Kepulauan Kapoposang, Masyarakat dan Upaya Memberantas Destructive Fishing

0
31
(dok: istimewa)

Jakarta, Klanews.id – Taman Wisata Perairan Kapoposang merupakan bagian dari wilayah kerja Balai Kawasan Konservasi Perairan Kapoposang dan Laut Sekitarnya, Direktorat Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kepulauan ini masuk dalam gugusan pulau-pulau Spermonde. Kepulauan  Kapoposang masuk kedalam wilayah administratif Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

Kepulauan Kapoposang terdiri dari 5 pulau, yakni Kapoposang, Papandangan, Pamanggangan, Tambakulu dan Suranti. Dari kelima pulau tersebut, pulau yang paling banyak peduduknya adalah Papandangan, kemudian Kapoposang dan Pamanggangan. Sedangkan Suranti dan Tambakulu tidak berpenduduk.

Kondisi Masyarakat dan Etnografi Kepulauan Kapoposang

Kepulauan Kapoposang dihuni oleh etnis Bugis, Makassar dan Mandar. Diperkirakan telah menghuni kepulauan ini dalam dua gelombang, sekitaran tahun 1940an dan juga 1970an. Masyarakat Kepulauan Kapoposang terbuka terhadap pemikiran dan orang-orang baru yang hanya sekedar berkunjung, maupun yang baru ingin bertempat tinggal di Kapoposang.

Sebagian besar masyarakat Kapoposang berprofesi sebagai nelayan pancing. Hasil tangkapan mereka dominan adalah ikan-ikan karang atau ikan-ikan demersal seperti, kakap dan kerapu. Musim terbaik menangkap ikan bagi nelayan Kapoposang, yakni pada musim barat. Pada musim timur nelayan lebih memilih tidak melaut dikarenakan kondisi cuaca yang dianggap terlalu berisiko.

Pulau Kapoposang terdiri dari 4 RT. RT 1 dan RT 2 yang berada di Selatan pulau, sebagian besar masyarakatnya merupakan pendatang dari daerah Pangkep dan Maros, sehingga dominan masyarakatnya menggunakan bahasa Bugis. RT 3 dan 4 yang berada di Utara pulau, sebagian besar masyarakatnya merupakan pendatang dari daerah Takalar, sehingga dominan masyarakatnya menggunakan bahasa Makassar.

Pembaharu Dari Mandar

Masyarakat Kapoposang yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan memiliki alat pancing khusus yang mereka namakan ‘pancing batu lepas’. Seperti namanya alat pancing yang digunakan selain kail dan juga tasi mereka menggunakan batu karang khususnya karang masive.

Dalam praktiknya alat tangkap ini cenderung destructive karena mengambil karang dari jenis massive yang baru mengalami pertumbuhan, dengan kisaran ukuran diameter 5 cm. Kegiatan destructive ini dilakukan oleh masyarakat Kapoposang sejak tahun 2010 hingga 2015. Kegiatan ini dilakukan setiap musim penangkapan atau sekitar 6 bulan.

Usaha dari pemerintah Kabupaten Pangkep sendiri dalam menangani kegiatan destructive tersebut belum maksimal. Hanya berupa himbauan dan bukan pelarangan kegiatan. BKKPN Kupang, dalam hal ini wilayah kerja TWP Kapoposang juga berusaha menertibkan kegiatan tersebut dengan cara sosialisasi dan memberi pemahaman masyarakat tentang alternatif alat tangkap ramah lingkungan dan pentingnya menjaga kawasan konservasi Kapoposang.

Penggunaan karang masive sebagai pemberat alat pancing, mulai diganti menggunakan batu sungai. Hal ini diperkenalkan oleh nelayan dari Mandar yang singgah dan berinteraksi dengan masyarakat Kapoposang.

“Sekitar tahun 2015 itu, banyak pelaut dari Mandar yang singgah dan berlabuh di Pulau Kapoposang untuk beberapa waktu kemudian berinteraksi dengan masyarakat dan mengenalkan alat pancing batu lepas dengan menggunakan batu dari sungai berupa pecahan kecil “ ungkap Takim salah satu nelayan Kapoposang.

Pengenalan alat tangkap yang ramah lingkungan ini, mampu untuk mengurangi kegiatan destructive di sekitar Kapoposang. Juga keberadaan TWP Kapoposang yang giat dalam menjaga kawasan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang biota-biota dilindungi dan pentingnya menjaga kawasan Kapoposang,

Menggandeng Masyarakat Dalam Menjaga Kawasan Konservasi

Masyarakat sangat berperan penting dalam menjaga keberadaan dan keberlangsungan kawasan konservasi. Hal ini sangat disadari oleh BKKPN Kupang, yang menggandeng masyarakat dalam upaya menjaga dan melestarikan kawasan konservasi Kapoposang.

“Pengelola kawasan sangat menyadari peranan dan juga kedudukan masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Bagaimanapun keberlangsungan sumberdaya kawasan pada akhirnya kan untuk masyarakat di wilayah kepulauan kapoposang juga nantinya“, ujar Ilham selaku koordinator satuan kerja Taman Wisata Perairan Kapoposang.

Baca juga: Tradisi Anjala Ombong dari Selayar

Keberadaan masyarakat dalam upaya menjaga kawasan konservasi yang bebas dari kegiatan destructive fishing sangat penting. Masyarakat sekitar kawasan banyak yang menggantungkan hidupnya dengan mencari nafkah di sekitar kawasan baik sebagai nelayan maupun pelaku pariwisata. Kawasan konservasi dianggap mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Hingga sekarang di Pulau Kapoposang gencar dilakukan sosialisasi dan pemahaman ke masyarakat agar masyarakat nantinya dapat sadar secara penuh akan pentingnya kawasan konservasi dan kemudian menjaganya demi generasi mendatang“, kata Salim, salah satu tenaga kontrak TWP Kapoposang yang juga penduduk asli Pulau Kapoposang. (Yanuardy Septian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here