Rupiah Melemah, Kabar Baik untuk Bisnis Telur Ikan Terbang?

0
622
Telur ikan terbang (dok: istimewa)

Jakarta, Klanews.id – Hari ini (Senin, 2/7), satu Dollar Amerika setara Rp. 14.208. Pada minggu pertama bulan Mei lalu nilai tukar rupiah terhadap satu dolar Amerika Serikat menapaki angka Rp14.043. Terjadi peningkatan yang signifikan hingga 200 rupiah dalam dua bulan terakhir.

Perubahan tersebut dipicu oleh gejolak nilai tukar rupiah terjadi karena pelaku pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika.

Apa implikasinya bagi ekonomi Sulsel? Apakah ada dampaknya bagi nelayan pencari telur ikan terbang yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Sulsel?

Patut dicatat bahwa Sulsel adalah provinsi penghasil dan pengekspor terbesar telur ikan terbang di Indonesia sejak lama sekira tahun 70-an. Tidak kurang 20 ribu warga setempat terhubung dengan usaha ini. Mulai dari produsen hingga eksportir.

Jumlah ekspor telur ikan terbang dari daerah ini adalah sebesar 20-30% dari jumlah seluruh ekspor telur ikan terbang Indonesia ke negara-negara Asia dan Eropa serta Amerika Serita dan pusat bisnisnya adalah di Takalar, tepatnya di Galesong Raya.

Tidak kurang 20 ribu warga setempat terhubung dengan usaha ini. Mulai dari produsen hingga prosesor sejak tahun 70-an.

Tren harga

Berdasarkan penelusuran data Klanews, diperoleh informasi bahwa ekspor komoditi telur ikan terbang Sulsel pada 2014 sebesar US$ 17.619.816. Volumenya mencapai 893 ton.

Sebelumnya, di tahun 2013 pada periode yang sama nilai sebesar US$ 13.675.500 dengan volume sebanyak 615 ton.

Ada peningkatan nilai sebesar US$ 3.944.316 atau meningkat 28,84 persen yang disertai peningkatan volume sebesar 278 ton atau meningkat 45,20 persen.

Meski demikian, menurut pengalaman, ketika nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar maka pendapatan eksportir tidak serta terdongrak. Pada sisi lain, biaya ekspor telur ikan semakin tinggi.

Pada tahun antara tahun 2013 hingga 2015, harga telur ikan terbang mencapai Rp 300 ribu per kilogram. Namun harganya justeru turun ke angka Rp185 ribu per kilogram.

“Kalau harga Minggu lalu sempat mencapai harga 400 ribu perkilo,” kata Iqbal Abdullah, warga Dusun Lambutoa, Galesong via Whatsapp kepada Klanews, (02/07).

Sementara itu, Irvan, pengusaha yang selama ini mengikuti perkembangan harga menyebut bahwa harga masih belum stabil.

“Harga masih fluktuatif karena suplai atau stok dari nelayan belum banyak. Harga berkisar di antara 350 hingga 450 ribu saat ini,” sebutnya.

Telur ikan terbang Galesong siap diekspor (dok: istimewa)

Menurut peneliti usaha perikanan telur ikan terbang dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Nadir Rasyid, M.Si, fluktuasi harga ini sudah sering terjadi di Galesong.

Faktornya beragam mulai dari kebijakan Pemerintah terkait jaminan kualitas produk hingga kebijakan fiskal internasional dan perilaku pedagang. Bahkan terkait dengan piala dunia.

“Tapi secara umum tinggi karena nilai tukar Rupiah melemah, jadi ini logis saja,” katanya.

Tenaga pengajar pada Jurusan Agribisnis Pertanian Unismuh Makassar ini menambahkan.

“Berdasarkan informasi dari pembeli dan pelaku usaha perikanan ini salah satu alasan membaiknya harga telur ikan ini adalah karena faktor piala dunia. Menurut mereka, permintaan untuk telur ikan terbang dijadikan campuran bahan makanan. Yang kedua faktor karena telur dari Fak-Fak dan sekitarnya belum puncak masuk pasar Makassar,” papar Nadir.

Dia menyebut Piala Dunia di Rusia karena selama ini Rusia adalah satu target ekpor telur ikan dan dijadikan sebagai caviar.

Di Rusia sedang berlangsung piala dunia dan disebut dikunjungi ratusan ribu pelancong. Kebutuhan pangan pasti meningkat.

Armada pencari telur ikan terbang dari Galesong (dok: istimewa)

Ditanya tentang dampak bagi nelayan, Nadir menyebut sangat positif.

“Tentunya sangat positif bagi nelayan karena harga tinggi nelayan setidaknya dapat menutupi ongkos yang dikeluarkan untuk biaya sebelum berangkat. Lebihnya tentunya mereka bagi-bagi bersama sawi-nya untuk dijadikan pendapatan usahatani nelayan telur ikan terbang,” katanya lagi.

Menurut Nadir, harga ini berimplikasi bagus untuk sawi atau nelayan pekerja.

“Saya dengar kabar, sudah ada nelayan patorani yang bagi hasil 7 juta perorang setelah beroperasi beberapa minggu di Perairan Papua Barat,” tambahnya.

Terkait fluktuasi harga tersebut, Nadir menyebut karena diintervensi juga oleh ulah pedagang dan ketidakpercayaan nelayan pada kemampuannya.

“Biasanya ulah pedagang pengumpul juga yang memainkan harga. Karena faktor banyaknya bahan baku telur ikan terbang dan tidak adanya lembaga semisal koperasi yang bisa menampung telur ikan terbang,” sebut Nadir.

“Biasanya kalau telur banyak dari Papua Barat (Fak Fak, Kaimana), harga akan anjlok,” sebutnya.

“Mekanisme ekspor produk perikanan sudah standar, jadi jika rupiah melemah maka produk perikanan seharusnya tinggi. Yang masih perlu diperkuat adalah daya tawar nelayan kita. Posisi tawar mereka rendah belum lagi ada rasa takut kalau tidak dijual akan rusak telur ikannya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here