Lagi, Kecelakaan Kapal Penumpang di Perairan Selayar

0
155
KMP Lestari Maju saat karam (dok: istimewa)

Selayar, Klanews.id – Kecelakaan laut lagi. Masih dari Sulawesi Selatan. Setelah puluhan korban jiwa yang meregang nyawa di perairan Makassar jelang Ramadan lalu, kali ini di perairan Selayar di ujung selatan Sulawesi Selatan.

Sebanyak 139 penumpang dikabarkan berada di ferry oleng yang datang dari pelabuhan Bira tujuan Selayar.

Sebuah rilis dari BMKG menyebutkan bahwa pada 3 Juli 2018, sekitar pukul 12.30 Wita, di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, telah terjadi kecelakaan kapal motor penyebrangan fery KM Lestari Maju.

Kementerian Perhubungan cq. Ditjen Perhubungan Laut membenarkan telah terjadi kecelakaan laut yang menimpa kapal penyeberangan KM. Lestari Maju yang tenggelam di perairan Selayar Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan pada Selasa (3/7) pukul 14.30 WITA.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Bulukumba, Zainuddin mengatakan bahwa Kapal KM. Lestari Maju sedang berlayar menuju Kab. Selayar yang diindikasikan kemasukan air akibat cuaca buruk.

Disebutkan bahwa sebelumnya, pukul 10.00 wita, KMP Lestari maju berangkat dari pelabuhan Bira.

Lalu pada pukul 13.40 Wita mengalami masalah air masuk ke dek lantai bawah  di tengah laut sehingga KMP Lestari Maju merapat ke pantai Pabbadilang Desa Bungayya, Selayar

Kapal bertonase GT. 1.519 dan dinakhodai oleh Agus Susanto dan membawa kendaraan roda dua dan empat termasuk bus sebanyak 48 unit. Total penumpang 139 orang.

Hingga berita ini dinaikkan, tersebut 7 orang dikabarkan meninggal dunia, di antaranya seorang supir bus, seorang ibu dan dua orang anak kecil. Ada yang meninggal karena tertimpa mobil..

Kapal ini di bawah kendali otoritas Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (ASDP) Bira-Pamatata Selayar Kementerian Perhubungan. Rute tersebut membutuhakn rerata dua jam untuk sampai di dermaga tujuan.

Suadana di lokadi kejadian (dok: istimewa)

Sembari menunggu update dari otoritas terkait, pengamat perhubungan laut Dr. Isradi Zainal mengatakan bahwa dalam waktu 2 bulan terjadi kecelakaan dan belum membuat pihak berwenang sadar kalau sistem manajemen keselamatan transportasi laut kita rapuh.

“Ini kontradiktif dengan konsep tol laut,” katanya.

Sementara itu ketua Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Universitas Hasanuddin, Darwis Ismail menyayangkan mengapa pengecekan kapal terkesan tidak dilakukan berdasarkan tidak adanya gambar atau keterangan tentang ketersediaan sekoci atau perahu bantu.

“Setidaknya memastikan ketersediaan sekoci atau perahu penolong darurat/ Lagian kan ada radio, jadi ketika ada indikasi kebocoran harusnya unit-unit penolong segera datang,” katanya via Klanews.

Darwis meminta otoritas terkait untuk tidak lepas tangan dan menyalahkan cuaca.

“Ini sangat mendasar sebab berkaitan dengan kelaikan dan prosedur, apalagi pernah disebutkan bahwa belum lama ini kapal tersebut telah penah naik dok untuk perawatan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here