Berkaca ke Desa Pariti Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Mangrove

0
69
(dok: Klanews.id) Masyarakat memanfaatkan hutan mangrove untuk mencari ikan, kepiting, udang dan kerang

Jakarta, Klanews.id – Masyarakat di Desa Pariti, Kabupaten Kupang, sangat menjaga kelestarian hutan mangrove. Ini telah mereka lakukan selama turun-temurun, dari generasi ke generasi.

Mangrove menjadi bagian yang penting dan terpisahkan oleh masyarakat Desa Pariti dan sekitarnya. Banyak masyarakat yang menggantungkan hidup untuk mencari ikan, udang, kepiting, dan kerang di sekitar hutan mangrove. Baik itu untuk dijual ataupun untuk konsumsi sehari-hari.

Menurut Titus Le, Sekretaris Desa Pariti, kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan mangrove karena mereka sadar akan fungsinya. Sejak dahulu, dari nenek moyang, kesadaran ini telah ada.

“Berkaca dari kejadian tsunami di Aceh dan baru-baru ini di Palu yang memakan banyak korban jiwa, kami semakin sadar akan pentingnya keberadaan hutan mangrove yang bisa menjadi ‘peredam’ ombak tsunami”, tutur Titus.

Mangrove menjadi salah satu tumbuhan yang dapat menjaga perbatasan antara kawasan daerah daratan dan perairan. Erosi pantai akan terus menggerus perbatasan permukaan tanah yang bertemu langsung dengan air pasang.

“Erosi dapat mengancam lingkungan masyarakat, karena berkurangnya tanah dan meluasnya perairan. Pada kondisi lebih serius kurangnya penahanan airpun dapat menyebabkan bencana alam yang besar. Hutan mangrove menjadi salah satu sarana yang mampu mencegah erosi dan abrasi pantai”, lanjut Titus.

Di Desa Pariti telah ada Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur tentang pemanfaatan dan menjaga kelestarian hutan mangrove. Didalamnya juga ada aturan atau hukuman bagi yang melanggar aturan tersebut.

Baca Juga: Pantai Sahraen, Surga Tersembunyi Wisatawan Australia di Kabupaten Kupang

Marthen Pelokila, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Ekosistem Mangrove Desa Pariti mengungkapkan bahwa, upaya untuk menjaga kelestarian mangrove terus dilakukan dan dijalankan dengan ketat.

“Jika ada masyarakat yang merusak hutan mangrove akan dikenakan hukuman atau sanksi. Biasanya dikenakan denda berupa babi dan beras yang jumlahnya sesuai dengan tingkat kerusakan yang dilakukan”, terang Marthen.

Selain peraturan tertulis dalam bentuk Perdes, juga ada peraturan lain yang tidak tertulis yang masih terus dijalankan, yaitu Hukum Adat.

“Di Desa Bipolo, desa yang berbatasan dengan Desa Pariti, terdapat pohon bakau besar yang dikeramatkan. Di pohon bakau tua itulah, tempat berlangsungnya sumpah adat yang dilakukan oleh tetua adat dari berbagai desa untuk melindungi hutan mangrove dan laut”, lanjut Marthen.

Setiap tahunnya, biasanya pada bulan April – Juli, Kelompok Pengawas Ekosistem Mangrove melakukan penanaman mangrove. Kelompok yang telah berdiri sejak tahun 2000 ini, biasanya melibatkan anak-anak dalam penanaman mangrove yang mereka lakukan. Upaya ini dilakukan untuk membangun kesadaran menjaga kelestarian hutan mangrove sejak usia dini. (RSP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here