Sandeq, Perahu Tradisional Tercepat Simbol Ketangguhan Pelaut Mandar

0
109
Sandeq perahu khas Mandar (foto: sempugi)

Jakarta, Klanews.id – Suku Mandar sebagai salah satu suku pelaut yang ada di Sulawesi, memiliki perahu tradisional unik. Namanya Sandeq, bentuknya ramping dan panjang, dengan warna dominan putih.

Ukurannya terbilang kecil. Panjangnya sekitar 9 sampai 11 meter dan lebar hanya sekitar 60 sampai 80 centimeter. Terdapat cadik pada kedua sisinya sebagai penyeimbang. Dengan layar yang tingginya sekitar 15 meter, mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot dan membuatnya terlihat cantik dan anggun mengarungi lautan.

Dibuat dengan cermat dengan lama pembuatan sekitar 2 bulan. Waktu yang terhitung lama untuk perahu dengan ukuran ramping.

Badan perahu dipilih dari bahan baku yang berkualitas, yaitu jenis kayu dari Pohon Kanduruang mamea yang sudah berumur. Badan perahu ini juga tanpa sambungan, satu pohon untuk satu perahu.

Sandeq menyimpan cerita dan ketangguhan melebihi penampilannya. Dahulu kala, perahu tradisional ini digunakan untuk berdagang dan mencari ikan.

Lihat juga:  MSDC Unhas Gairahkan Riset Kelautan

Jalur laut pada saat itu merupakan akses yang vital bagi perekonomian, sehingga Sandeq memegang peranan yang cukup penting.

Perahu khas Mandar ini, telah mengarungi lautan dan samudera sampai ke beberapa negara. Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Australia, Madagaskar bahkan Amerika tercatat pernah disinggahi.

 “Meski kelihatan rapuh, Sandeq adalah perahu tradisional terkuat dan tercepat. Perahu tradisional ini merupakan yang tercepat di Austronesia”, tutur Horst H Liebner, peneliti Sandeq asal Jerman.

Sandeq merupakan warisan nenek moyang Suku Mandar yang tak ternilai. Dihasilkan dari proses pembacaan terhadap alam yang dilakukan secara arif dan bijaksana.

Melalui Sandeq, dapat dilihat potret Suku Mandar yang mencerminkan keseimbangan, kesederhanaan, keindahan, ketepatan dan ketangguhan.

Perkembangan zaman nampaknya kurang berpihak pada kelestarian Sandeq. Masyarakat Mandar sudah banyak yang beralih menggunakan perahu bermotor moderen. Dengan alasan efektivitas maupun kemudahan dalam mengoperasikannya. Akhirnya, sedikit demi sedikit perahu tradisional ini mulai ditinggalkan. (RSP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here