Dr. Asbar Laga, Konsistensi dan Perspektif Kelautannya

0
114
Dr. Asbar Laga (dok: istimewa)

Tarakan, Klanews.id – Apa yang membuat Anda dapat terhubung sumber inspirasi dan dengan itu merasa telah tiba di jalur tepat untuk berbagi kepada orang-orang di sekitar, pada lingkungan?  Jika pertanyaan itu diajukan ke Dr. Asbar Laga, akademisi Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara, maka jawabannya adalah konsistensi dan berjejaring.

Karena konsistensi itu, dia tetap bertahan sebagai tenaga pengajar pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Borneo di pertengahan tahun 2000-an meski apa yang diperolehnya sungguhlah jauh dari harapan layaknya dosen universitas.

Diajak teman

Setamat kuliah di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin 1997, dia pulang kampung ke Enrekang, Sulawesi Selatan – 300 kilometer ke utara Makassar – dan  layaknya alumni Kelautan, ‘nyambi’ jadi pekerja LSM. Sungguh jauh dari rasa-rasa asin air laut.

Namun, lantaran merasa haus pengetahuan, tak mau sekadar sarjana dan menunggu nasib baik mendekat, lantaran sikap yakinnya bahwa ada peluang besar di bidang Kelautan, Asbar muda memilih memanfaatkan peluang kuliah S2 melalui jalur beasiswa.

Dia pun mengurus agar bisa mendapat rekomendasi dari Universitas 45 Makassar. Universitas yang disebut pemiliknya merupakan tokoh masyarakat Enrekang.

“Tidak ada niat untuk jadi dosen sesungguhnya, saya hanya ingin kuliah S2 dan menambah pengetahuan terkait kelautan,” ujarnya. Dia akhirnya kuliah di Institut Pertanian Bogor di tahun 2005 berbekal beasiswa.

Perkenalannya dengan salah seorang mahasiswa Pasca Sarjana asal Kota Tarakan yang juga dosen di Universitas Borneo berbuah kesempatan di tengah kesempitan peluang bagi alumni-alumni Kelautan untuk berkiprah saat itu.

Dia pun ditawari jadi dosen, atau tepatnya diminta untuk mendaftar jadi dosen. Hal yang kemudian mengubah keadaannya, mengubah jalan hidupnya.

“Setamat kuliah, saya langsung mendaftar dan diterima,” katanya. Gaji pertamanya saat itu menurutnya belum bisa menutupi kebutuhan hidup dan akomodasinya selama di Tarakan. Asbar tak punya keluarga di sana.

Dengan gaji ‘hanya’ 800 ribu perbulan, jumlah mahasiswa dihitung jari, bahkan sekali waktu hanya mengajar lima orang mahasiswa, dia harus berjibaku dengan emosi batinnya, bertahan atau terus mengabdi di bidang kelautan dan perikanan.

“Pernah berpikir untuk pulang kampung saja, kembali mengurus LSM Penghijauan di Enrekang,” akunya seraya tersenyum tipis saat ditemui di lobby Hotel Milia, Tarakan, (14/9).

Tapi dia tak kehilangan semangat. Dia ikut aktif pada proyek-proyek kelautan, salah satunya Coastal Resources Management Program CRMP yang didukung oleh USAid dalam tahun 2006 dan menjadi fasilitator di program itu. Ini pun juga karena dia terhubung dengan beberapa teman kuliahnya dahulu.

Dari program itu, dia mendapat banyak inspirasi tentang tema-tema pembangunan pesisir dan laut di pesisir Kalimantan termasuk Tarakan.

Asbar saat ini adalah dosen pada jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan, pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Borneo, Tarakan. Perguruan tinggi yang mendapat pengakuan status Negeri dari Pemerintah pada tahun 2010.

Dia pun naik level otomatis menjadi PNS dan mendapat kesempatan untuk studi S3 di IPB. Posisi yang membuka banyak kemungkinan dan kesempatan untuk mendarmabaktikan kompetensinya tentang dimensi Kelautan pada agenda pembangunan Kota Tarakan dan Kaltara secara umum.

“Meski FIKP, tapi saat ini baru ada tiga jurusan, Manajemen Sumber Daya Perairan, Budidaya dan Teknologi Hasil Perikanan. Universitas tetap menggunakan nama itu,” katanya.

Selain Asbar yang merupakan alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin bersama satu senior lainnya bernama Amrullah Taqwa yang merupakan putra Tarakan, di UBT terdapat juga beberapa pengajar yang datang dari beragam perguruan tinggi seperti IPB Bogor, Unibraw Malanag, UNDIP Semarang, Unhalu Kendari hingga Universitas Riau.

“Tenaga pengajar di fakultas kami ada sekitar 30 orang. Ada tujuh orang yang sedang sekolah untuk gelar doktor,” sebut pria yang mengaku sempat mendalami pendekatan EAFM yang banyak dipraktikkan di beberapa negara ini.

Perhatian Asbar

“Pendekatan RZWP3K yang ada masih pendekatan sains seperti MSY, harusnya tetap mempertimbangkan misalnya pendekatan EAFM yang menekankan 8 parameter. Seperti jumlah nelayan, kondisi eksisting, panjang garis pantai hingga kepatuhan pada aturan yang ada,” katanya.

Menurut FAO (2003), pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem atau Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) adalah pendekatan yang hendak menyeimbangkan tujuan sosial yang kompleks dengan memperhatikan pengetahuan dan ketidakpastian yang terdapat pada sumber daya biotik, abiotik dan manusia.

Ada beberapa hal yang digarisbawahinya berdasarkan pengalamannya dalam proses penyusunan RZWP3K selama ini, misalnya bagaimana menghitung jumlah perahu atau kapal dalam menilai daya dukung satu kawasan pemanfaatan.

“Semisal, mereka para perencana merekomendasikan berdasarkan jumlah perahu. Harusnya bukan berapa satu satuannya tetapi berapa volumenya, berapa groston. Satu kapal dengan groston 25 groston akan setara dengan 5 unit kapal berbobot 5 groston,” katanya.

“Maksud saya, harusnya RZWP3K itu menyebukan volume, detail, bukan misalnya ada 50 atau 100 kapal, dan seterusnya, tetapi berapa volume grostonnya,” ucapnya.

Tak hanya fokus mengajar, Asbar juga menunjukkan perhatian dan konsistensi keilmuannya pada isu-isu kelautan dan perikanan di Kalimantan Utara.

Ada beberapa isu yang menjadi perhatian Asbar sebagai akademisi.

Yang pertama adalah kualitas dan dimensi perencanaan pembangunan pesisir dan laut di Kalimantan Utara melalui Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) yang merupakan amanat UU Pemerintahan No. 23/2014.

“Dokumen RZWP3K harus disusun berdasarkan kajian kewilayahan, mempertimbangkan relasi antar provinsi katakanlah pada area WPP,” katanya.

“WPP ini kan lintas provinsi, jadi masing-masing provinsi punya wilayah laut di situ, kalau mereka menyusun RZWP3K dan menggunakan pendekatan WPP maka pertanyaan kritisnya adalah benarkan ikan yang mereka klaim sebagai potensi tidak masuk ke wilayah provinsi lain?” katanya.

“Poinnya, apakah provinsi-provinsi dalam menyusun RZWP3K mempertimbangkan keterhubungan mereka di 11 WPP yang ada itu?” tanyanya.

“Menurut saya ini berkaitan dengan kevalidan data juga. Jangan sampai terdata 1 ikan berulang-ulang. Yang sebenarnya cuma  1, terhitung tiga karena tiga provinsi yang mengklaimnya. Padahal ini ada hubungannya dengan perizinan yang akan dikeluarkan nantinya,” ucapnya.

“Yang kedua adalah perlunya melibatkan kabupaten/kota dalam penyusunan RZWP3K termasuk implementasi dari regulasi. Meski kabupaten/kota tidak mengurus perizinan, sudah tidak punya laut lagi tapi bagaimanapun nelayan kan tersebar di wilayah mereka. Jadi perlu mengajak mereka,” katanya.

“Yang ketiga, perlunya penindakan pada pelaku-pelaku illegal, termasuk praktik mark down kapal itu dan penegakan hukum,” katanya.

Dia menyebut beberapa lokasi mulai mengarah pada konflik pemanfaatan ruang seperti yang terjadi di daerah Sadau. Di Pantai Amal, ada overlap antara lahan pemancingan atau pemasangan pukat dengan lokasi budidaya rumput laut.

“Itu harus segera diantisipasi,” katanya.

Tentang SKPT Sebatik

Saat dimintai pendapatnya tentang program Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Sebatik yang sedang diakselerasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di Sebatik Utara, Asbar meningatkan pentingnya perhatian pada kapasitas pemangku kepentingan di sana terutama nelayan.

Di pandangannya, potensi sumber daya perikanan di Kaltara cukup besar karena itu banyak nelayan yang tergoda mempunya gill net yang besar. Bahkan ada yang mempunyai hingga 75 lembar jaring dimana 1 lembar bisa sepanjang 30 meter.  Jadi kalau 75 lembar sama dengan 2 kilometer.

Yang diperlukan nelayan Sebatik menurut Asbar adalah modernisasi usaha perikanan. Selama mereka banyak beroperasi di perairan demersal atau dangkal tetapi ke depan perlu dipikirkan untuk usaha perikanan jarak jauh atau offshore.

Dari ribuan nelayan Kalimantan Utara menurut Asbar, ada 70% berada di Tarakan atau sekitar 3000-4000 orang. Jumlah nelayan di Sebatik tidak begitu banyak dan perlu ditingkatkan kapasitasnya.

“Kapasitas terbatas, sebagian besar nelayan beroperasi jarak dekat. Tapi secara umum potensi masih cukup besar seperti misalnya ketersediaan ikan demersal, ikan pelagis seperti ikan kurau dan ikan bawal,” katanya.

“Ikan bawal putih masih banyak. Ukurannya masih ada sampai 700 gram per 1 ekor dan masih dapat ditangkap di perairan jarak dekat,” katanya optimis. (Penulis: K. Azis)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here