Gagasan dari ‘Talkshow Marine Tourism’ BPPD Sulawesi Selatan

0
98
Suasana talkshow (dok: istimewa)

Makassar, Klanews.id – Kontributor Klanews.id, Kamaruddin Azis, menjadi peserta talkshow terkait masa depan pariwisata bahari Sulawesi Selatan pada tanggal 29 Agustus 2018 di Hotel Harper, Makassar. Banyak hal menarik, inspiratif dan prospektif untuk jadi pertimbangan bagi pihak terkait. Berikut laporannya.

***

Di awal tahun ini, Pemprov Sulawesi Selatan menargetkan 7,75 juta wisatawan selama gelaran ‘Visit Wonderful Indonesia 2018’ meliputi target 7,5 juta wisatawan Nusantara atau domestik dan 250 ribu wisatawan mancanegara. Bandingkan dengan target Pemerintah Pusat yang menyasar 17 juta wisatawan mancanegara akhir tahun ini.

Ada optimisme di sana, namun tidak sedikit pula kekhawatiran di tengah rendahnya kapasitas para pengelola dan pelaku pariwisata di Sulawesi Selatan terutama wisata bahari. Padahal, Sulsel yang mempunyai lebih dari 200 pulau-pulau kecil, mempunyai pesona keindahan pesisir dan ekosistem laut yang menyimpan potensi dahsyat jika ditangani dengan gesit dan tangkas.

Saat ini, Sulsel memang mempunyai beberapa destinasi yang lagi unyu-unyunya dipoles. Sebutlah Pulau Samalona atau Kodingareng Keke di Makassar, atol Taka Bonerate di Selayar, Pulau Kapoposang dan Cambang-Cambang di Pangkep hingga Pantai Marina di Bantaeng.

Atensi ke pariwisata bahari juga menemukan momentumnya sebab Gubernur terpilih Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullan adalah sosok yang disebut bertangan dingin dalam mengembangkan wisata bahari berciri ‘Marina atau kawasan wisata terpadu di pesisir dan laut’ seperti Pantai Seruni di Bantaeng.

Berkaitan dengan mimpi, perlunya strategi dan koordinasi pembangunan pariwisata bahari ‘marine tourism’ Sulawesi Selatan dan posisi strategis kabupaten seperti Selayar tersebut, Unsur Pelaksana Badan Pengelola Pariwisata Daerah (BPPD) Sulawesi Selatan menggelar talkshow di Hotel Harper, tanggal 29 Agustus 2018 lalu.

***

Hangat dan inspiratif. Itu kesan ketika mengikuti silaturahmi pengambil kebijakan, perencana dan pelaku kepariwisataan bahari Sulawesi Selatan tersebut.  Saya sebut saja silaturahmi karena kesan informalnya lebih terasa terutama sebelum masuk ke sesi talkshow ‘Upi Show’.

Saya beruntung mengobrol dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Andi Musaffar Syah, Wakil Bupati Selayar, DR. Zainuddin dan jajaran eselon II dari Selayar seperti Basok Lewa, Bappeda. Makkawaru, Kadis Kelautan dan Perikanan serta Andi Abdurrahman, kepala dinas Pariwisata Selayar.

Juga dengan Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Sulsel, Andi Januar Jaury Dharwis, Didi L. Manaba, Ketua DPD Asosiasi Tour & Travel Agent (ASITA) Sulawesi Selatan, Anggiat Sinaga, Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel.

Menyenangkan juga mendengar perspektif Paulus Mintarga, Konsultan Pengembangan Pariwisata Selayar yang saat ini banyak mewarnai desain proyeksi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Selayar. Juga menyimak tanya menggelitik dari jurnalis kawakan Upi Asmaradhana, sosok yang juga Koordinator Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Timur.

Saya mulai dari pernyataan bertenaga dan reflektif Kadis, Andi Musaffar Syah.

“Pariwisata Sulawesi Selatan harus melibatkan banyak pihak karena ini memang multisektor. Tidak mungkin berkembang kalau terkungkung. Harus berkolaborasi dengan unsur-unsur di BPPD,” tegasnya.

Musaffar menegaskan bahwa demi percepatan pertumbuhan dan pengembangan promosi pariwisata Sulawesi Selatan, maka semua pihak harus bekerja sama, kolaboratif dan sungguh-sungguh menyuskseskan Sulawesi Selatan sebagai Jantung Pariwisata Indonesia atau The Heart of Wonderful Indonesia.

Salah satu pertimbangannya adalah posisinya yang merupakan hub Indonesia yang seharusnya bisa membuat para pihak lebih kreatif dan inovatif.

Pesona pantai timur Selayar (foto: istimewa)

Harus diakui bahwa terkait pariwisata Sulawesi Selatan, publik memang lebih tahu Toraja dan Kota Makassar yang menyimpan tempat-tempat historis seperti Fort Rotterdam hingga Benteng Somba Opu. Untuk pariwisata bahari ada Bira dengan pantai pasir putihnya yang memikat di Bulukumba atau mungkin Pulau Kapoposang di Pangkaje’ne Kepulauan.

“Tapi itulah, kita masih kalah jauh dari Bali dan Lombok. Padahal kalau potensi sektor pariwisata bahari Sulawesi Selatan, saya yakin, kita tak kalah. Polesan mereka memang lebih berkelas dan didukung sumber daya manusia yang memang jauh berpikir ke depan. Apalagi sejak gencarnya teknologi informasi, social media,” kata Andi Januar Jaury Dharwis.

Januar mengambil contoh Selayar. Dia menyebut bahwa meski mempunyai kawasan atol Taka Bonerate yang mempunyai luas hingga 200-an ribu hektar, namun Selayar belum diperhitungkan sebagai salah satu potensi ‘mega tourism’ di Sulawesi Selatan.

“Karena kita masih parsial, sekadar event tahunan, tanpa paket yang bernuansa jangka panjang dan terhubung satu sama lain,” sebut sosok yang mengaku sering bepergian ke Taka Bonerate termasuk mengikuti Taka Bonerate Islands Expedition saban tahun namun masih geregetan mengapa Sulsel atau Selayar belum optimal.

Terkait pandangan Januar tersebut, Wakil Bupati Selayar, DR. Zainuddin menyatakan bahwa potensi Selayar memang tidak kalah dengan kabupaten lain termasuk Wakatobi.

“Saya melihat majunya pariwisata Selayar berkaitan pula dengan kebijakan yang lebih tinggi. Koordinasi dan dukungan Kementerian sangat diperlukan. Semoga masuknya Selayar sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) akan memberikan dampak nyata. Pada ketersediaan infrastruktur dan tentu saja keterhubungan antar sektor, seperti kelautan dan perikanan, barang dan jasa,” katanya.

Dengan KEK, Zainuddin optimis bukan hanya karena akan ada anggaran dan perhatian Pemerintah Pusat tetapi komitmen insititusi dan koneksitas antar kawasan.

“Termasuk dari unsur Pelindo IV,” katanya sembari melirik ke Jusuf Junus, wakil direktur bidang perencanaan dan strategi Pelindo IV sesaat sebelum acara talkshow. Jusuf menanggapi bahwa sudah menjadi komitmen Pelindo IV untuk membantu daerah-daerah yang sedang membangun infrastruktur dan jasa kepelabuhanan terutama kargo, termasuk Selayar.

Selayar dan KEK

Sejak diumumkan oleh Pemerintah sebagai salah satu lokasi KEK pada bulan Februari lalu, para pihak di Selayar berbenah. Pencapaian tersebut sebagai loncatan sekaligus tantangan.

Hal tersebut dapat dilihat dari sudut pandang promosi program, menyiapkan produk wisata, sehingga ada yang harus menjadi penekanan, pada langkah-langkah strategis, ekonomis dan dampak sistemiknya.

Ketika Selayar disetujui oleh Dewan Nasional KEK maka ini akan menjadi representasi kekuatan bahari Sulsel dan ini perlu dipahami dan tersinkronisasi dengan kabupaten-kota lain.

Pemandangan Pulau Tinabo (fofo: istimewa)

Dengan menjadi KEK, maka Selayar harus dapat memanfaatkan keunggulan posisional Makassar sebagai hub penerbangan termasuk memanfaatkan angan agar terbentuk 1000 Marina seperti di Bantaeng di beberapa titik strategis Sulawesi Selatan, dari Selayar hingga Pinrang dan Luwu Timur.

Terkait hal tersebut, menarik mendengar paparan konsultan pariwisata bahari, Paulus Mintarga saat ditanya modertaor Upi. Tentang gagasan Marina dan posisi strategis Selayar.

Paulus menyebut bahwa saat bicara pariwisata seperti lokasi Selayar maka yang pertama menjadi rujukan baginya adalah Karibia. Karibia adalah referensi dunia.

“Karibia berkaitan dengan pengelolan oleh 5 negara dan mereka punya Marina sebagai titik sentralnya. Mereka menghasilkan US$ 400 miliar atau 3 kali devisa Indonesia. Yang kedua adalah Maldives, GNP-nya lebih banyak dari pariwisata,” sebutnya.

“Kemudian kalau melihat Karibia dan Maldives, kami ibaratkan Selayar dapat merepresentasi kedua lokasi itu,” katanya.

“Secara alam, kombinasi Karibia dan Maldives, ada di Selayar,” kata Paulus. Kendalanya apa? Kenapa belum semaju mereka, menurut Paulus karena belum adanya regulasi yang kuat, makanya sangat menggembirakan ketika telah ada KEK Selayar.

Dari perspekif pengusaha hotel dan restoran, menurut Anggiat Sinaga, Ketua PHRI Sulsel, pariwisata dan bisnis hotel ibarat ada gula ada semut.

“KEK, itu blessing untuk Sulsel, kita harus bisa bergerak cepat. Pemerintah Selayar jangan hanya bangga, harus bergerak cepat. Pada konteks PHRI, sebenarnya, boleh-boleh saja. Buat surat, surati kita dan kita undang investor hotel. Dibuat pemetaan, ini kawasan KEK dan Bupati bisa jelaskan ini,” kata Anggiat.

Menurut Anggiat, segala sesuatunya harus dijelaskan, baik aksesibilitas, listrik, air tawar, limbah.

“Ini kawasan (Selayar) sangat menjanjikan,” katanya. Buat kita, kata Anggita, sangat mudah mengerakkan investor karena sekarang ini banyak investor mencari alternatif.

“Makassar oversupply, Selayar sangat menjanjikan. Saya bisa menjanjikan, para investor hadir dan Wakil Bupati bicara,” tambahnya sembari melihat ke Wakil Bupati Zainuddin.

Didi L. Manaba, ketua ASITA mengingatkan perlunya kesiapan Pemerintah Daerah. “Jangan sampai kita bawa tamu tetapi belum siap, kita harus bicara apa adanya, supaya bisa disampaikan ke para tamu tersebut,” sebutnya.

“Kalau tidak ada bus, dan kapal kecil, kami akan ceritakan semua. Di situlah fungsinya ASITA bikin paket, Kita tidak sembarang,” tambahnya.

Sementara itu Wakil Bupati Selayar menanggapi bahwa pariwisata merupakan sektor besar dan Pemerintah tidak bisa kerja sendiri.  “Untuk mencapai obyek, kita perlu sarana prasarana, angkutan, akomodasi, kuliner, akses. Harus secara simultan dan kita sudah berusaha merealisasikan semua itu,” katanya.

Dia juga menyebut terkait pembebasan lahan yang sudah secara perlahan diselesaikan.

“Kita sangat berharap agar aspek legalitas juga beres. Barangkali saja Bapak Presiden bisa menggerakkan Kementerian lainnya,” kata Zainuddin yang mengaku pernah ke KEK Karimata.

Menurutnya, koordinasi lintas Kementerian sangat penting sebab posisi Selayar yang mempunyai Taman Nasional Taka Bonerate harus dilihat dari berbagai aspek, jadi bukan semata pemanfaatan tetapi pelestarian.

“Sekali lagi lagi, saya katakan ini proyek besar dan harus didukung oleh provinsi dan kabupaten/kota liannya. Kita butuh tangan dingin investor,” katanya. Di data Wabup, hingga pertengahan tahun 2018, dari target wisatawan hingga 11 ribu, realisasinya sudah sampai separuhnya atau 6 ribu.

Pertemuan tersebut menyepakati untuk bersama mendukung Selayar sebagai salah satu harapan Sulawesi Selatan dalam mengoptimalkan potensi kepariwisataan terutama pariwisata bahari.

Upi Asmaradhana mengunci obrolan dengan menyebut bahwa berbagai institusi telah menyatakan komitmennya untuk membantu Selayar dalam mengakselerasi pengembangan parwisata bahari ‘marine tourism’.

“Konkretnya, kita akan sama-sama ke Selayar di bulan Oktober 2018 nanti. Ada BPPD, PHRI, ASITA, asosiasi GM Hotel, dan banyak lagi yang ingin membantu Selayar. Pak Wabup, mohon sampaikan ke Pak Bupati, kita akan ke Seayar,” tegasnya.

Upi betul, ini momentumnya Selayar. Menurut Anda?

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here