Simulasi Pinisi Bakti Nusa, Temuan Penting Hingga Hari Keempat

0
153
Anak-anak SD ikut 'sea trial' (dok: K. Azis)

Makassar – Klanews.id – Hari ini menjadi hari keempat Tim Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa menyusuri Selat Makassar. Saat tulisan ini dibuat, posisi pinisi di Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan, (29/8).

Berikut laporan Kamaruddin Azis dari DPP ISKINDO yang mengirimkan rilisnya ke Klanews.id.

Kamaruddin bersama Hartono mewakili Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) sekaligus sebagai periset sosial ekonomi dan kelautan. Keduanya membaur bersama 15 tim Yayasan Makassar Skalia (YMS), volunteer dan kru pinisi. Mereka melaksanakan ujicoba dan simulasi pelayaran di Selat Makassar sejak tanggal 26 Agustus 2018. Tanggal 30 Agustus tim dijadwalkan putar haluan ke Kota Makassar.

Kamaruddin melaporkan bahwa hingga di hari keempat, beberapa agenda kegiatan telah diujicobakan seperti bakti atau bantuan ke masyarakat pulau, riset sosial, telisik ekonomi pesisir, kebudayaan, pemantauan ekosistem karang, focus group discussion bersama warga pulau, hingga edukasi ‘sea sailing’ bersama anak-anak SD Muhammadiyah 2 Kota Pare-Pare.

Temuan penting

“Di Pulau Bontosua terekam geliat sejarah pulau, sejarah sosial ekonomi, kebudayaan maritim dan tantangan yang mereka hadapi dari waktu ke waktu. Ini bisa menjadi potret kecil tata kelola pesisir dan pulau kita saat ini,” katanya.

“Demikian pula relasi antara komunitas nelayan dan nelayan lainnya. Di Bontosua ada heroisme warga bernama Pak Ridwan yang selalu gigih memperjuangkan perlawanan pada pelaku illegal fishing. Juga peluang budidaya mutiara yang bernilai jutaan rupiah,” paparnya.

“Pada FGD yang digelar di kantor Desa Mattiro Bone, di Pulau Bontosua, terkuak potensi perikanan seperti purse seine, pemancing cumi dan beragam tantangan. Tapi jika ada isu yang perlu segera solusi dari pihak terkait maka itu adalah isu kesehatan dan pendidikan. Warga masih perlu disadartahukan tentang risiko jika tak mempunyai sistem sanitasi lingkungan yang baik. Sampah masih menjadi beban sosial, sampah di mana-mana,” paparnya.

“Saya bahkan melihat anak-anak SD tiga orang dengan pakain seragam buang sampah ke laut di sisi timur. Sayang juga, sebab tidak ada wadah khusus pembuangan sampah akhir terpusat di pulau, lahan terbatas,” katanya,

Dia menambahkan bahwa untuk isu pendidikan, perlu dipikirkan untuk pembangunan SMP di sana. Banyak anak-anak tamatan SD yang enggan lanjut ke jenjang SMP karena jarak jauh dan berpisah dengan keluarga, terutama anak-anak perempuan.

“Ada yang kelakar, makanya segera dikawinkan saja,” sebutnya.

Yang unik dan berbeda menurut Kamaruddin adalah, keberadaan perahu-perahu purse seine yang jumlahnya diperkirakan mencapai 30 unit dan bernilai miliaran.

“Saya kira ini potensi atau modal sosial yang sering kita abaikan. Bahwa sesungguhnya warga pulau sungguhlah kaya, mereka hanya perlu untuk reflektif akan situasi mereka dari tahun ke tahun,” katanya.

Tim mendokumentasikan kondisi perahu pinisi, sistem kerja, kenavigasian, ragam keindahan pesisir, laut dan pesona bawah air hingga kerja-kerja lapangan seperti observasi, wawancara dan panggung maritim dan hiburan ke warga pesisir dan pulau-pulau. Harapannya agar bisa menjadi panduan di ekspedisi berikutnya.

“Di Pulau Bontosua dan Pulau Barrang Caddi telah diujicobakan serah terima bantuan dari sponsor seperti pemberian kaca selam atau masks untuk anak-anak pulau, melakukan riset nelayan di Bontosua, observasi lapangan dan ekosistem karang. Beberapa peserta melakukan snorkeling dan penyelaman Scuba untuk penilaian terumbu karang secara sederhana dan cepat,” tambahnya.

“Secara umum kondisi karang masih bagus meski ada beberapa bagian yang nampaknya mengalami tekanan hebat seperti penggunaan bom dan bius ikan,” kata Hartono dari ISKINDO yang melakukan penyelaman. Ekspedisi ini menyiapkan 4 set scuba, lengkap.

“Anak-anak SD juga memperoleh edukasi tentang pentingnya konservasi laut, mengenal terumbu karang dan diperlihatkan proses pembuatan pinisi,” kata Kamaruddin.

“Menyenangkan melihat 28 orang anak-anak SD ikut berlayar di perairan Pare-Pare bersama Pinisi Bakti Nusa. Saya kira ini akan menginspirasi mereka,” tambahnya.

“Memang itu merupakan salah satu tujuan ekspedisi ini, mengobarkan jiwa kebaharian sebagai negara kepulauan,” kata Akbar dari Yayasan Makassar Skalia yang memberikan penerangan mengenai pinisi ke anak-anak di Pare-Pare tersebut.

Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa direncakanan berlangsung selama satu tahun penuh. Akan melayari Laut Nusantara dan berlabuh di 74 pulau-pulau dan pesisir strategis di Indonesia. Terbagi ke dalam dua rute yaitu Timur dan Barat serta akan disesuaikan kondisi medan dan kesiapan volunteer dan tim pendukung.

Satu ikhtiar mulia bermodalkan pinisi dan komitmen para pihak yang dimaksudkan untuk membingkai semangat nasionalisme akan keunggulan Indonesia sebagai Negara Maritim.

Tertarik jadi peserta atau mendukung insiatif keren ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here