Perihal Pintu dan Kuda Terbang Bugis

0
257
Kuda Terbang Bugis (dok: Biritish Library)

Jakarta, Klanews.id – Kamaruddin Azis, kontributor Klanews, membagikan pandangannya tentang realitas dan ekspektasi beberapa sahabatnya tentang benda atau produk kebudayaan lampau dari bumi Nusantara. Dia tertarik setelah seorang sahabatnya mengirimkan tautan manuskrip yang bercerita gambar kuda terbang Bugis. Berikut ulasannya.

***

Naskah terkait ‘kuda terbang Bugis’ itu merujuk ke sumber gambar tahun antara 1780 hingga 1800 – berpuluh tahun setelah takluknya Kerajaan Gowa-Tallo di bawah moncong meriam Jenderal Speelman, 1669. Naskah dicuplik dari diari sosok bernama Muhammad Ramadan, Maqdanrang atau sekretaris pribadi sekaligus paman dari Raja Bone, Sultan Ahmad al Salih Syamsuddin (1775-1812).

Bone adalah kerajaan terpandang di timur kaki Pulau Sulawesi yang menghadap ke Teluk Bone dan Laut Banda. Sementara Gowa-Tallo yang mahsyur menghadap ke Selat Makassar dan Laut Jawa.

Annabel, nama kurator pada ‘Library British’ untuk studi urusan Asia dan Afrika. Dengan temuannya itu saya kini memfollow-nya di twitter. Ada apresiasi yang luhur di balik artikel dan pembagian gambar kuda terbang itu dari kurator itu.

Dia tertarik memeriksa gambar itu terutama pada penggunaan warna hijau di latarnya, pada batu atau hamparan padang. Menurutnya, itu senada dengan warna hijau pada bukit hijau gambar Mansyur Naqqash, pada memoirs of the Mughal Emperor Babur, 1590-93.

Demikian pula pada gambar badak yang ditikam oleh searang pemburu di gambar Firadwsi, India Utara, 1719.

Bagi Annabel gambar kuda terbang dan pilihan warna hijau muda itu bertautan dan merupakan alur yang sebangun dan senapas. Sungguh istimewa sebagai manifestasi ketinggian skill atau kemampuan pewarnaan dari orang Bugis.

Itu, menurut Annabel, nampak pula pada penulisan naskah Alquran yang pernah ditulis sebelumnya yang menyerap unsur warna hijau yang digunakan di belahan dunia jauh dari Sulawesi.

Tapi itu hanya pengantar tulisan ini. Saya ingin mengangkat beberapa realitas dan ekspektasi para sahabat yang mungkin bisa dipertimbangkan atau digelorakan.

Marco Kusumawijaya, mantan ketua Dewan Kesenian Jakarta, seorang sahabat yang nampaknya sedang di Bangkok itu, menyatakan di ciutannya apakah ‘karya kebudayaan (kuda terbang) itu sebaiknya direpatriasi? Signifikansinya besar sekali. Ini bisa menginspirasi budaya lokal untuk berkembang lebih jauh.’

Nun jauh di Banda Neira, Maluku, masih di pagi ini (07/07), sahabat saya Reza Tuasikal terpikat pada pintu bangunan-bangunan tua di sana.

Properti Banda Neira (dok: Kamaruddin Azis)

Pada ragam pintu tua peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh meski menurutnya perlu segera dilindungi.

Reza menuliskan ekspektasinya di wall FB-nya. Saya membayangkan aksen dan eye contact-nya ketika berbicara dengan lawan bicara yang sangat bersahabat.

“The doors. Saat ini masih cukup banyak pintu kayu jati tua yang masih bisa dilihat di Banda, namun perlahan mulai berkurang,” tulis sosok pelaku wisata di Banda Neira ini.

“Sama seperti bangunan-bangunan ataupun tembok tua yang masih tersisa. Rasanya perlu ada Perda yang mengatur tentang klassfikasi bangunan yang harus dijaga dan direstorasi agar keunikan Banda bisa terjaga,” tambahnya.

Di Makassar, Anwar Jimpe Rahman, kawan saya yang banyak bekerja di urusan literasi Ininnawa dan mendorong lahirnya ide kreatif kaum muda di Makassar menanggapi Marco terkait kuda terbang dan ide repatriasi itu.

“Banyak syarat yang kita perlukan bila memmulangkan (karya atau manuskrip itu), misalnya, terkait perawatan,” tulisnya.

“Saya masuk Badan Arsip akhir dekade 2000-am di Makassar, saya lihat mikrofilm jamuran dan sulit akses karena tidak stabil suhu ruang,” sebutnya.

Hemat Jimpe, arsip yang lebih awet bisa tersebar luas. Maksudnya, arsip-arsip seharusnya bisa diakses meskipun melalui dunia maya.

Repatriasi

Saya tertarik pada penggunaan diksi ‘repatriate’ yang dicuitkan Marco itu.

Repatriasi sejatinya adalah kembalinya suatu warga negara dari negara asing yang pernah menjadi tempat tinggal menuju tanah asal kewarganegaraannya. Kata ini adalah gabungan dari awalan re- (“kembali”) dan patria (“tanah asal”).

Marco bisa saja berpikiran untuk meminta kembali naskah itu masuk ke pangkuan, tetapi saya membacanya sebagai ajakan untuk merevitalisasi atau menghidupkan kembali karya-karya agung dan sarat pengetahuan itu dengan kerja bersama, dukung mendukung di antara multi aktor.

Sebagaimana saran Reza atau kehati-hatian a la Jimpe, jika ingin mengelola properti karya kebudayaan Nusantara seperti ragam pintu dan bangunan tua di Banda Neira, semua pihak harus komit, nyata, terukur dalam menjaga khazanah kebudayaan itu.

Saya kira, ke depan, memang diperlukan kesungguhan, komitmen, kerja nyata untuk merawat dan menyebarluaskan pesan produk kebudayaan yang bernilai luhur itu. Tidak bisa menjadi milik pribadi atau dikerangkeng dalam birokrasi yang menyiksa.

Siapapun, pengambil kebijakan, perencana pembanguan, peneliti, aktivis sosial, pemerhati lingkungan, atau masyarakat luas harus bangga dan menjaganya.

***

Saya membayangkan kawasan seperti Banda Neira menjadi semacam ‘cagar kebudayaan’ yang dikelola dengan sentuhan modern tapi tidak mengurangi substansi dan keaslian benda-benda unik dan penting itu.

Pintu, pagar, jendela, kubah masjid, lonceng hingga cacatan di kaca tawanan asal Perancis di salah satu bangunan tua di Neira.

Sebagai yang pernah mengunjungi Banda Neira, saya melihat harapan itu ada. Harapan agar Pemerintah menjaga properti agung di lokasi-lokasi bersejarah Nusantara, semisal Makassar, Bone, Jakarta, Banda Aceh, Semarang, Surabaya hingga Banda Neira.

Repatriasi semangat, calling back the spirit, rekreasi kebudayaan berdimensi pesan lelulur sudah saatnya digetarkan, tak lagi diwacanakan, kenapa tidak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here