Pelayaran Rakyat, Nyanyi Sunyi Petarung Laut Flores

0
124
Kapal barang berlabuh di Laut Rajuni Kecil (dok: istimewa)

Makassar, Klanews.id – Pada ruang dan waktu, pulau mungil Rajuni Kecil di jantung atol Taka Bonerate Kabupaten Selayar, terbentuk, bertahan dan berkembang tak seperti 8 pulau lainnya. Pulau berpenduduk 2000-an jiwa itu telah sukses melahirkan pelaut-pelaut ulung yang melintasi rute Selat Makassar – Laut Flores saban tahun.

Jika warga pulau lain ke lautan dengan memancing, memasang pukat, menyelami teripang atau berlaku banal dengan bom dan bius ikan, mereka benam di usaha pelayaran rakyat, pada ekspedisi barang antar pulau. Wahananya Laut Flores, laut yang disebut ganas pada dua musim khas, Je’ne Kebo’ dan Musim Barat.

Bagi yang pernah menumpang kapal barang asal Rajuni Kecil tersebut pasti tahu bagaimana haluan atau moncong kapal sering masuk ke laut – karena memuat semen yang padat – ketika menghadap gelombang. Menjadi saksi kelincahan nakhoda mengendalikan kemudi, ketika melintas di Tanakeke yang ekstrem, ketika badai musim barat yang hebat di sepanjang Selayar, Bonerate, Jampea hingga Maumere.

Sebagian besar berhasil meniti ganasnya Laut Flores, namun tak sedikit juga yang karam karena dilumat gelombang.

Para juragan kapal berukuran 15 hingga 25 groston memulai jasa penghantaran logistik dari Makassar ke pesisir Nusa Tenggara Timur dengan membawa beras, terigu, hingga semen dan kebutuhan sandang pangan lainnya.

Pada tahun 80-an hanya ada 2 kapal di Rajuni Kecil kemudian bertambah menjadi 15 unit di tahun 90-an. Puncaknya adalah di tahun 2000-an, saat itu tidak kurang 30 kapal barang yang tersebar dari bobot 35 groston hingga 75 groston.

Bukan hanya dimiliki oleh pengusaha Bugis tetapi juga pengusaha keturunan Bajo yang nomad. Armada mereka inilah yang melayani kebutuhan atau permintaan beras, terigu, hingga material bangunan di pulau-pulau NTT yang dipasok dari Makassar. Dari NTT mereka membawa kakao, kopi, jagung hingga asam.

Di Makassar, pengusaha besar yang mempunyai gudang material berisi semen, kapur, hingga tegel termasuk pedagang beras besar menjalin kerjasama dengan pengusaha di Nusa Tenggara Timur. Mereka tak menggunakan kapal-kapal kargo besar selain karena mahal dan rumit prosedurnya, juka karena perairan yang disinggahi adalah kawasan dangkal yang tidak bisa dilayani kapal besi besar.

Pelaut kian kurang

Warga Rajuni memang dikenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka menguasai jalur dan karakter perairan dari Makassar, perairan Selayar, Laut Flores, Bonerate hingga Maumere bahkan Kupang di NTT.

Vektor perdagangan Makassar hingga Nusa Tenggara Timur bermula dari barang di Makassar yang diangkut melewati perairan Selat Makassar. Melintasi Perairan Tanakeke yang ekstrem, lalu mengarah ke sisi barat Pulau Selayar lalu.

Biasanya mereka akan transit selama dua hari di Pulau Rajuni Kecil kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri peraiaran Bonerate hingga masuk ke wilayah Nusa Tenggara Timur.

Salah seorang pelaku jasa pelayaran tersebut adalah Mukhsin, di nakhoda KLM. Harapan Bersama 2.

Saya menemui sosok berusia 50 tahun ini pada hari Kamis, 16 Agustus 2018. Dia veteran kapal KM. Cahaya Rahmat asal Rajuni dan berpengalaman membawa berzak-zak semen yang dipesan oleh pengusaha di Maumere.

Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Mukhsin, sewa muatan juga berubah seiring naiknya harga BBM.

Sekira tahun 2000-an, sewa ekspedisi ke Maumere adalah Rp, 200 ribu perton barang. Kapal akan menghabiskan bahan bakar dari Makassar ke Maumere hingga 3 drum atau 660 liter. Saat harga solar masih Rp. 4.800, dia harus menyiapkan dana hingga Rp. 7 Juta pergi pulang, Makassar-Maumere.

Pola usaha jasa transportasi ini mengikuti sistem biasa yaitu, pemilik kapal dan nakhoda hanya berbagi pada akhir tahun, biasanya saat musim barat. Di situ mereka berbagi uang cash. Juragan atau pemilik kapal akan dapat 25 persen. Untuk anak buah kapal mereka akan dapat tiap sekali trip. Sekali jalan biasanya akan dapat Rp. 500 ribu maksimum.

“Sekarang bisa dapat sekitar 2 juta sekali bawa barang,” kata Musa aias Zubair, tenaga ahli mesin di Kapal Layar Motor Harapan Bersama yang dinakhodai Mukhsin.

Musa asal Alor adalah tenaga kepercayaan Mukhsin dan telah berpengalaman melayari Makassar – Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Musa dan Mukhsin, kanan (dok: istimewa)

Rute itu ditempuh selama 4 hari – 3 malam. Mereka, biasanya habiskan seminggu di Makassar, bongkar muat biasanya dua hari. Mereka juga akan habiskan waktu bersama keluarga dengan transit di Rajuni Kecil setelah atau sebelum ke Maumere.

“Yah, butuh waktu 15 hari hingga 20 hari sekali trip,” kata Muhsin.

Menurut Mukshin, kapal sekarang memang semakin besar. Jika di tahun 90-an, kapal terbesar maksimum hanya 35 groston maka saat ini bisa mencapai 180 groston.

Kapal yang kini diawaki bahkan telah mempunyai dua kamar tidur sehingga lebih lempang. Dulu para ABK tidur di dekat mesin yang menderu atau kadang di atas palka.

“Tapi sekarang kita kesulitan ABK. Orang-orang di Rajuni lebih suka ke laut mabbagang – menangkap ikan dengan lampu dan jaring – anak-anak muda juga sudah malas naik perahu,” imbuh Mukhsin lirih.

Saat ini, Mukhsin melayani rute Makassar – Maumere dan beberapa pelabuhan lainnya di Nusa Tenggara Timur bersama Musa alias Zubair, Muslim, Saddam, Ramli.

“Hanya kami berlima, padahal dulu kapal 30 GT bisa sampai 7 ABK-nya,” katanya terdengar pasrah. Ada nuansa keprihatinan di nada bicaranya.

Hal lain yang disampaikan Mukhsin adalah semakin berkurangnya pengusaha yang tertarik ke usaha pelayaran antar pulau ini. Jika dulu terdapat hingga 30-an unit kapal dengan bobot hingga ratusan groston, sekarang tersisa belasan.

“Mungkin sekitar 15 saja yang masih ada. Sebagian dijual ke Sinjai atau Bone. Mulai banyak juga pengusaha angkutan antar pulau dari sana yang ikut mengangkut beras ke Nusa Tenggara Timur,” kata Mukhsin yang malam itu ditemani Zubair. Tiga kru lainnya sibuk menerima telepon di buritan kapal.

Yang menarik dicermati adalah ukuran kapal. Meski berkurang, ukuran kapal semakin besar. Itu berarti harga juga semakin mahal,

“Kalau begini, ukuran 80 hingga 100 groston, sudah harga miliaran kalau mau bikin sekarang,” katanya. Kapal yang dinakhodainya telah berusia 13 tahun, milik Haji Salam, pengusaha di Kampung Bajo, Pulau Rajuni Kecil.

Kapal bernama Harapan Bersama tersebut menggunakan genzet sebagai pemantik listrik sementara mesin kapal menggunakan mesin mobil Mitsubishi 6 silinder. Sebelumnya, kapal tersebut menggunakan mesin dalam seperti merk Yanmar dan mesin asal China. Jumlahnya tiga unit jika digabung ketiganya menghasilkan 90 tenaga kuda.

“Dengan mesin Mitsubishi lebih baik, lebih beda. Harga satu mesin seperti yang di kapal ini mencapai 117,5 juta, barang seken dibeli di Makassar,” katanya.

Dari Mukhsin diperoleh informasi bahwa sewa angkut barang dengan menggunakan kapal seperti yang dinakhodainya dikenakan harga 300.000 ribu/ton. Jadi semakin besar ukuran kapal semakin besar biayanya, semakin besar pula marginnya.

Jika dia mengangkut semen hingga 80 ton maka kapal akan memperoleh biaya angkut hingga 25 juta sekali jalan. Inilah yang akan dibagikan dengan pemilik kapal, ABK dan biaya operasional.

Sejauh ini biaya operasional pulang pergi tujuan Maumere berkisar antara 7 hingga 8 juta.  Jadi kalau dikurangi biaya ABK yang mencapai 6 juta ditambah biaya operasional 7 juta maka akan tersisa 12 juta. Inilah yang akan dibagi antara nakhoda dan pemilik kapal, baik untuk cadangan maupun perawatan kapal.

Masa depan kapal barang di Rajuni

Tanda-tanda semakin berkurangnya armada dan ketidaktertarikan warga terutama anak-anak muda ikut pelayaran seperti yang digeluti Mukhsin semakin terasa di Rajuni Kecil. Ada banyak alasannya. Selain karena karena armada yang kian berkurang, juga karena ada banyak kerjaan alternatif di darat pulau Rajuni. Uang semakin banyak beredar di pulau, dari dana desa, dari proyek Pemerintah.

Mereka lebih senang menjadi tenaga kasar di pulau ketimbang berjalan jauh dan terombang-ambing di lautan.

“Semakin susah mengajak mereka, anak-anak muda ke kapal,” sungut Mukhsin.

Menurut Mukhsin, faktor penyebabnya banyak seperti disebutkan di atas, tetapi yang pasti bahwa yang bikin mahal pembuatan kapal barang di Rajuni atau di Bonerate adalah mahalnya baut dan langkanya kayu bitti, kayu pembuat kapal khas Bonerate.

“Kualitas kayu juga tak sebaik dulu. Sekarang, kayu bitti yang masih mentah sudah diambil dan dipasang di kapal. Jadi hanya ada beberapa saja yang bertahan seperti Haji Dassi’, Haji Kalilang, Haji Muhlis dan Haji Salam,” katanya.

“Banyak juga yang dijual ke Sinjai atau Bone. Kapal dibawa ke sana, orang Rajuni menjual kapalnya ke sana seperti Haji Dassi yang sudah jual 2 unit kapalnya, nilainya perkapal 300 juta,” katanya.

Malam itu Muksin bercerita kalau dia baru saja merapat di Pelabuhan Paotere. Dalam beberapa hari ke depan, dia harus menunggu kepastian pemuatan semen dari toke di Makassar dan penerima di Maumere.

“Sudah ada yang mau pakai kapal, mau bawa semen ke Maumere. Ribuan zak, 40 kg perzak,” katanya. Di atas kapalnya telah ada beberapa karung beras yang menurutnya pesanan warga Rajuni.

Malam semakin tua di Paotere, saya terkesan dengan daya tahan Mukhsin menggeluti jasa pelayaran khas perahu kayu dari Pulau Rajuni Kecil di Taka Bonerate yang telah menghantar miliaran dana dan kebutuhan warga kepulauan di selatan Pulau Sulawesi ini. Yang menjadi wahana pembelajaran bagi kaum muda di urusan kemaritiman, ada yang bertahan, ada pula yang menyerah.

Inilah praktik jasa angkut barang yang berjalan secara alamiah yang bisa disebut sebagai ‘tol laut tanpa skenario’ dari jalur Makassar – Taka Bonerate – Maumere.

***

Kunjungan saya ke Paotere malam itu menjadi istimewa sebab saya bisa menyaksikan kapal yang sandar di samping kapal KM Harapan Bersama yang dinakhodai Mukhin, yaitu kapal berbobot 25 groston yang pertama kali saya tumpangi ke Taka Bonerate 20 tahun lalu.

“Kapal Rahmat Ilahi milik Haji Muhlis itu kini jadi milik warga Pulau Alor,” jelas Mukhsin.

Kapal tersebut terlihat masih kokoh dan telah melayari pulau-pulau Nusa Tenggara Timur tujuan Kota Makassar ribuan kali.  Di depannya, sandar pula kapal barang terbesar di Pulau Rajuni Kecil saat ini, milik Haji Kalilang yang mencapai 180 groston.

Di suasana gaduh mesin genzet yang bertalu-talu di Pelabuhan Paotere, dari lambung-lambung kapal yang bersandar di sana, saya pamit. Mukhsin menghantar dengan sekardus ikan kering kakap di dalamnya. Pemberian yang menandai bahwa kami terhubung sebagai sahabat. Hal yang selalu saya rindukan ketika menyebut Pulau Rajuni Kecil, pulau tangguh di jantung Taka Bonerate.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here