Saran Prof Otto Scharmer dan Langkah Nyata Karaeng Patoto

Proses yang disarankan Otto melalui Teori U itu adalah mengakses pengetahuan dalam dengan mengamati. Mulailah mendengarkan, merekonstruksi pengetahuan baru dengan melibatkan hati, empati. Lalu melakukan tindakan.

0
86
Karaeng Toto, dari kanan (foto: wartasulel.net)

Jakarta, Klanews.id – Sedari 2013-2015, selama hampir tiga tahun, bersama beberapa kawan di Yayasan COMMIT Makassar kami belajar dan mempraktikkan apa yang disarankan oleh Prof Otto Scharmer, guru besar di MIT Sloan School of Management Amerika Serikat sebagai tindakan ‘Teori U’, sebuah metodologi menawarkan perubahan.

***

Dalam bukunya yang berjudul ‘Theory U: Leading from the Future as It Emerges’ sebagaimana yang acap kami gamit dari bandara ke bandara, kami mencatat apa yang disebut sebagai Presencing yaitu kombinasi kata presence (kehadiran) dan sensing (penginderaan) sebagai ruas menuju aplikasi perubahan kapasitas.

Menurut Otto, presencing adalah keadaan ‘supertinggi’ yang memungkinkan kita, individu dan organisasi mengubah interior sisi dalam (diri). Ketika upaya perubahan ini menggeliat, seseorang atau organisasi mampu menghadirkan ruang masa depan.

Hakikat kepemimpinan menurut Teori U adalah kemampuan kita dalam memfasilitasi perubahan sisi dalam diri atau organisasi demi mengungkap dan menangkap masa depan, mengeksplorasi dan mengutak-atiknya dengan penuh kreativitas.

Ada beberapa istilah yang kami kerap sampaikan ketika misalnya, memfasilitasi pelatihan untuk para staf SKDP dan Badan di Kabupaten Kepulauan Wakatobi di antara tahun 2014-2015.

Semisal, apa itu visi misi, apa itu kapasitas, apa itu tantangan dan panggilan bersama terhadap isu sekitar yang mengganggu jiwa dan raga, dimensi perencanaan, isu perubahan iklim, kelaparan, kemiskinan, kekerasan hingga terorisme termasuk potensi yang tersedia.

Di ujung sesi kami menjadi retoris. Mengapa kita diam saja ketika semesta memaparkan ketidakadilan dan memanggil-panggil?

Pesan Otto sebagaimana yang acap kami diskusikan dan elaborasi dengan para mitra di Wakatobi waktu itu adalah kita semua memang harus terpanggil untuk mulai memikirkan kesadaran baru dan kepemimpinan yang baru untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.

“Kerja, kerja, kerja, from ego to eco,” begitu kata Hugua, sosok yang sering mempromosikan teori U ini.

Bersama Otto, kami mendengar istilah berkaitan leadership yaitu area “Blind Spot”. Mengapa kita terjebak dalam begitu banyak lubang persoalan hingga detik ini?

Jawaban sementaranya, karena kita buta pada dimensi kepemimpinan dan pentingnya perubahan transformasional yang lebih dalam dan personal.

Kebanyakan pemimpin tidak bisa mengenali, apalagi mengubah, bagaimana struktur kebiasaan organisasi memperhatikan sesuatu. Mereka enggan mendengar dan menyimak dengan pikiran, hati dan jiwa.

Dia menyarankan bagi sesiapa yang mau mendorong perubahan dan menghadirkan masa depan itu dengan mulai banyak mendengarkan, membaca fakta, empati, perhatian dan melahirkan kesadaran yang dalam. Baginya, jika ingin menjadi pemimpin efektif, kita harus memahami medan, atau batin, dari tempat kita beroperasi.

Di teori U dijelaskan empat “field structures of attention”. Tentang sistem, struktur hingga attention. Jadi, perbedaan struktur mempengaruhi bukan hanya cara kita mendengarkan tapi juga bagaimana anggota kelompok berkomunikasi dan membentuk keadaan baru.

Proses yang disarankan Otto melalui Teori U itu adalah mengakses pengetahuan dalam dengan mengamati. Mulailah mendengarkan, merekonstruksi pengetahuan baru dengan melibatkan hati, empati. Lalu melakukan tindakan.

Sebaik-baik perubahan, menurut Otto adalah yang dimulai dengan membangun niat umum.

Maka, datanglah dan dengarkan orang lain. Mulai dari apa yang bisa dilakukan dan berguna untuk semua. Setelah itu rasakan bersama, resapi makna dan kemuliaan dengan melakukan upaya menuju perubahan atas nama kebersamaan itu.

***

Membaca Otto dan mengenang pengalaman wara-wiri di Wakatobi di antara tahun 2012-2015 dipicu oleh sebuah undangan dari Prof. Aminuddin Salle, akademisi Universitas Hasanuddin.

Sosok yang kami sebut ‘tetta atau ayah’ ini mengirimkan undangan peresmian ‘Balla Barakka’ di Galesong, Takalar, 1 Juli 2018.

Balla Barakka adalah salah satu program dari Yayasan Aminuddin Salle yang selama ini dikenal banyak memfasilitasi kerja-kerja sosial, kebudayaan dan ekonomi warga.  Dia adalah bagian dari trah Karaeng di Galesong yang juga aktif mendorong eksistensi generasi raja-raja Nusantara.

Karaeng Patoto mematik gagasan untuk membangun Balla Barakka yang diharapkan dapat menjadi rumah bersama, siapapun dalam mendorong kesejahteraan di Galesong Raya dan sekitarnya.

Tak hanya itu, di area kompleks akan dibangun masjid bernama Masjid Al Amin. Letaknya di Dusun Tabbuncini, Desa Galesong Kota, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar.

Di peletakan batu pertama masjid yang dihadiri Bupati Takalar Syamsari Kitta, diberikan pula bantuan alat tulis menulis kepada anak-anak usia sekolah sebagai penanda atensi Karaeng Patoto pada bidang pendidikan.

Momen itu menjadi istimewa karena ada pula MoU antara Pemerintah Kabupaten Takalar dengan Yayasan Aminuddin Salle untuk memperkuat bidang Sosial, Pendidikan, Budaya dan Pariwisata di Takalar.

Sebagai akademisi yang telah berderma pengetahuan selama berpuluh-puluh tahun, Karaeng Patoto menunjukkan kepada kita tentang semangat mendorong perubahan, di manapun dan siapapun kita. Karena sesungguhnya setiap orang adalah pemimpin, paling tidak untuk dirinya.

Karaeng Patoto membuktikan apa yang disebut oleh Prof Otto Scharmer sebagai ‘co-initiating’ yaitu memulai bersama dari organisasi atau entitas yang ada, dari kampung halaman misalnya.

Itu terlakasana karena kombinasi ‘presensing’, karena kesadaran dan kehadiran Karaeng Patoto di relung realitas dan isu yang menarik empatinya, di Galesong Raya, titik yang menjadi awal tumbuh kembangnya sekaligus wahana yang dipahaminya karena dia membaca ‘sensing’.

“Kita perlu mengingatkan semua pihak tentang ancaman sampah yang mengotori sungai,” katanya pada suatu ketika.

Dan untuk itu, dia menggugah sekitar dengan memoles sebuah jembatan yang menghubungkan dua sempadan sungai dengan warna-warni semangat. Merah, kuning, hijau, dan lain sebagainya.

Ke depan, sebagai bagian dari denyut kehidupan di Galesong Raya yang lahir dan besar di sana, saya membayangkan suatu waktu Balla Barakka akan menjadi rumah yang memediasi penemuan asal muasal mengapa sampah bisa berserakan sebegitu rupa di anak-anak sungai, di muara dan di tepi pantai di Galesong Raya.

Dari rumah itu lahir solusi dan kerja nyata.

Kerja yang menurut Otto sebagai kombinasi antara pikiran yang terbuka (open mind), hati yang terbuka (open heart) dan tangan terbuka (open hand), tangan yang merengkuh untuk sama-sama bekerja tanpa mengumpat atau menyalahkan satu sama lain.

***

Jika ini berjalan, tidak ada lagi orang bermalas-malasan dan hanya menyesali masa lalu, tetapi menghadirkan masa depan dengan tolong menolong dan mengingatkan ‘appakainga’ terutama di sekitar Balla Barakka.

Secara sederhana, gagasan Balla Barakkaka yang dimanifestasikan oleh Karaeng Toto, Guru Besar Hukum Perdata Universitas Hasanuddin ini adalah juga keinginan banyak orang-orang terpelajar, terdidik, berpengetahuan terhadap kampung halaman.

Banyak yang ingin tetapi tidak banyak yang mau menghijrahkan sumberdaya, kesempatan dan tenaganya untuk ‘menjadi’.

Pada situasi ini, Karaeng Toto tampil beda, dia membuktikan bahwa bukan hanya pengetahuan, keterampilan atau berpredikat haji yang menjadi muara tetapi pengabdian. Usia tak soal.

Kerja nyata yang oleh Prof Otto Scharmer disebut sebagai memanfaatkan peluang (opportunity) sebagai ‘the most important thing rather than level of education’.

“Buat apa sekolah tinggi, terampil atau rajin ibadah kalau tidak bisa berbagi untuk sekitar?” begitu kikira pesan Otto.

“Hablumminannas!”

Karaeng Patoto, melalui Balla Barakka tentu tak bisa jalan tanpa dukungan banyak pihak, kita semua masyarakat Galesong dan semesta Takalar. Betul tidak? (Kamaruddin Azis)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here