Senyum Jong de Jesus dan Paul Angelo di Malili

0
62
Muh. Abdul Azis (dok: Klanews.id)

Malili, Klanews.id – Konflik hebat di Timor Timur antara tahun 1975 hingga 1999 adalah sejarah buram Indonesia dan Timor Leste. Sebagai matra bahwa aneksasi wilayah berbungkus hasrat politik selalu berdampak buruk bagi warga negara, pada kedua belah pihak.

Tak kurang 150 ribu warga dan tentara kedua belah pihak tewas. Ribuan rumah dan sekolah porak poranda. Ratusan ribu sanak-saudara tercerai-berai, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya. Perempuan mengaku dikangkangi harga dirinya, sebagian diboyong paksa ke Indonesia.

Pasca referendum tahun 1999, Timor Timur akhirnya merdeka dan menjadi negara baru bernama Timor Leste.

Meski begitu, tak sedikit warganya yang ada di luar telah kehilangan selera untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwinya. Mereka menyebar di Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Mereka terpikat dan terikat di tanah destinasi nun jauh dari tanah kelahiran, menjadi tukang, guru, satpam, kepala dusun hingga anggota DPR-RI.

Destinasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya karena dipilih di suasana genting. Contohnya seperti yang dipilih Jong de Jesus dan Paul Angelo Moreiro.

***

Tentang Jong begini ceritanya. Nun jauh di selatan Indonesia, ketika Operasi Seroja digencarkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 7 Desember 1975 ke Timor Timur, dia lahir lempang ke dunia.

Tangis Jong memecah keheningan nan mencekam, pada suatu kampung bernama Matadiki, di kawasan Uatolari, Kota Kecamatan Viqueque (dalam bahasa Tetum disebut Vikeke) atau 183 kilometer di selatan Kota Dili. Dia lahir ketika derap kaki-kaki tentara Indonesia menjejak tapak demi tapak pulau Timor bagian timur.

Dia lahir ketika pekik anti-kolonialisme membahana sebagai propaganda Pemerintahan di Jakarta atas sokongan Amerika Serikat dan Australia.

Pendudukan tersebut, seperti yang kita tahu, adalah tapak historis tokoh militer seperti Soeharto. Maraden Panggabean, Benny Moerdani hingga Prabowo Subianto.

Di pihak oposan yang didukung Pemerintahan Portugal ada nama seperti Nicolau Lobato, Xanan Gusmao, Ma’huno Bulerek Karathayano, Nino Kronis Santana hingga Taur Matan Ruak. Nama-nama terakhir adalah sebagian dari pentolan Partai Politik Uniao Democratica Timorense serta Fretilin (dianggap Komunis) yang menuntut kemerdekaan. Lawan dari Partai Apodeti atau Assosiacao Popular Democratica Timorense, partai yang ingin bergabung dengan Indonesia.

Setelah invasi berbungkus sandi ‘Bunga Seroja’ itu, Indonesia menguasai Timor Timur dan melengserkan dominasi Fretilin yang dianggap terlalu Sosialis. Tapi konflik dan perlawanan terus membara, di pesisir, di pedalaman dan di gunung-gunung. Warga kocar-kacir.

Yang pro Fretilin ikut lari ke gunung bergabung pemberontak, yang ingin Indonesia, membaur dan menjadi pembantu di barak-barak militer lalu menyeberang ke Atambua atau naik kapal dari Pelabuhan Dili dan mencari destinasi harapan baru.

***

Nukilan di atas menjadi latar cerita ketika saya bertemu Jong de Jesus dewasa yang kini telah berganti nama menjadi Muhammad Abdul Azis (43).

Pada Selasa pagi, 7 Agustus 2018, di kantor Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dia bercerita pengalaman dan keadaannya saat ini.

Azis ingat persis betapa getirnya kehidupan di Watulari hingga pada tahun 1994. Bunyi tembakan dan bau mesiu menjadi memori ketika dia masih kanak-kanak jelang dewasa. Ketika berusia 19 tahun, dia pun bergabung beberapa warga Timor Timur untuk hengkang dari pulau itu.

“Waktu itu sebenarnya, sudah ikut-ikut pendidikan pesantren. Selama dua tahun, jadi sudah muslim sebelum ke Jawa bersama sekitar 30 kepala keluarga lainnya,” ucapnya.

Hingga Timor Timur merdeka pada tahun 1999, de Jesus tak lagi kepikiran untuk kembali.

Dari Jawa ia tak keberatan naik kapal laut dan ikut program transmigrasi Pemerintah. Dia bergabung dengan beberapa warga asal Timor Timur yang terlebih dahulu berombongan ke Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

“Saya sudah lama di sini, sudah bertahun-tahun. Tapi saya tidak tahu bahasa sini (Luwu). Beda kalau bahasa Jawa,” ucapnya.

Mengenakan songkok, berseragam dinas layaknya aparat Pemerintah Desa, Azis tak menunjukkan kalau dia eksodus dari Timor Timur. Dia memegang gadget dan membuka wall Facebook.

“Nama saya Jong, Jong Manume coba cari,” katanya.

Sebagai Kepala Dusun, Azis bertanggungjawab menghadirkan warga yang bisa mewakili dusunnya. Dia Kepala Dusun Bukit. Dia juga mengurus kegiatan warga terkait program pendidikan seperti TK dan PAUD. Juga bidang kesehatan dan ekonomi produktif. Dia juga sibuk dalam proses perencanaan penggunaan dana desa hingga bantuan CSR perusahaan tambang.

Di lembaran informasi kantor desa tertulis namanya, Muhammad Abdul Asis, S.Ag.

“Itu gelar bapak?” tanyaku.

“Ah, tidak begitu, harusnya S.Sos,” katanya tersipu malu sembari merentangkan kedua kakinya.

Hari-hari Azis pertama kali tiba di Malilli, menurut ceritanya tidak mudah sebab harus jadi tukang ojek meski dia sudah diiming-iming tanah perkebunan.

“Tapi lama-lama saya kemudian kerja-kerja kebun, dikasih sama mertua. Kebetulan mertua punya lahan. Dia orang Timor Timur juga. Namanya Abdul Haris,” sebutnya.

“Istri saya juga orang Timor Timur namanya Estella,” tambahnya.

Azis ingat, waktu pertama kali ke Makassar pada tahun 2003, dia datang bersama sekitar 50-an Kepala Keluarga.

“Langsung diberangkatkan ke Luwu Timur karena memang dijanji untuk ikut jadi peserta transmigran. Ada Panglima Wuryanto waktu itu,” katanya sambil menyebut nama Jenderal kala itu.

“Waktu itu kami naik kapal laut, Lorolonda kalau tidak salah nama kapalnya,” katanya.

Selama beberapa tahun di Malili – kota sekira 400-an kilometer di timur Makassar, dia memiliki 6 orang putra-putri, dua orang meninggal. Anak sulungnya kita sekolah di Pesantren Darul Istiqomah Maccopa, Maros, Sulawesi Selatan.

Dia juga ingat kalau dia punya saudara di Timor Leste kini yang bernama Alfonso meski menurutnya sudah lama tak dihubungi.

***

Pagi itu, Azis menunjuk seorang pria yang duduk di dekatnya. Dia menyebutnya juga eksodus dari Timor Timur.

“Ini juga eksodus, ha-ha-ha,” katanya terbahak. Pria yang dimaksud Azis adalah Abdul Hafid (40). Dia tersenyum saat disebut eksodus oleh Azis.

Jauh sebelum Azis datang dari Jawa, Hafid mengaku sudah lebih dulu tiba di Maros, kota di timur Makassar. “Saya langsung dari Timor Timur ke Makassar naik kapal laut,” kata pria yang bernama asli Paul Angelo Morera ini.

Di Malili, dia mengaku tinggal di dusun Fajar Indah, beda dengan Azis. “Saya ikut kakak di Maros, sekarang kerja masih bawa ojek,” kata Hafid.

Hafid beristrikan perempuan Luwu-Toraja. Menurutnya, saat ini ada sekitar 80 orang yang tinggal di sekitar perkampungannya. Sebagian lainnya sudah menyebar dan tidak bisa dibedakan lagi antara eksodus Timor Timur dan warga setempat.

“Logat bahasa juga sudah hampir sama,” katanya dengan aksen Luwu nan khas.

Perbincangan kami terhenti saat Hafid dipanggil seorang ibu yang sebelumnya meminta Hafid agar menunggunya di kantor desa. Dia telah selesai dengan urusannya. Perempuan itu mengajak Hafid pergi.

Hafid pamit dengan senyum mekar sementara Azis bergeser ke ruang pertemuan. Saya mencuri pandang, mata Azis masih melekat di halaman Facebook, sementara pertemuan sebentar lagi dimulai.

___

(Laporan Kamaruddin Azis dari Malili, Luwu Timur)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here