Losari dan Celana Dalam untuk Daeng Beta

Tentang sebentang pantai dan cerita-cerita yang pantas dikenang.

0
200
Losari nun lampau (dok: istimewa)

Jakarta, Klanews.id. Ini tentang pengalaman seorang warga Makassar di suatu masa ketika para pemodal belum dilahirkan rezim. Kala itu, Daeng Beta, (69) terlihat menusuk gelas-gelas plastik yang berserak di tepi pantai Losari dengan stik besi. Ujungnya mengkilap, batangnya berkarat.

Matahari mulai meninggi di atas Kios Semarang, waktu sekira jam 09 pagi, pada suatu hari di September berangin.

“Kabbulampe, saluara’ lalang baine,” umpat Beta ketika dilihatnya selembar pakaian dalam warna ungu mengapung di depan matanya.

Riak dan lidah air mempermainkan obyek yang tak dikehendaki pria yang tinggal di sekitar Lelong Rajawali itu.

Meski terganggu oleh celana itu, Beta pulang ke Rajawali dengan memanggul tidak kurang 20 kilo benda plastik dan beberapa sepatu bekas. Terasa berat sebab digandoli pula dua speaker bermagnit yang diserahkan oleh panitia masjid di sekitar Losari.

Indra penciuman Beta tak lagi paripurna. Disebut demikian sebab menurutnya semua yang ada di depannya sungguhlah beraroma anyir.

Bagi Beta, semua yang diciumnya selalu menuntunnya ke suasana Pantai Losari yang penuh sampah dan air laut yang sungguh berbau.

Cerita yang lazim untuk kota-kota seperti Makassar bukan?

***

Pantai sepanjang 1 kilometer itu diberi nama Losari. Awalnya disebut mempunyai panjang 2 kilo tetapi setelah dibangun rumah, hotel dan toko pakaian, berkurang hingga 500 meter.

Itupun dibuat berundak dan berbayar. Banyak warga terantuk saat malam, juga tak ikhlas saat buka dompet.

Losari menjadi titik teramai di Makassar, letaknya di antara Tanjung Bunga yang sekarang dijejali rumah-rumah mewah dan Jambatang Bassia yang merupakan rumah terbuka bagi kaum penikmat malam dan keringat pagi.

Di Losari, berdiri rumah Walikota yang lebih banyak sepinya jika dibanding anjungan yang dibikinnya sendiri.

Losari adalah sebuah kota kecil dalam Kota Makassar yang sangat sibuk dengan perayaan-perayaan, pesta, hiburan musik, juga percekcokan, misalnya terkait karcis masuk dan perilaku preman kambuhan.

Losari sebelum diguyur pemodal (dok: istimewa)

Di Losari kita bisa melihat rumah makan, rumah hiburan dan rumah sakit secara bersamaan. Mereka saling mengintai, melalui suara dan juga sumpah serapah bagi yang sakit namun dihibur dengan dentuman musik dan yel-yel.

Satu dekade lalu, Losari adalah warung makan terpanjang di Makassar. Semua tumpah ruah di situ.

Pada saat itu, warga kota, dari Gowa, Takalar, Maros hingga yang dari pulau seberang hanya mengenal Losari sebagai pisang epe dan lumuran gula merah di sekujur pisang gosong.

Bahkan pada beberapa dekade sebelumnya lagi, Losari (bersama Kayu Bangkoa) adalah juga persinggahan nelayan-nelayan sampan, yang dari Lelong Rajawali atau warga Lae-Lae dan sekitarnya yang hendak mendaratkan anaknya saat hari sekolah.

Kala itu, kita masih bisa melihat anak-anak berenang di tepi laut, riang gembira dan mencari anak-anak ikan di sela batu. Tapi Losari, saat ini telah sangat tercemar dan bau busuk menyengat dari moncong-moncong kanal hunian orang-orang dan instansi.

Saat ini, kita mencium bau busuk tapi orang tetap saja datang.

Tak berenang tapi main bebek-bebek.

Orang-orang seperti terbiasa meski bau yang didapati lebih buruk dari bau pelelangan ikan sebab bercampur residu rumah, hotel dan bahkan rumah sakit.

Di Losari, pada musim barat, tumpukan sampah memadati tepiannya. memberi kesan bahwa Losari telah tercemar dari laut dan daratan.

Kotoran ada di mana-mana. Di darat dan laut, namun itu yang ditunggu-tunggu Daeng Beta.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here