Kisah Evakuasi 13 Anak yang Terjebak di Gua Thailand

Suasana penyelamatan 13 orang yang terjebak di gua tergenang di Thailand.

0
239
Infografis suasana gua dan rencana penyelamatan (dok: istimewa)

Jakarta, Klanews.id – Saman Gunan, penyelam AL Thailand, telah mengorbankan dirinya untuk memastikan anak-anak itu dapat oksigen yang cukup sebelum diselamatkan. Kau akan selalu dikenang. Itulah salah satu ucapan netizen atas meninggalnya anggota tim yang ikut misi penyelamatan 12 anak-anak dan seorang pelatih sepakbola di Thailand.

Dramatis. Tragis. Mendebarkan namun juga menawarkan hikmah. Itu terkait dengan kabar yang datang dari Thailand minggu ini. Di twitter, hastag #ThaiCaveRescue menjadi pemandu bagaimana kabar duka ini tersebar.

Kabar memiriskan ketika sebagian warga dunia euforia atas kemenangan Perancis, Inggris, Belgia dan Kroasia menuju babak semifinal di ajang Piala Dunia sepakbola di Rusia.

Bagaimana tidak, satu tim sepakbola yang terdiri dari anak-anak usia 8 hingga 12 tahun bersama pelatihnya terjebak di gua. Jalur yang mereka lewati terendam air setelah hujan yang deras. Butuh pertolongan luar biasa untuk mereka bisa kembali dengan selamat.

***

Semua bermula di 23 Juni lalu.

Pada hari itu, di Rusia, ketika Jerman dan Korea berjibaku untuk melenggangg ke babak berikutnya di Thailand, 12 anggota klub sepakbola ‘Wild Boars’ membawa misi unik masuk ke gua di bawah Gunung Doi Nang Non di Provinsi Chiang Rai.

Mereka masuk via gua Tham Luang dan menyusuri gua hingga sampai di jarak 2 kilometer lebih persis di bawah Pantai Pattaya nan eksotik.

Mereka tak menyangka bahwa jalur gua yang mereka lalui, merangkak, naik, jalani hingga tiba di titik 2 kilometer lebih telah terendam air keruh.

Ketika saat sampai di titik itu, air hujan yang turun menggenangi gua, sebagian terendam, sebagian lainnya tidak, pada yang lebih tinggi dan pada titik inilah mereka menunggu hujan reda, menanti air kering. Tapi tidak, butuh berbulan-bulan untuk air bisa reda, itupun kalau hujan tidak lagi turun.

“Mereka bisa sampai 4 bulan di sana jika tak diberi pertolongan,” kata otoritas di Thailand.

Anak-anak korban, pelatih (dok: istimewa)

Sembari menanti pertolongan, di tengah penantian itu, Ekapol Chanthawong (25) mereka memberi tuntunan dan ketenangan anak-anak muda itu. Bekal sebagai penjaga biksu dan kemampuan meditasi yang kuat membuat mereka bisa bertahan hingga operasi penyelamatan dimulai.

Jika melihat peta lokasi dan model dalam gua jelas sekali bahwa itu kondisi ekstrem, butuh keberanian dan pengalaman untuk bisa mengeluarkan mereka. Pada beberapa video yang diunggah di twitter terlihat penyelaman dan suasana gua yang sangat sempit. Butuh keahlian dan ketenangan saat melintas.

Pertolongan diputuskan untuk segera diberikan setelah komandan Angkatan Laut Thailand ikut bicara.

Dengan jarak tempuh 2 kilometer lebih, jelas bahwa gua ini penuh risiko. Selain faktor kelelahan karena merangkak, mereka juga harus berenang dan menyelam.

Mereka harus melewati cekungan, visibiliti buruk dan tentu saja kemampuan bernapas dari anak-anak yang sebagian besar tidak bisa berenang.

Salah seorang anggota tentara angkatan laut Thailand bernama Saman Gunan yang membawakan mereka alat bantu pernapasan dilaporkan meninggal karena kesulitan pernapasan.

***

Minggu kemarin, sekitar pukul 10.00 waktu lokal, tim penyelam beranggotakan 13 tim internasional dan 5 anggota Angkatan Laut Kerajaan Thailand yang dipimpin oleh John Volanthen, telah menyelam ke jaringan gua bawah tanah yang dipenuhi air di bawah Gunung Mae Sai, Provinsi Chiang Rai.

John bersama Rick Stanton, keduanya asal Inggris disebut sebagai yang pertama menemukan anak-anak tersebut. Keduanya saat ini ikut memimpin operasi penyelamatan itu.

Untuk menjangkau anak-anak itu, penyelam harus mampu atau berhasil menavigasi jaringan terowongan sempit yang luas.

Mereka menerapkan ‘buddy system‘ di mana setiap penyelam dipasangkan dengan seorang anak dan tangki oksigen disiapkan di sepanjang rute layaknya bagi penyelam profesional atau yang berpengalaman memberi pertolongan.

Peralatan medis dan wadah oksigen telah disiagakan di pintu gua.

Tantangan dan inspirasi

Tantangan yang dihadapi adalah hujan yang bisa saja datang dengan deras dan menambah volume air dalam gua. Sehingga bukan saja teknis penyelaman tetapi juga pengendalian agar air tidak bertambah. Dikabarkan bahwa pompa pengisap yang disiapkan tidak bisa diandalkan lagi.

Selama masa penyelaman, pujian untuk pelatih sepakbola Ekapol berdatangan meski ada juga yang menyesalkan.

Misalnya, ada yang menyatakan kekagumannya; pelatih itu masih muda, sayangnya sebuah misi berbalik menjadi prahara sebagaimana yang jamak terjadi di kehidupan.

“Dia harusnya disebut pahlawan karena melindungi anak-anak itu. Membuat mereka tenang dan tetap hidup selama 2 minggu tanpa bantuan tanpa bekal makanan.”

“Pelatih itu telah melakukan hal terbesar dalam hidupnya. Dia memainkan peran penting menjaga anak-aak itu hidup dan tenang meski tanpa makanan dan cahaya.”

“Pelatih yang pernah bekerja di kuil ini tetap tenang karena bekal meditasi dan kemampuan menghemat energi,” kata netizen.

Hingga kini, saat postingan ini naik, dilaporkan 4 orang telah diselamatkan setelah melalui medan berat itu.

Seorang netizen bernama Ted Lieu menyatakan bahwa butuh waktu seminggu untuk bisa dapat sertifikat penyelaman, dan paling lama hanya bisa menyelam sejam tetapi anak-anak itu bisa bertahan dalam air selama 3 jam.

Masih ada kekhawatiran untuk beberapa anak-anak yang lain.

Tim penyelamat berniat mengajari bocah-bocah itu dan pelatihnya untuk menyelam dengan peralatan penuh. Namun upaya ini terdesak oleh waktu yang terbatas, mengingat hujan deras terus mengguyur dan gua bisa semakin terendam air.

Ketua tim operasi penyelamatan lainnya asal Thailand, Narongsak Osottanakorn, menyatakan ‘tidak cocok’ untuk membuat bocah-bocah itu menyelam keluar.

Situasi ini semakin mengkhwatirkan sejak berita meninggalnya penyelam handal, Saman Gunan yang tewas karena kehabisan oksigen, saat menyelam keluar gua.

Harapan tetap ada, syaratnya, sebagaimana saran para penyelam profesional, panik adalah persoalan, ketenangan adalah tantangannya.

Yang menyentuh dari musibah ini adalah daya tahan anak-anak itu.

“Jangan khawatir, kami semua kuat”,” demikian pesan mereka setelah kru penyelam berhasil menemui mereka.

Mereka juga minta dibawakan ayam goreng, selera humor mereka tak redup. “Guru, jangan beri kami banyak PR!,” itu pesan mereka yang lain.

Oh! (KAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here