Nelayan Andon, Pemerintah Peduli?

0
104
Armada andon di Takalar (dok: istimewa)

Jakarta, Klanews.id. Tahun ini diperkirakan ada ribuan nelayan asal Takalar, Sulawesi Selatan yang beroperasi di Papua Barat sebagai nelayan pencari telur ikan terbang. Ribuan nelayan Pantura, dari Indramayu, Cirebon hingga Tegal yang beroperasi di Arafuru, Tual, Dobo dan sekitarnya.

Nelayan-nelayan antar provinsi tersebut disebut sebagai ‘nelayan andon’. Keberadaan mereka masih menjadi sumber sengketa padahal eksistensinya dibolehkan UU bahkan telah berjalan turun temurun. Negara harusnya ada di sana untuk memediasi kemudahan berusaha bagi mereka.

***

Pantai Bayowa, Galesong, Takalar, Sulsel. Daeng Tayang, (53) bercerita bahwa selama ini dia beberapa kali ke Fak Fak. Sebagai nelayan pancing dan sebagai juragan kapal pencari telur ikan terbang.

Menurut pengakuan Tayang, jika hendak berlayar dia harus melapor ke syahbandar atau petugas pelabuhan di Takalar. Saat sampai di Fak Fak dia pun hanya melapor ke Kepala Desa. Itu yang dilakukan sebelum implementasi UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah. Di Bayowa ada ratusan warga seperti Tayang.

Di selatan, sekira 5 kilometer dari Bayowa, Muara sungai Saro’ terlihat sepi. Muara tersebut selama ini adalah tempat tambatan kapal-kapal nelayan pencari telur ikan terbang. Ada ratusan yang ngetem di sana.

Ada ratusan kapal yang berlabuh di situ, umumnya nelayan patorani, atau pencari ikan terbang.

Saat dikunjungi pada bulan Mei terlihat sepi. Hanya ada satu-dua kapal yang masih sandar. Sebagian besar telah ke lautan luas, ke Selat Makassar, ke timur Maluku dan Papua mencari telur ikan terbang. Tradisi yang masih bertahan.

Nelayan Galesong adalah salah satu dari sekian banyak nelayan di Sulawesi Selatan yang mengembara di laut Papua dan Maluku. Mereka bergabung dengan beberapa nelayan dari Bone, Barru, Sinjai dan Buton dan memenuhi pesisir Papua Barat, mulai dari Kaimana hingga Sorong.

Sebagian sebagai nelayan jaring cincin atau purse seine, sebagian lainnya sebagai pemancing dan pemasang pukat gillnet.

Mereka bermigrasi musiman dan melintasi ruang laut antar provinsi.  Bukan hanya nelayan Sulawesi yang ada di area Papua dan Maluku tetapi nelayan-nelayan asal Pantura Jawa, sebutlah yang beroperasi di sekitar Arafuru yang kaya ikan.

Nelayan Galesong sebagian besar adalah nelayan dengan tingkat pengetahuan administratif yang kurang.

Saat Pemerintah mengeluarkan UU Pemerintahan Daerah dimana salah satu bagian menyebutkan bahwa urusan kewenangan di laut telah diserahkan dari Kabupaten/Kota ke Pemerintah Provinsi.

Mereka banyak yang belum tahu, karenanya izin yang mereka maksud adalah izin ke Pemerintah Desa atau Kampung di Papua Barat atau melapor ke Dinas Perikanan Kabupaten di sana.

Padahal konsekuensi dari situ adalah urusan perizinan yang selama ini ditangani kabupaten/kota akan diambil alih oleh Provinsi. Termasuk izin melaut di perairan jauh.

***

Jumlah mereka sangat banyak. Mereka adalah bagian dari perkembangan kawasan seperti di Fak Fak dan Kaimana, Papua Barat.

Tahun 2016, Pemerintah Provinsi Papua Barat menyebut bahwa jumlah nelayan asal Takalar (termasuk Galesong) sebanyak 446 armada nelayan. Mereka beroperasi di sekitar Perairan Fak Fak, Papua Barat.

Penerapan UU 23/2014 tersebut telah berdampak pada beberapa nelayan Galesong yang ditahan oleh Kepolisian karena tak mempunyai izin usaha perikanan antar provinsi.

Angka 446 bukanlah angka kecil. Dari mereka diperkirakan ada 5.000-an anggota keluarga berharap banyak dari usaha patorani ini.

Menurut perkiraan, ada 20.000-an ribu warga yang berkaitan dengan usaha pengolahan telur ikan terbang di Galesong Raya. Para pemodal, bank, papalele-sawi, ibu-ibu pengolah hingga tenaga distribusi.

Ada banyak pihak yang terlibat dan ada banyak uang yang dialokasikan. Ada banyak warga pesisir Galesong yang terganggu harapannya jika para patorani terantuk masalah di Papua atau Maluku.

Bukan rahasia lagi bahwa banyak pemodal usaha perikanan dari mencari ikan terbang ini mengalami kebangkrutan, harta disita bank, utang menumpuk dan lain sebagainya.

Miliaran dana berputar di usaha ini. Miliaran modal dan miliaran doa dan harapan agar mereka bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Berita tentang 5 nelayan Galesong, Takalar yang ditahan di Papua Barat tahun 2016 lalu adalah sinyal bagi nelayan yang lain untuk berhati-hati dalam urusan perikanan seperti ini.

Perlu analisis usaha dan pembacaan atas situasi eksternal usaha mereka, pada regulasi, pada perizinan, pada iklim usaha. Itu akan menjadi sulit jika Pemerintah Daerah terutama kabupaten/kota tak peduli dengan nasib mereka dengan memberi informasi berimbang.

Ada satu cara untuk mempertahankan dan menguatkan usaha perikanan mereka, kerjasama di antara mereka sendiri. Dengan solidaritas sesama nelayan sebab dengan itu, segala persoalan dan derita bisa diurai.

Saat ini, Pemerintah Daerah harus turun tangan membetulkan harapan para nelayan pencari telur ikan terbang itu, para nelayan andon. Sebab mereka adalah juga anak-anak bangsa yang butuh kenyamanan berusaha meskipun jauh dari kampung halaman mereka.

***

Urusan nelayan andon adalah urusan perizinan operasi antara provinsi, berapapun ukuran kapalnya karena ini menyangkut keamanan dan penerimaan di lokasi target.

Mereka juga yang memilih meng-andon harus dilengkapi pengetahuan awal tentang lokasi yang dimaksud, seperti ada tidaknya kawasan masyarakat hukum adat sebab akan berkaitan dengan lokasi operasi mereka.

Para peng-andon harus dilihat sebagai mitra berusaha sehingga Pemerintah Provinsi harus juga menghormati posisi mereka sebagai ‘investor’. Mereka membayar retribusi saat mendarat di Pangkalan Pendaratan Ikan, mereka bisa saja membeli air minum, bahan bakar dan kebutuhan logistik lainnya.

Jadi singkat kata mereka adalah juga peluang bisnis untuk kemajuan daerah. Sayangnya, banyak daerah dan sebagian masyarakat di lokasi tujuan masih menganggap orang luar sebagai sumber masalah hanya karena ketiadaan temali komunikasi atau sosialisasi yang seharusnya dibangun Pemerintah Provinsi keduanya. (KAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here