ditempuh selama 4 jam dari Pulau Kalao Toa, Selayar. Menurut hitung-hitungan, waktu tempuh dari Kalao Toa ke Pulau Jampea selama satu hari atau 10-12 jam. Jarak Jampea ke ibukota Benteng Selayar, dapat ditempuh sekitar delapan jam.

Pulau Kakabia terkenal karena burung berwarna putih hitam yang dominan di sana. Mereka berkumpul pada pagi dan sore hari.

Menurut La Suga, pasir dan kotoran burung tersebut pernah dikumpulkan oleh warga dari Pulau Batu Atas dalam gugus pulau Wakatobi dan dijual ke Bali. “Kegiatan itu hanya satu kali dan tidak berlanjut lagi,” katanya.

Burung di Pulau Kakabia memangsa ikan terbang. Dengan paruh yang besar dan panjang, mereka begitu perkasa memangsa ikan permukaan.

“Untuk naik ke pulau itu susahnya minta ampun karena batu cadas di sekitar pulau,” katanya lagi. Selain itu, di atas pulau ada pohon yang menjadi tempat bertenggernya burung khas di sana.

“Sebenarnya, daun pohon tersebut dapat dimakan daunnya. Dalam bahasa daerah warga Batu Atas disebut kaubula. Pohon ini kerap memakan korban karena pendatang biasanya hendak mengambil anak burung, memanjat dan jatuh ke bebatuan,” cerita La Suga.

“Dahannya sangat keropos,” katanya lagi.

Menurut La Suga, di sekitar pulau, banyak sekali ditemui penyu sisik, hamparan terumbu karang yang ada masih sangat bagus. Di atas pulau, terdapat juga biawak, ular batu, tikus berwarna kemerah-merahan, dan kepiting kenari. “Luas pulaunya sekitar 9 hektar,” sebut La Suga.

Begitulah, mari tunggu hasil riset MSDC agar semua informasi potensi Pulau Kakabia bisa terkuak dan bisa dimanfaatkan untuk pembangunan daerah setempat. (HR/KAS)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here