Begini Lika-Liku Bisnis Perberasan di Sidrap

0
100
Paket beras asal Sidrap (dok: istimewa)

Sidrap – Klanews.id – Dengan luas areal sawah mencapai 9.000 hektare menjadikan Sidenreng Rappang sebagai kabupaten dengan lahan pertanian terluas di Sulawesi Selatan. Dalam setahun, petani mampu panen sebanyak tiga kali. Hal ini tentu menjadikan Sidrap sebagai kontributor utama beras nasional.

“Jika Sulawesi menjadi kontributor terbesar beras di Indonesia, maka Sidrap tentu menjadi kontributor utama Sulawesi,” kata Nasruddin yang berprofesi sebagai pedagang beras antar pulau di Sidrap saat ditemui Klanews.id.

Ia juga menyebutkan bahwa beras di Sidrap memiliki kualitas yang baik dibanding daerah di Jawa.

“Pemilik pabrik besar di Cipinang, Semarang, Surabaya itu mengambil beras di Sidrap untuk dijadikan bahan baku beras premium yang membidik ekonom menengah ke atas,” tambahnya.

Terdapat perbedaan besar antara beras premium dengan beras biasa. Selain dari segi harga tentunya tampakan beras premium dengan beras biasa jauh berbeda.

“Jika kita melihat beras yang memiliki warna butuh atau bening maka itulah beras premium, sedangkan beras yang buram dan terkadang hitam itu beras biasa,” jelas ayah dua anak itu.

Sebenarnya antara beras premium dan beras biasa memiliki bahan baku yang sama,  yang membedakan adalah jumlah proses yang dilaluinya.

Beras biasa hanya melalui satu kali proses penggilingan, sedangkan beras premium ini melalui dua kali tahap penggilingan yang dikerjakan oleh mesin poles.

“Mesin poles inilah yang membersihkan dan mencerahkan warna beras biasa yang dari agak hitam atau kabur menjadi putih dan bening,” sebut Pak Nas, sapaan akrabnya.

Jika hanya dipoles sekali saja, beras itu masih dalam kategori beras slip yang berada satu tingkat di bawah beras premium. Beras yang mengalami dua kali poles makan dikategorikan beras premium atau kualitas terbaik.

“Untuk sekarang harga beras biasa berkisar 8.200, beras slip berkisar 9.600, sedangkan beras premium bisa 10.000 – 12.000 di pasar,” jelasnya.

Menurut Nas, beras premium terbaik saat ini berasal dari Cipinang yang bahan bakunya diambil dari Sidrap. Keunggulan pemilik pabrik di Cipinang adalah ketersediaan alat poles moderen yang memiliki kualitas yang tinggi dibanding alat yang di pakai di daerah lainnya.

“Untuk alat poles saja harga satu setnya sekitar satu miliar. Jadi butuh dana besar untuk pengadaan alat seperti itu,” ujarnya.

Saat ditanya hambatan dalam usahanya, Nas memulainya dengan tertawa sambil berbisik. “Diri kita sendiri, karena tantangan utama adalah bersikap jujur,” katanya.

Ia melanjutkan bahwa pekerjaan yang memiliki banyak kebohongan itu berdagang, apalagi berdagang beras.

“Terkadang saya temukan, pedagang yang ingin menurunkan harga berasnya di pasar agar lebih murah dibanding pesaingnya, mereka mengurangi kadar timbangannya ½ kg – 1kg. Bisa dibayangkan jika dia produksi seribu karung kemudian setiap karungnya dikurangi 1 kg, pastilah harganya lebih murah,” katanya lagi.

Selain cara di atas, ada cara lain yang biasa digunakan pedagang menekan harga tanpa harus mengurangi kadar timbangan. Mencampur beras kualitas slip atau premium dengan broken.

“Broken adalah beras yang patah 3 atau patah 4, beras yang patah ini dijual murah oleh otortitas terkait atau pabrik-pabrik lokal. Nah, beras broken inilah yang dijadikan campuran untuk menggenapkan timbangan beras slip atau premium sehingga harganya bisa lebih murah dibanding beras premium lainnya,” jelas Nas.

Karena permainan seperti itu, Nas mengaku terkadang tersingkir di pasar.

Sebagai konsumen tentu akan memilih harga yang lebih rendah. Hal seperti itu tentu saja di luar kendali seorang pedagang, pilihannya adalah ikut dalam permainan atau konsisten dalam pola dagang yang jujur.

Hal itu ternyata tidak membuat Nas ikut dalam settingan pasar.

“Saat ini saya lebih memilih menawarkan beras saya ke perusahaan-perusahaan, hotel, dan restoran dengan menjaminkan kepada mereka kualitas dan mutu yang terjaga,” ucapnya.

Pemilik CV. Mega Rezeki itu mengaku telah mengirimkan beras miliknya ke berbagai perusahaan di Kalimantan, Palembang, Timika, Sorong, Ambon.

“Sasaran saya ke perusahaan tambang, kelapa sawit, perusahaan penerbangan, hingga hotel. Karena proses seleksi mereka yang ketat mengharuskan kita menjaga kualitas beras,”

Pak Nas yang mengenyam pendidikan hingga bangku SMA tidak banyak mengerti soal teori dagang maupun ekonomi, semuanya didapat dari pengalaman dan pengamatan selama 15 tahun menjadi pedagang beras antar pulau.

“Sejauh pengalaman saya, yang paling penting dalam berdagang adalah mitra, dan cara menjaga mitra kerja adalah kejujuran,” pungkas lelaki 42 tahun itu. (Trian Fisman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here