Eksistensi Sasi Sebagai Budaya Kearifan Lokal Maluku

0
184
Ribuan orang ikut dalam acara Sasi Lompa, Maluku. Sasi adalah salah satu cara untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam laut maupun darat (dok: beritadaerah)

Jakarta, Klanews.id – Konservasi adalah sebuah cara perlindungan atau pelestarian sebuah sumberdaya.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan, konservasi adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Berbicara soal konservasi,  Sasi adalah salah satu konservasi adat tertua di Indonesia dan menjadi budaya kearifan ekologi. Sasi sendiri adalah tradisi atau budaya Maluku dan Papua.

Sasi sendiri diartikan sebuah mekanisme kearifan lokal yang digunakan masyarakat adat untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumberdaya alam dengan baik secara turun temurun.

Sasi sendiri dikelola oleh semua lembaga adat dibawa raja atau kepala desa (Kewang). Sasi dalam penerapannya, hanya berlaku ditingkat desa atau masyarakat lokal sebut negeri.

Lihat juga: Peluang dan Tantangan Perikanan Maluku

Dalam prakteknya, tidak semua desa menerapkan Sasi di wilayahnya sehingga Sasi hanya mengikat pada wilayah yang menerapkannya. Sasi sendiri memiliki tantangan yang cukup besar, salah satunya ketika pergantian pemerintah. Pergantian pemerintah sering kali diikuti dengan perubahan kebijakan dan pembangunan, sehingga sering kali bergesekan dengan nilai-nilai adat Sasi.

Pengelolaan sumberdaya alam pesisir di Maluku dalam hal tradisi Sasi Laut dan Sasi Kali  digunakan untuk mengatur masyarakat agar tidak menangkap ikan dalam kurun waktu tertentu. Selain itu, ada juga Sasi Lompa dimana tradisi Sasi ini merupakan perpaduan antara Sasi Laut dan Sasi Kali yang mengatur penangkapan ikan Macherel (ikon) di Desa Haruku.

Di Maluku sendiri ada beberapa macam Sasi;

“Sasi negeri atau Sasi Adat, Sasi ini sepenuhnya dilakukan secara adat yang dipimpin oleh kepala desa atau raja yang bertindak sebagi kepala persekutuan hukum-hukum adat di desanya, yang dibantu oleh tua-tua adat yang terdiri dari sao, mauweng, dan kewang”

“Sasi Darat diperuntukan untuk hasil-hasil di darat. Sasi inipun dibagi atas beberapa sasi menurut tempat dan jenisnya, misalnya sasi rotan, sasi kelapa, sasi lemong dll”

“Sasi Laut digunakan untuk mengatur terhadap hasil laut. Sasi inipun biasa dikenal sebagai Sasi Kawalinya, Sasi Lompa, dll”

Lihat juga: Maluku Memiliki Potensi Perikanan yang Terbesar Ke-5 di Indonesia

“Sasi Perorangan, Sasi ini hanya berlaku di dalam satu keluarga untuk mengatur kebun milik keluarga. Dalam penerapannya, pemerintah hanya mendapatkan pemberitahuan dari pihak keluarga bersangkutan”

Tradisi Sasi berbasis lingkungan

Di beberapa hukum adat di wilayah Maluku, ketika menebang 1 pohon sagu maka diwajibkan menanam 10 pohon sagu sebagai gantinya.

Di Maluku, Ketika pohon sedang berbunga, masyarakat dilarang membuat keributan karena dianggap mengganggu proses pembuahan dan bunga akan berguguran. Tradisi ini menunjukan bahwa masyarakat adat di Maluku sangat menyatu dan menjaga alamnya.

Budaya seperti ini (Sasi) merupakan modal sosial yang patut dicontoh dalam menjalankan roda pembangunan berkelanjutan, sehingga sumberdaya pesisir terjaga dengan baik.

Sasi salah satu hukum adat yang seharusnya  diperhatikan dan diterapkan dalam penataan pembangunan berkelanjutan yang berbasis lingkungan. Sasi memiliki nilai-nilai kebaikan, kebijaksanaan, dan keseimbangan antara alam dan manusia. Penerapan Sasi dalam pembangunan dapat berjalan tanpa menciderai lingkungan sekitarnya. (HR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here