Tison, Dulu Bius Ikan Sekarang Pemandu Wisata Bahari

0
173
Tison di depan kapal wisatanya (dok: istimewa)

Selayar, Klanews.id – Penangkapan ikan tidak ramah lingkungan atau destructive fishing masih menjadi momok bagi semua kalangan terutama Pemerintah Daerah yang sangat ingin mengembangkan potensi kelautan dan perikanan sesuai prinsip keberlanjutan. Salah satunya di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Seperti apa dimensi kegiatan illegal tersebut? Apa saja risikonya? Simak obrolan dengan seorang mantan pelaku illegal fishing di sekitar perairan Kabupaten Selayar hingga Flores yang kini mengaku kapok sehingga putar haluan jadi pemandu wisata.

***

Namanya Tison. Saya bertemu pria Selayar ini ketika mengantar tiga orang penyelam menuju Perairan Gusung, Desa Bontolebang, 02/06. Dia pemilik perahu bercadik yang didisain khusus untuk wisata diving, snorkeling hingga ‘sightseeing‘ yang merupakan mitra Selayar Marine Dive, salah satu operator selam di Selayar.

“Ada dua yang seperti ini, satunya lebih besar,” katanya terkait perahunya.

Pria yang mengaku lahir di ujung tahun 80-an ini adalah anak dari pasangan lelaki Densi dan ibu Ida. “Saya lahir 14 September. Kalau bukan tahun 88, tahun 89,” ucapnya sambil nyengir.

Saya mulai tertarik berbincang dengannya saat dia mengaku bahwa sejak usia 16 tahun telah ikut operasi penangkapan ikan dengan cara membius. Membius dengan bahan potassium.

“Sudah banyak yang saya selami. Sejak usia 16 sudah ikut operasi di Perairan Taka Bonerate, Jampea, Pulau Bembe, Rajuni, Taka Sani-Sani, Polassi, Bauluang, Nambolaki, Lambego sampai Pulau Karompa di selatan Selayar,” bebernya.

“Saat itu kami operasi di wilayah Laut Flores. Hampir semua kecuali di Tambolongang karena ada Daeng  Mudda yang keras sekali orangnya,” katanya.

“Daeng Mudda adalah warga Pulau Tambolongang menjadi korban dalam konflik antara nelayan konservasi dalam desa dan para pelaku destructive fishing di tahun 2004 yang menghebohkan itu.

Muddaing sangat keras hati untuk melawan pelaku destructive fishing di sekitar pulaunya hingga kemudian berujung tragis untuk dirinya. “Daeng Mudda orangnya pendek, gempal dengan jenggot putih panjang,” kata Tison mengenang pahlawan konservasi dari Pulau Tambolongang itu.

Selain membius ikan, Tison juga pernah berburu ikan hiu. “Pernah pula menjaring ikan hiu di Kupang, NTT setelah tidak lagi membius,” tambahnya dengan aksen Selayar nan khas.

“Kami tidak lagi menangkap ikan dengan bius setelah pemilik kapal yang membiayai operasi tiba-tiba berhenti karena alasan keluarga. Tapi bukan hanya alasan itu, risikonya sangat besar dan kami tidak rasakan manfaatnya. Maksud saya, uang hasil menyelam tak seberapa,” katanya saat ditemui di perairan Dongkalang, Pulau Pasi’.

“Risikonya bisa lumpuh hingga kematian bagi penyelam yang terlalu lama dalam air. Apalagi kalau tergoda berlama-lama di dalam air kejar ikan,” sebut Tison.

Tison adalah mantan pelaku bius ikan yang kini melakoni hidup sebagai operator perahu yang siap sedia mengantar tamu yang ingin berwisata. Pekerjaan yang nampaknya sangat disukainya. Lantaran itu pula dia tidak sungkan untuk bercerita pengalaman buruknya sebagai mantan pembius ikan.

“Setahuku bahan bius itu namanya potas, dibawa dari Makassar. Biasa dipakai bersihkan emas,” kata pria yang mengaku pernah menangkap ikan Napoleon dengan bobot 87 kg.

“Saya ingat ikan itu beratnya 87 kilogram dan dibawa ke Pulau Jampea. Ada penampungan ikan hidup di Perkampungan Air Lompa, Jampea,” kata pria yang rumahnya persis di sisi timur Pulau Pasi’ ini.  Ikan-ikan Napoleon atau langkoe adalah ikan yang jamak dibius. Ikan mahal ini adalah incaran eksportir tujuan Hongkong atau Singapura.

Masa-masa pengembaraan Tison di Laut Flores sebagai pembius ikan berlangsung antara tahun 2004 hingga 2006. Dia mengaku menyelam hingga kedalaman sampai 30 depa atau sekira 35 meter.

“Tugas saya bawa obat bius. Jadi saya pembawa obat saja. Bawakan ke teman. Saya tentu menyelam juga. Satu selang dari atas, kemudian dalam laut bercabang dua, panjangnya 60 meter dibagi dua,” papar Tison.

Praktik penangkapan ikan dengan bius itu menurut Tison sangat berisiko karena seorang penyelam bisa saja mengejar ke laut dalam.

“Setelah kita lihat ada ikan dalam lubang, kita semprotkan cairan potas ke dalam. Ikannya lalu keluar dan kayak pusing tapi tetap bergerak lari,” ujar pria yang mengaku dapat gaji bulanan hingga Rp150 ribu kala itu.

“Pernah dapat paling banyak 450 ribuan,” kenang pria yang mengaku hidungnya sempat mengeluarkan darah ketika pertama kali menyelam kompresor ini.

Pada pengalaman pertama menyelam Tison mengaku sempat takut tapi lama kelamaan jadi terbiasa juga. Tentang ikan hasil biusnya, Tison mengaku dijual ke pengusaha.

“Setahuku asal Hongkong dan perusahaannya ada di Makassar,” kata Tison yang kini tinggal sama kedua orang tuanya bersama ketiga anaknya. Setelah tak lagi membius dan menangkap ikan hiu, pada tahun 2007, Tison sempat ke Jakarta.

“Saya setahun di rumah om sebelum ke Pulau Bangka. Ada juga keluarga di sana yang usaha pengolahan kayu,” katanya.

Terkait pengalamannya sebagai mantan pembius ikan itu, Tison mengaku semakin kuat keinginan berhenti karena risiko dan memang dilarang oleh Pemerintah.

“Jika dulu semangat membius sebab ada beberapa teman sekampung yang ikut kegiatan bius,” katanya seraya menyebutkan nama-nama temannya.

“Teman-teman saya sudah berhenti juga. Ada yang ke Indonesia bagian timur jaga keramba, ada pula yang tinggal di kampung jadi nelayan atau pedagang. Mereka sadar,” sebutnya.

Manfaat ekonomi yang dirasakan Tison tak sebanding dengan risikonya. “Tidak sampai sebulan operasi kami kembali ke kota, kadang dapat uang 10 juta. Itu yang dibagi-bagi. Kalau total paling paling banyak selama membius ikan tidak pernah sampai 20 juta,” katanya lagi.

Di pandangan Tison, lancarnya kegiatan bius ikan di Selayar di tahun 2000-an karena ada suplai bahan bius dari Makassar. “Ada beberapa kapal yang operasi di Selayar, suplai bahan biusnya dari Makassar, itu yang saya tahu kala itu,” ingatnya.

Menurut Tison, saat operasi bius itu, kalau sedang banyak nelayan di satu perairan yang didatangi mereka paling takut pada pembom ikan. “Kami tidak berani turun duluan, jangan sampai kami kena bom saat dalam air,” katanya.

Tison berpesan, ke depan, Pemerintah harus serius menjaga ekosistem laut sebab dengan itu akan memberi harapan tumbuh kembangnya usaha pariwisata sebagaimana digelutinya saat ini sebagai penyedia kapal tumpangan sekaligus pemandu lokasi untuk wisata menyelam, snorkeling hingga pengamatan panorama alam laut Selayar nan indah.

Tertarik berwisata bersama Tison? (KAZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here