Galesong Raya, Hikayat Bungung Barania dan Balla’ Barakka’

0
249
Berbagi cerita di Balla' Barakka' (dok: pribadi)

Galesong, Klanews.id – Pernah berpesawat dan melintas di atas pesisir selatan Makassar lalu melepas pandangan ke bawah?

Jika ya, maka akan tampak bentangan pantai dari Barombong di utara hingga Bontomarannu di selatan. Terbentang pesisir pantai serupa cekungan karena gerusan gelombang. Juga sebuah titik bernama Sanrobengi, pulau penjaga jantung Galesong Kota dari gempuran musim barat saban tahun, sejak berabad silam.

Galesong Kota, sebutan untuk ibukota kecamatan Galesong sejak dulu, adalah rumah para pemberani, pada komunitas nelayan, petani, pedagang antar pulau dan warga yang sejatinya bangga sebagai bagian keluarga besar Kerajaan Galesong nun lampu. Kerajaan yang merupakan pilar Sombaya di Gowa nan mahsyur dan telah menyita perhatian banyak orang termasuk Soeharto.

Tak banyak yang tahu kalau di tahun 1967, tepatnya di tanggal 24 Oktober 1967, satu pesta nelayan digelar di Galesong, Takalar Sulawesi Selatan dan dihadiri penguasa Orde Baru, Soeharto. Dia datang ke kompleks ‘Bungung Barania’ di pesisir barat Galesong dan membaur ribuan nelayan yang bersukacita di Hari Nelayan.

Soeharto menaruh minat ke Galesong sebab di kawasan pesisir inilah pernah lahir pejuang pantang menyerah bernama I Mannindori Karaeng Tojeng.

Dia, sosok yang disebut tak mau takluk ketika Keluarga Sombaya Sultan Hasanuddin di Gowa telah dipaksa bertekuk lutut oleh Jenderal Jon Speelman melalui Perjanjian Bungaya. Sebagai salah seorang panglima perang, Karaeng Tojeng dari Galesong memilih berperang di lautan sebelum merapat di Jawa bagian Timur.

Tokoh seperti Wahidin Soedirohoesodo hingga Setiawan Djodi disebut sebagai galur murni keturunan Karaeng Galesong.

Cerita di atas mengemuka ketika penulis bertemu Prof. Aminuddin Salle Karaeng Toto, salah seorang generasi Kerajaan Galesong yang kini aktif mendorong tumbuh kembangnya kesadaran kolektif di Galesong Raya – melalui pendidikan dan penyadaran sosial multidimensi.

“Saat Pak Harto datang itu ada perlombaan seperti lomba perahu, parade nelayan dan lain-lainnya. Dia juga berkunjung ke bungung barania,” katanya.  Bungung barania adalah sumur yang diyakini memberi tuah atas tapak sejarah perjalanan Galesong di rentang sejarah Nusantara.

Sumur itu disebut sebagai sebagai sumber air tawar para nelayan dan warga di pesisir Kampung Bayowa meski berada di tepi laut.

“Bisa jadi karena ada pohon tinggi besar bernama dandere serta poko’ ramba’, atau beringin hitam,” tambah Karaeng Toto, gelar untuk Guru Besar Unhas bidang Hukum Agraria ini.

Sosok Karaeng Galesong seperti yang diceritakan oleh Karaeng Toto memang selalu menarik untuk diulas.

Perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan pasca tumbangnya Kerajaan Gowa di tahun 1669, tak hanya memberi inspirasi tentang pentingnya menjaga harga diri sukubangsa, tapi juga pentingnya meneruskan perlawanan pada ketidakadilan, meski harus ditempuh di lautan luas. Karaeng Galesong disebut dimakamkan di Ngantang, di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

***

Waktu menunjuk pukul 10.30 wita ketika saya tiba di Dusun Tabbuncini, Desa Galesong Baru, Kecamatan Galesong atau sekira 25 kilometer dari Kota Makassar.

Titik tersebut dapat dijangkau dari Limbung di timur setelah melewati jalan sejauh 10 kilometer ke barat, tidak jauh dari Balla Lompoa di Galesong atau kalau dari Barombong menyusuri pesisir selatan Makassar.

Disambut Karaeng Toto di kediamannya. Wahana yang didedikasikan sebagai pengabdian sosial dengan nama Balla’ Barakka’ atau rumah berkah. Sosok yang akan pensiun sebagai ASN dalam waktu dekat ini mengaku amat senang berada di dusun itu.

“Senang mendengar suara bebek,” katanya seraya menunjukkan bebek-bebek yang bersahutan di sisi kanan Saukang. Saukang adalah wahana melepas penat dan merupakan wadah yang bertalian dengan tradisi leluhur keluarga besar Karaeng Galesong di pesisir Takalar.

“Dari kata assau, atau sau, atau nyaman, atau santai,” jelasnya.

Beberapa warga di Galesong menyebut istilah saukang sebagai wahana berbau mistik dan menyesatkan.

“Itu kesan dulu-dulunya, memang, ada juga yang menggunakannya sebagai tempat minum ballo (tuak). Tapi intinya sebagai wahana, ya seperti ini,” jelasnya sembari menunjukkan sebuah rumah terbuka yang mempunyai meja, lesehan dan kaki bisa dilepas ke bawah, atau dengan kata lain, ada ruang terbuka untuk menjatuhkan kaki ke bawah.

“Jadi saukang ini sebagai tempat kumpul dan melepas penat, bisa juga untuk berbagi cerita,” katanya seperti meyakinkan saya.

“Ayo kita naik,” ajaknya ke saukang setelah kami mengamati suasana di sekitar rumah itu.

Rumah dengan halaman yang cukup luas dan dibatasi oleh jalan paving block serta sungai kecil.

Di depan saukang (dok: pribadi)

Di seberangnya adalah hamparan persawahan. Terlihat beberapa pokok nipah sebagai pertanda areal ini masih dipengaruhi air payau. Saya juga tertarik pada satu ruas yang nampak sangat bagus dijadikan kolam ikan meski beberapa bagian lainnya masih digandoli sampah plastik dan limbah rumah tangga.

Di Balla’ Barakka’, saya tak sendiri.

Hadir pula Ismail Rasulong, sahabat yang kini Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Juga DR. Buyung Romadhoni, akademisi Unismuh, putra Karaeng Toto. Ada Israndi Djihad Daeng Lanti’ aktivis pemuda Galesong yang kini masuk arena politik, juga Irvan dan Muhammad Kemal yang merupakan pilar wahana Jurnalis Online Indonesia (Join) Takalar. Pun, Ustadz Bantang dari Bayowa, Husain Kahar Romo dari Dinkes Takalar, Kasmajaya Daeng Nappa akivis nelayan patorani Galesong.

***

Karaeng Toto merefleksi keluhuran perilaku orang tuanya. Ayahnya, Karaeng Salle, sosok yang disebutnya pendidik dengan sifat tenang, jarang bicara namun lebih banyak memberi contoh kebaikan-kebaikan inspiratif.

“Karaeng Salle, bergaya sederhana. Misalnya kalau kita lagi makan, kalau ada ikan, dia akan bilang jangan makan telur asin yang ada. Tidak perlu menghadirkan semua di meja makan,” kata Karaeng Toto mengenang ayahnya yang beristrikan Karaeng Calla.

“Dia jujur, berani mengatakan yang benar,” tambah pria yang mengaku telah mempunyai proyeksi untuk membantu tidak kurang 150 anak-anak warga di sekitar Balla’ Barakka’ sebagai kader masa depan Galesong.

Dia juga menggugah kepedulian kami yang hadir tentang ciri khas Orang Galesong yang menurutnya semakin luntur, yaitu keberaniannya.

“Ini serasa ada yang hilang ya? Kenapa kita tidak melanjutkan sifat dan kepemimpinan Karaeng Galesong? Yang pergi ke Jawa, dan dengan berbekal keberanian kemudian meninggalkan zona nyamannya?” ujarnya.

Sebagai anak yang lahir dan besar di Galesong, di lingkungan yang menjaga tata krama, Karaeng Toto sangat terusik juga dengan semakin lunturnya adab. Dia ingin mendorong tumbuh kembangnya pangngadakkang, adat istiadat.

“Ini tantangan berat untuk kita semua,” katanya sembari melihat kami semua yang telah pindah ke kolong rumah setelah menikmati santap siang bermenu konro nan lezat racikan istrinya.

Kediaman Karaeng Toto adalah rumah yang merupakan peninggalan orang tuanya. Rumah yang kini telah dimodel sebagai rumah ‘tetirah’ atau ‘saukang’.

Ada banyak kuot menarik di dalam rumah berikut foto-foto inspiratif, seperti saat dia bersama Presiden Jokowi serta saat baru saja mendapat gelar Doktor bersama saudaranya Prof. Kaemuddin Salle (almarhum).

Rumah kayu itu adalah rumah historis. Kayunya disebut berasal dari Kampung Bontonompo di Gowa dan mempunyai sejarah kepindahan yang mengagumkan, bagaimana rumah orang tuanya di Manari’ Bontoloe dipindahkan ke Tabbuncini karena gangguan DI/TII.

“Dulu, di tahun 1956, Galesong juga kacau. Bapak saya guru SR waktu itu. Karena tidak mau rumahnya dibakar DI/TII, rumah dibongkar dan dihanyutkan ke laut. Dari laut lalu dihanyutkan lagi ke sungai ini,” kenangnya. Rumah tersebut menurut Karaeng Toto tidak lagi utuh, sebagian ada yang lapuk sehingga diganti.

Hadirnya Balla Barakka’ menurut Karaeng Toto adalah sebagai pemantik kesadaran bersama untuk menumbuhkan-kembangkan spirit perjuangan Karaeng Galesong.

“Kaum muda, perlu mencari kemurnian semangat perjuangan Karaeng Galesong,” katanya.

Kenapa Karaeng Galesong sebab dia adalah sosok inspiratif.

“Saat usia 11 tahun Karaeng Galesong sudah hafal Alquran, sudah hafiz karena masuk pesantren,” kata pria yang punya obsesi untuk membangun replika bungung barania di sekitar Balla’ Barakka’.

Bungung Barania dikenal sebagai pemberi semangat, ada sugesti di situ. Siapapun yang masuk ke kompleks bungung barania akan putus urat takutnya, yang muncul urat beraninya,” katanya.

Nun lampau, ketika tradisi melaut masih dijalankan dengan sederhana, Bungung Barania adalah perekat solidaritas warga, menjadi titik penerapan tradisi. Titik ini menjadi saksi praktik perikanan seperti bandong, dermaga kayu yang runtuh hingga pasar ikan yang lambat laun memudar.

Apa yang mengganjal pikiran Karaeng Toto adalah realitas di sekitar bungung barania yang saat ini dikurung sampah. Di mana-mana sampah. Hal lain yang dia sayangkan adalah telah ditebangnya pohon raksasa tinggi bernama dandere serta pohon rindang ramba’.

“Padahal dandere ini adalah penanda tujuan pelayaran. Nelayan atau pelaut Galesong pertama kali akan melihat pohon ini dari jauh, sehingga menjadi penuntun,” katanya. Pohon yang dia maksud adalah beringin. Ada yang menjulang ada yang melebar dan lebat.

Di beberapa kawasan di pesisir Galesong seperti Kampung Sampulungang dan Karama’ masih dijumpai pohon dandere dan ramba’.

“Bubaraki kakaraenganga punna tena tommo anjo bungung barania, maka bubarlah kerajaan jika tidak ada lagi sumur berani itu,” ucapnya. Sumur yang disebutnya menawarkan air bersih dan tawar karena pengaruh akar-akar pohon raksasa seperti dandere dan ramba’.

“Kenapa ada yang berani tebang?” tanyanya terlihat gusar.

***

Obrolan kami menjadi menarik setelah beberapa peserta ikut memberi komentar tentang kiprah dan tanggapannya atas situasi Galesong Raya secara umum. Dilihat dari kacamata mereka yang lahir dan besar di sana.

Semisal, bagaimana Ismail Rasulong sebagai akademisi Unismuh telah memberi atensi pada pengembangan kelompok-kelompok pelaku ekonomi di pesisir Galesong melalui pendampingan usaha. Hal yang dilakukannya sejak beberapa tahun lalu dan perlu dipikirkan agar berdaya guna dan berdampak luas.

“Kita ada dampingan kelompok usaha, sudah lama. Harapannya bisa mengembangkan potensi nelayan seperti usaha ikan asap apalagi di Galesong bahannya tersedia. Ini yang kami bisa lakukan,” katanya.

Memanggil kaum muda (dok: pribadi)

Dia merasa harus ikut ambil bagian di tengah persoalan lemahnya keberlanjutan program-program bantuan Pemerintah di pesisir Galesong karena cara pendistribusiannya tak sesuai karakter masyarakat setempat.

Sementara itu Kasmajaya Daeng Nappa menyoal perlunya dukungan bagi pelaku usaha perikanan ikan terbang yang selama ini dikesampingkan dalam mengakses bantuan Pemerintah. Usaha ikan terbang adalah satu icon ekonomi Galesong Raya dan telah melahirkan banyak haji. Saat ini tidak kurang ada 5 ribuan nelayan patorani yang disebut wara-wiri ke Papua Barat dan Madura.

“Ada bantuan untuk mereka tapi tak sampai ke tangan mereka,” kata pria yang sedang memfasilitasi nelayan-nelayan patorani untuk terhubung dan memperjuangkan masa depan mereka melalui perserikatan ini.

Sementara itu, Husain Kahar Daeng Romo memaparkan bagaiamana isu kesehatan di Galesong Raya yang masih sangat bergantung dan ditentukan kesadaran warganya. Dia mengakui bahwa saat ini posisi derajat kesehatan di Galesong masih relatif rendah karena masih tingginya penyakit seperti diare.

“Bisa jadi berkaitan dengan kebiasaan mereka yang masih minum air yang tidak dimasak,” sebutnya. Hal yang menurutnya bisa menjadi entry untuk Balla’ Barakka mengambil peran di dalamnya.

Irvan anak muda Galesong yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas MIPA yang ikut dalam pertemuan itu, menyinggung perlunya menghidupkan tradisi-tradisi yang pernah ada di Galesong seperti pesilat atau pamanca’ sebagaimana juga dilontarkan oleh Karaeng Toto sebelumnya.

“Mungkin bisa nanti dibuatkan event antar pamanca se-Galesong Raya agar terpetakan ada berapa mereka. Jadi ini bisa dibuatkan video dan disebarkan,” katanya.

Banyak hal yang berkembang di obrolan tersebut mulai dari dimensi politik kontemporer, nilai strategis Balla Barakka’, urgensi kerjasama sosial di antara kaum muda Galesong, pernik kebudayaan dan pentingnya mengidentifikasi keunggulan historis Galesong Raya sebagai salah satu titik penting dalam sejarah Sulawesi Selatan maupun Indonesia.

Pertemuan tersebut sangat strategis dan membuka peluang untuk menggagas dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sukarela di Balla’ Barakka’.

Mereka setuju untuk mulai memikirkan dan menggagas semacama lokakarya riset desa plus pendokumentasian pernak-pernak keunggulan desa-desa atau kampung di Galesong Raya.

“Masa depan Galesong ada di kita semua. Banyak yang perlu dibereskan. Kita hanya perlu lebih banyak kaum muda Galesong yang sukarela melakukan ini. Bisa kajian desa, dimensi sosial, ekonomi hingga lingkungan. Itu dulu sebelum bicara solusi,” kataku.

Ucapan saya disambut Karaeng Toto dengan sigap. “Balla’ Barakka’ siap jadi tempat untuk merealisasikan rencana-rencana itu. Itu memang misi kita,” tanggapnya mantap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here