Iskindo: Negara Maritim tapi Ranah Selam Dikendalikan Asing

0
29
Belajar selam di klub selama MSDC Unhas(foto istimewa)

Jakarta, Klanews.id – Indonesia masih mengalami hambatan dalam mengoptimalkan pemanfaatan laut melalui pengembangan jasa kelautan. Hal itu disebabkan kegiatan selam dan bidang pekerjaan komersil bawah  laut masih dikendalikan asing.

Pemerintah belum mengatur regulasi tentang bidang pekerjaan komersil bawah laut serta layanan selam untuk pariwisata. Akibatnya, bisnis dan kegiatan tersebut dilakukan oleh pihak asing melalui asosiasi dan lembaga sertfikasi asing yang berbisnis di Indonesia.

Praktik tersebut sudah berlangsung lama dan merugikan negara. Mesti ada upaya serius dari pemerintah dan stakeholder kelautan untuk membenahi masalah ini.

Ketua Harian Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO), Moh Abdi Suhufan mengatakan bahwa dominasi asing dalam dunia selam di Indonesia telah menimbulkan ketergantungan dan menyebabkan kerugian negara.

“Akibat kegiatan selam yang dikuasai asing, kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun karena kegiatan tersebut dilakukan secara illegal dengan tidak membayar pajak pada negara,” kata Abdi.

Kegiatan selam tersebut meliputi layanan kepariwisataan dan bidang pekerjaan komersil seperti survey bawah laut yang sertifikasinya dikeluarkan oleh asosiasi dan lembaga asing yang melakukan bisnis di Indonesia.

Saat ini, ada sekitar 8-10 lembaga asing yang beroperasi di Indonesia dari negara Amerika, Jepang, Canada dan Inggris.

Untuk bidang kepariwisataan layanan selam, pasar mereka meliputi sertifikasi dive centre yang melakukan usaha selam, sertfikasi untuk instruktur selam dan sertifikasi dive master. Ada juga jenis sertfikasi lain seperti survey bawah laut, pengelasan bawah laut, perpipaan dan pekerjaan di sektor migas.

“Untuk setiap dive centre mesti membayar Rp 30-40 juta, saat ini ada sekitar 800 dive center di Indonesia,” kata Abdi.

Hal ini ditambah dengan semakin meningkatnya kebutuhan tenaga selam professional yang jumlahnya mencapai ratusan orang pertahun.

Akibat praktik ini, pertumbuhan tenaga selam di Indonesia tergolong lambat karena mahalnya biaya untuk mendapatkan sertifikasi selam. Hal ini berbanding terbalik dengan keinginan pemerintah untuk mendorong perkembangan pariwisata khususnya wisata bahari.

Sementara itu, Ketua Bidang Sertifikasi Profesi Kelautan DPP ISKINDO, Amiruddin  mengatakan bahwa pemerintah dan stakeholder kelautan Indonesia harus segera berkonsolidasi guna mengurangi dominasi asing di dunia bawah laut Indonesia.

“Pemerintah mesti segera mengatur dan membuat regulasi tentang sertifikasi pekerjaan bawah laut serta lembaga atau asosiasi yang menjalankan bisnis ini di Indonesia dengan label merah putih,” kata Amiruddin.

Pekerjaan bawah laut memang beresiko tinggi dan mesti terstandarisasi, namun sumberdaya manusia bangsa ini sudah mempunyai kemampuan untuk menghasilkan hal tersebut.

Ke depan, kata Abdi, Pemerintah yang telah berjanji menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim dunia seharusnya mendorong penyediaan layanan sertfikasi selam profesional dan pekerjaan komersil untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam negeri dan berbiaya murah.

Biaya yang selama ini dikeluarkan untuk sertfikasi pekerjaan baah laut terbilang mahal sehingga Indonesia kekurangan SDM  terampil untuk penuhi kebutuhan pasar tenaga kerja bawah laut. (KAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here