50 Relawan Tanggap Bencana Berlatih di Konawe Selatan

0
161
Berlatih tanggap darurat (dok istimewa)

Sultra, Klanews.id – Bencana alam kian sering melanda Indonesia. Baru-baru ini, gempa bumi melanda Pulau Lombok, info tsunami tersebar. Empat ratusan orang dikabarkan meninggal dunia. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri, di Eropa, Amerika hingga Jepang.

Beberapa negara terutama Jepang disebut sebagai yang paling antisipatif. Mereka tangguh menghadapi bencana seperti gempa bumi, kebakaran hingga tsunami. Kuncinya, semua kalangan terutama kaum muda telah disosialisasikam, diajarkan, bagaimana bersikap dan antisipatif ketika bencana datang.

Relevan dengan itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata tematik Universitas Halu Oleo Kendari dan AKL Mandala Waluya memandang perlu untuk menginisiasi penyiapan sumber daya manusia tanggap bencana.

Sesi materi kelas dari Basarnas (dok: istimewa)

Mereka bermitra dengan BASARNAS Kendari yang dianggap kompeten dalam menyiapkan dan mengguatkan relawan desa siap bencana yaitu dengan menggelar pelatihan Relawan Desa dan Simulasi Tanggap Darurat di Desa Ambesea, Kabupaten Konawe Selatan, (19/8).

“Pelatihan sukses dilaksanakan di kantor Desa Ambesea, Kecamatan Laeya dan melahirkan beberapa luaran,” kata Tim DPL, La Ode M. Yasir Haya, ST.,M.Si., PhD dari UHO kepada NMN.

Yasir menyebutkan kegiatan ini difasilitasi mahasiswa dan Tim DPL Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) Terintegrasi KKN Tematik Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan dikerjasamakan dengan AKL Mandala Waluya, Basarnas Kendari, Pemerintah Konawe Selatan, USAID/FPT PRB Indonesia, dan beberapa lembaga pegiat kebencanaan setempat.

“Isu kebencanaan dan kemampuan kesiapsiagaan kita semua perlu menjadi perhatian. Apa yang kita lakukan ini merupakan implementasi nilai tri darma perguruan tinggi yakni, Pengabdian kepada Masyarakat, merupakan tanggung jawab UHO dan pihak yang terkait,” sebutnya.

Peserta dan narasumber (dok: istimewa)

Outputnya, kata Yasir adalah terhitung sejak tanggal 9 Agustus 2018 terlaksana sosialisasi, koordinasi dan fasilitasi pembentukan tim relawan bencana di tingkat desa atau kelurahan serta adanya peta rawan bencana yang dibuat secara partisipatif oleh warga desa.

Output lainnya adalah meningkatnya pengetahuan, keterampilan dan komitmen para sukarelawan untuk antisipatif pada isu kebencanaan.

“Telah dilatih 50 relawan dari 3 desa dan 1 kelurahan. Dari Kelurahan Ambalodangge, Desa Lambakara, Desa Ambesea, dan Desa Laeya. Mereka antusias dan telah sedia di Kantor Desa Ambesea sejak pukul 8 pagi,” kata Yasir.

Acara dibuka oleh Camat Laeya dan dilanjutkan materi pelatihan dan simulasi oleh Tim Basarnas Kendari yang dipandu oleh mahasiswa KKN.

L.M Yasir, PhD saat membawakan materi kebencanaan (dok: istimewa)

Tak hanya materi kelas tetapi dilaksanakan simulasi terpusat di luar ruangan termasuk simulasi evakuasi atau pengungsian di dalam kantor desa. Sebagian peserta berperan sebagai korban bencana dan sebagian lagi berperan sebagai relawan dimana peserta mensimulasikan proses evakuasi dan tindakan pertama medis pasca bencana.

Peserta juga mendapat materi penguatan substansi dasar-dasar penanggulangan bencana dan peraturan perundangan terkait yang dipapar oleh ketua Tim DPL La Ode Muh. Yasir Haya, ST., M.Si., Ph.D.

Menjelang penarikan mahasiswa dari lokasi KKN tematik pada Tgl. 29 Agustus 2018 nanti, program terakhir yang sedang dipersiapkan bersama tim relawan desa adalah pembuatan dan pemasangan tanda atau informasi Jalur Evakuasi dan Lokasi Pengungsian yang telah disepakati dalam FGD pemetaan rawan bencana secara partisipatif.

Pada acara penutupan, ketua Tim DPL menyampaikan terima kasih kepada para kepala Desa dan Lurah yang telah ikut andil dalam pelaksanaan pelatihan dan simulasi. Harapannya ada rencana aksi, atau setidaknya mereka melakukan sosialisasi dan menjalin komunikasi dan informasi terkait isu-isu kebencanaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here