Destinasi Selayar Menurut Kriteria Standar Pariwisata

0
40
Rumah khas Bitombang kas Selayar (dok: Asri)

Ada empat aspek yang acap direweli para wisatawan, ke mana dan di manapun menuju. Keempatnya adalah kepastian atas keragaman atraksi, kemudahan akses, ketersediaan fasilitas dan dukungan institusi (kelembagaan) sebagai pengaman.

Lalu jika dikaitkan Selayar sebagai salah satu destinasi wisata andalan Sulawesi Selatan, sungguhkah keempat aspek itu telah dipenuhi?

Saya bisa bilang 100% sudah siap dijelalah meski belum sepenuhnya ideal menurut selera kelas jetset apalagi yang bersepatu hak tinggi. Destinasi Selayar adalah destinasi yang harus sesuai prosedur dan tentu saja sesuai kesepakatan bersama untuk sebuah trip, bisa jadi antara Pilot, nakhoda dan operator atau dengan penyedia layanan jas seperti operator selam hingga pemilik penginapan.

Mari kita lihat, aspek attraction atau daya pikat.

Tentu saja Selayar punya daya tarik. Yang paling sering disebut adalah hamparan pulau-pulaunya yang mencapai angka 120 biji. Di pulau-pulau ini tersebar pesona di darat seperti bukit-bukit yang didiami warga dengan segenap ciri khas sosial budayanya.

Selayar punya daya tarik wisata yang aduhai, dari pesisir dan bukit-bukitnya. Dari pantai Baloiyya hingga Pantai Pulau Tinabo di Taka Bonerate. Bisa jadi lokasi petualangan seperti Pulau Kakabia di timur atau Pulau Madu di tenggara. Sumberdaya alam maupun akseptasi masyarakatnya juga sangat hangat dan welcome.

Sosial budayanya bisa diandalkan, mulai tari-tarian, seni pencak silat, hingga seni lisan batti-batti.

Belum lagi flora-faunanya. Hutannya masih asri, pohon-pohon besar menjulang masih ditemui di pesisir timur demikian pula di Pulau Bonerate dan Jampea.

Peninggalan purbakala juga ada seperti Nekara dan Jangkar Raksasa, ada pula wisata tirta dan wisata petualangan tersedia. Rumah tua Bitombang, kampung tua Bissorang di puncak bukit, keindahan Liang Kareta, Gusunga hingga air terjun Patikore adalah jawaban atas dimensi atraksi ini.

Lalu yang kedua, akses, accessibility (aksesibilitas).

Gimana dengan akses? Penerbangan yang penuh tiap hari, bahkan ada pesawat hingga tiga kali dalam sehari adalah bukti shahih bahwa Selayar bukan lagi destinasi ecek-ecek.

Soal akses dan tentu saja kenyamanan melekat pada moda transportasi yang ada, pada peran serta pengelola jasa layanan seperti maskapai dan operator darat.

Jika hendak ke pulau pastikan saja boat yang ditumpangi, lengkap life jacket, kotak P3K, keamanan di atas kapal dan kecakapan krunya. Transportasi ke Selayar beragam, mau naik bus ada, naik fery ada, naik pesawat juga ada.

Pemerintah setempat tak segan-segan memberi peringatan dan tindakan jika ada operator wisata serampangan dalam menangani tamu.

Jika ingin naik fery, manajemen perhubungan sedang ditata sebaik mungkin dan jika ingin melewati moda ini tak soal sebab semua standar yang digariskan oleh Kementerian Perhubungan telah dibereskan.

Akses telekomunikasi? Sudah beres.

Tetamu yang mau ke Taka Bonerate sudah dimanja koneksi internet melalui gadget yang ada di tangan. Dari Pulau Rajuni, kita bisa ber-halo-halo dengan seluruh dunia. Tidak seperti dulu.

Faktor amenitas? Diakui bahwa faktor amenities adalah salah satu syarat daerah tujuan wisata agar wisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di lokasi dimaksud. Hotel, restoran, sudah lebih dari cukup. Apalagi jika ingin tinggal di resort.

Ada Jochen di timur, ada pula Sunari di barat.

Aspek keempat yang sering ditanyakan wisatawan adalah aspek Ancillary services atau kelembagaan. Lembaga kepariwisataan yang ada di Selayar telah belajar dari pengalaman, mereka telah berbenah dengan membenahi dimensi kenyamanan, kepatutan dan kenyamanan.

Selama ini, sejauh ini, justeru aparat keamanan yang ikut mempromosikan misalnya snorkeling dan diving aman, aktif kampanye pelestarian terumbu karang dan terdepan dalam menjaga lancarnya agenda wisata ke Selayar.

Memang, di tahun 90-an hingga 2000-an, akseptasi warga terkait wisata bahari masih setengah hati. Saat itu, konflik antar pemilik resort dan warga sering mengemuka termasuk menolak adanya homestay di Pulau Rajuni, tetapi waktu telah menjawab, dengan menggeliatnya wisata bahari mereka juga yang akan mendapat manfaatnya.

Coba lihat menggeliatnya Baloiyya atau Pantai Sunari yang kian berkelip. Demikian pula homestay Lola yang telah menjadi hunian layak di Pulau Rajuni, Taka Bonerate.

Destinasi Selayar akan menjadi semakin kinclong jika plot Pemerintah untuk menjadikannya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata direalisasikan dalam waktu dekat.

Apa lagi?

Penulis: Kamaruddin Azis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here