Mengelola Sikap ‘Kordoba’

0
85
Enyahkan sikap pemarah (dok: istimewa)

Jakarta, Klanews.id – Teori spiral pertumbuhan menempatkan diri atau pribadi sebagai pilar paling fundamental saat bicara agenda perubahan sistem kehidupan yang lebih kondusif. Setelah itu baru masuk ke organisasi.

Teori tersebut menyebutkan bahwa hanya dengan peningkatan kapasitas diri dan ditransformasi ke organisasi maka sistem sosial kemasyarakatan bisa disehatkan.

Nah, karena ekspektasi sistem yang sehat tidak bisa sekadar dipersepsikan dan diteorikan belaka maka setiap orang seharusnya punya visi memandang diri dan lingkungannya.

Pada ruang dan waktu dia harus menyusun rencana dan target. Akan menjadi apa dia pada suatu linimasa perubahan.

“Kaya, terpandang, beraset mobil seharga 2 miliar, punya kapal wisata seharga 3 miliar, punya rumah selusin dan dibagi-bagikan sekurangnya kepada 10 teman dekat pada tahun 2020,” adalah contoh pernyataan visi.

Visi disusun jika kita punya pemahaman atas potensi diri dan lingkungan sekitar. Dan untuk sampai ke sana, kita harus punya kapasitas.

Apa itu kapasitas? Ini berkaitan dengan keluasan dan keragaman pengetahuan, keahlian dan komitmen untuk berubah serta berani mengambil inisiatif untuk terhubung dengan ‘sources’.

Oleh sebab itu, setiap orang harus bisa mengukur kapasitasnya kemudian masuk ke ‘ideation process’, berdasarkan sumber daya pada aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Kemudian menimbang dimensi dan solusnya pada aspek penguatan dan pemenuhan infrastruktur dan suprastruktur.

Sampai di situ kita bisa sepakat bahwa harus ada visi, pengecekan kapasitas, dan kemampuan mengaktualisasikannya dengan menyusun rencana kreatif.

Orang-orang, individu, kita semua, harus punya ketangguhan untuk terus menerus berkreasi, inovatif dan mempunyai cara berpikir dan bertindak sistematik.

***

Pagi ini, di salah satu grup WA, saya mendengar kembali kata ‘Kordoba’. Kata ini merupakan singkatan dari kata koro-koroang, dompala, balala dalam bahasa Makassar. Kata ini dipengaruhi ingatan orang Makassar pada Kota Cordoba di Eropa Selatan nun jauh di sana. Tentang kota yang pernah menjadi wahana Islami dan menggairahkan syaraf-syarat pengetahuan dan kreativitas.

Koro-koroang adalah ‘sikap pemarah’ dalam bahasa Indonesia. Sikap pemarah adalah persoalan besar bagi setiap individu ketika bersua atau berinteraksi dengan orang, ketika menjadi bagian dari interaksi dan berkaitan dengan argumentasi, ide, aksi, dialog.

Marah adalah persoalan. Jika ingin mendorong perubahan pada diri, potensi sikap marah harus dikelola dengan baik.

Banyak orang yang berhasrat pernuh untuk mewujudkan cita-cita perubahannya – baik sebagai elite birokrasi, pemimpin perusahaan, kepala rumah tangga, dll, – namun mudah takluk pada penghakiman. Dia balas menghakimi ketika diperlakukan demikian. Maka tidak jarang kita melihat anggota DPR yang baku pukul atau antara eksekutif dan legislatif dan lain sebagainya.

Seseorang yang ingin perubahan harusnya mengabaikan sikap dari orang-orang di luarnya ini. Seseorang bisa marah jika dipandang enteng atau disinisi. Padahal, itu ujian.

Ketika kita sedang di jalan perubahan, jangan sampai terganggu dengan ini. Jangan sampai ketika orang sinis, kita malah membalasnya dengan amarah meluap dan membuyarkan segenap cita-cita atau jalan ke visi itu,

Yang perlu diperkuat adalah ketangguhan jiwa sang pembaharu untuk tetap di jalur perubahan. Jangan takut atau mundur ketika badai tantangan menghadang di depan.

Dompala disematkan pada orang dungu, keras kepala dan hanya maunya yang  didengar dan diperhatikan.

“Dompala’na anne,” dikatakan pada seseorang yang sudah diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan tapi tetap saja melakukannya saban hari.

Dompala adalah orang yang tidak pernah menggunakan akal sehatnya terhadap suatu aksi yang mungkin saja telah memberi dampak kepada kehidupan. Sampah yang dibuang sembarangan akan berdampak pada kualitas air, kebersihan, hingga ada tidaknya banjir.

Balala, yaitu orang yang rakus, suka makan dan mengabaikan lingkungan sekitarnya.

Balala sering dilabelkan pada orang yang tak sensitif pada sekitarnya, pada penderitaan tetangga. Dia rakus harta. tak mau berbagi dan benam dari mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri. Dia tak sensitif pada sekitar, tak merasa bersalah ketika dia pamer makanan pada orang-orang lapar.

Kordoba adalah batu sandungan bagi sesiapa yang ingin jadi pemimpin yang berhasil. Minimal pada diri. Ini yang harus dilawan sejak awal. Sedini mungkin.

Ada beberapa solusi yang bisa ditempuh untuk memunculkan kepekaan dan jalan tanggung jawab perubahan itu. Beberapa di antaranya adalah mengasah sensitivitas pada alam sekitar, pada lingkungan.

“Apakah saya bijak jika semena-mena pada semut (kaluara), pada cicak (cacca), pada ular di semak-semak?” ini contoh pertanyaan reflektif yang bisa dijadikan patokan.

Harapannya, at the end, kita menjadi pribadi yang peduli, yang bertanggungjawab tentang ‘siapa saya dan apa yang saya bisa berikan untuk alam raya.”

Ayolah, perbanyak ibadah, berkomunikasi dengan pencipta, berkontemplasi, merenung dan mencari inspirasi dari alam raya yang sudah serba terstruktur dan teratur ini.

Jawablah pertanyaan, siapa yang harus saya puaskan, senangkan. Siapa yang harus saya buat bangga? Anak-anak, orang tua, sekitar atau siapa?

Kordoba sejatinya bisa dihilangkan dengan memperbanyak mendengar, berkomunikasi dengan empati, dan menyerap inspirasi dari orang-orang.

Kordoba harus dienyahkan dengan berlatih menjadi pendengar yang baik, menyesap bahwa setiap orang pasti punya pengalaman berharga dan dapat menjadi inspirasi bagi kita.

Jika itu tercapai, jalan menuju visi itu akan semakin lempang dan menggairahkan. (KAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here