Kampung Pegat Ladang Terasi

0
95
(foto: beritadaerah)

Jakarta, Klanews.id – Seorang nelayan sibuk membolak balik udang kecil diatas para-para yang berlapis waring, sesekali ia membuang sampah dedaunan dan ikan ikan kecil yang terikut di Serok (Alat tangkap udang kecil).

Ditempat lain seorang ibu tengah menumbuk udang dan mencampur dengan garam sebelum difermentasi menjadi terasi lalu dikemas kedalam karung. Selanjutnya terasi-terasi tersebut ditampung kemudian dijual kepengumpul.

Terasi sendiri merupakan salah satu penyedap makanan yang tidak hanya dikenal luas di Indonesia bahkan di Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand dan beberapa negara lainnya. Di Indonesia sendiri terasi sering kali digunakan sebagai campuran sambal seperti sambal Pettis di Surabaya, Cobe-cobe di Makassar.

Warga yang bermukim di Kampung Pegat menjadikan terasi sebagai mata pencaharian utama. Terasi ini diminati oleh warga Sumbawa, dan beberapa daerah di Indonesia karena aromanya yang khas, dan dibuat dari udang murni tanpa campuran ikan.

Menurut salah satu warga yang juga sebagai penampung terasi mengatakan, terasi yang sampai ke Sumbawa pasti langsung diperebutkan, bahkan lanjutnya, selama dia berdagang tidak pernah sekalipun menunggu pembeli, setiap datang pasti sudah ada pembeli menunggu.

Berdasarkan hasil penelitian Forum Lingkungan Hidup Mulawarman (FLIM), usaha terasi yang di lakoni warga Pegat menyumbang 4.200 kg terasi/tahun atau senilai 500 Juta/Tahun Dengan asumsi harga Rp. 10.000/Kg.

Kampung Pegat sendiri telah berdiri sejak puluhan tahun silam, mereka merupakan penduduk Sulawesi Selatan (Bone, wajo, dan beberapa daerah lain) yang mencari ikan Ke Sumbawa hingga ke Kalimantan dan akhirnya menetap di Kampung Pegat sebagai nelayan udang dan pembuat terasi.

Lokasinya yang berada di Kawasan Delta Berau, atau lebih tepatnya di Muara Sungai Lungsurang Naga. Kampung Pegat merupakan kawasan hutan mangrove yang kaya akan sumberdaya perikanan, terutama potensi Udang Rebon.

Kondisi pemukiman yang berada di delta, masih jauh dari kata layak, kekurangan air bersih dan infrastruktur dasar masih sangat minim, selain itu beberapa bantuan alat produksi terasi yang telah diberikan oleh pemerintah tidak termanfaatkan dengan baik, warga menilai penggunaan alat dari bantuan pemerintah jauh lebih lambat dan hasilnya kurang maksimal dibandingkan dengan cara manual. (SN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here