Membincang Lawi-Lawi dan ‘Spirulina’ Sebagai Alternatif Ekonomi Baru

0
210
Lawi-lawi (dok: istimewa)

Jakarta, Klanews.id – Esok (11/7), Alun Alun Indonesia, sebuah wahana yang giat mempromosikan keunggulan produk dan khazanah Indonesia di Jakarta akan menggelar seminar Lawi-Lawi dan Spirulina Indonesia di Indonesia.

Kedua produk alga laut tersebut disebut sangat potensial untuk mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga pesisir di Indonesia. Sebagai alternatif selain rumput laut agar-agar.

Menurut informasi yang diperoleh Klanews.id, seminar akan berlangsung pada Rabu, 11 Juli 2018, di Restoran Palalada, di Grand Indonesia, West Mall Lantai 3.

Kadek Lila Antara dari PT Bulung Bali dan Ganjar saefurahman, M.Phil dari Izzati alage akan menjadi pembicara. Keduanya mempunyai pengalaman dalam mempromosikan budidaya alga sebagai alternatif ekonomi.

Selama ini terdapat indikasi bahawa produksi rumput laut nasional dalam kurun 2011–2015 menunjukkan tren kenaikan positif. Pertumbuhannya mencapai 22,2 persen.

Dalam tahun 2015, volume produksi rumput laut nasional sekitar 11,2 juta ton dengan nilai Rp 13,2 triliun. Ini naik naik 9,8 persen dari volume produksi tahun sebelumnya sebanyak 10,2 juta ton.

Terdapat lebih dari 550 jenis rumput laut potensial ada di perairan Indonesia meski hanya 5 jenis rumput laut bernilai ekonomis tinggi yang baru dibudidayakan secara massal, yakni Eucheuma cottoni, Gracilaria sp, Spinosum sp, Halymenia sp, dan Caulerpa sp.

Nah, terkait Caulerpa sp. alias lawi-lawi, produk ini telah dikembangkan dengan baik di Sulawesi Selatan bahkan sudah diekspor.

Selama ini Lawi-lawi telah dikirim ke Jepang. Kebutuhan ekspor lawi-lawi minimal 500 kilogram per bulan.

Bukan hanya Jepang, negara seperti Cina, Korea Selatan, dan Filipina juga mulai mengincar rumput laut yang juga disebut anggur laut itu.

Menurut pantauan Klanews.id, harga lawi-lawi basah berkisar antara Rp 100 ribu- Rp 200 ribu per karung tergantung kualitasnya. Seorang pembudidaya bisa mendapat Rp 10-15 juta per bulan dari lahan tambak yang dimilikinya.

Menurut Veda Santiaji, aktivis kelautan, konsumen di Jepang menunggu produk Lawi-lawi Indonesia. Wisatawan di Bali menyukainya dan mengorder menu ocean salad ini.

Dari Veda pula diperoleh informasi mengenai seminar ini. Temanya menyasar upaya mengembangkan produk kekayaan laut Nusantara dan merupakan kerjasama Alun Alun Indonesia, BRI, Yayasan Mutiara Laut Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Nah bagi yang ingin mengetahui dimensi ekologi, ekonomi dan bagaimana peran serta masyarakat dalam mengembangkan produk ini, yuk, ikuti seminarnya. (KAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here