Sirih Pinang, Budaya dan Suatu Bentuk Penghormatan

0
113
(dok: Klanews.id) Oko Mama, wadah yang berisi sirih, pinang dan kapur sebagai sajian untuk tamu

Jakarta, Klanews.id – Mengonsumsi sirih pinang sudah menjadi kebiasaan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Menginang bahkan sudah menjadi budaya sejak dahulu kala.  Sirih pinang telah dikenal sekitar abad ke-6 masehi.

Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah yang masih sangat kental dengan budaya makan sirih pinang. Kebiasaan ini tidak mengenal umur, anak-anak, remaja, ibu-ibu dan lansia sangat menyukainya. Memamah sirih pinang tidak mengenal waktu, kegiatan tersebut dilakukan pagi hari, siang hari, maupun malam hari. Sudah seperti ‘ngopi’ bagi mereka.

Sirih Pinang Sebagai Bentuk Penghormatan

Di Kabupaten Kupang, sirih pinang tidak hanya sebagai kebiasaan saja. Hal ini juga erat dengan tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan. Sirih pinang menjadi hidangan penghormatan kepada tamu, sarana pengantar pembicaraan, sebagai mahar perkawinan, alat pengikat dalam pertunangan sebelum menikah, bahkan menginang digunakan sebagain upacara dan sesaji yang menyangkut adat istiadat serta kepercayaan religi masyarakat.

Baca Juga: Berkaca ke Desa Pariti Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Mangrove

Menurut Jusak Eulama, tokoh masyarakat di Desa Bipolo Kabupaten Kupang, budaya menginang tidak mengenal umur, pangkat dan golongan. Hal tersebut menjadi kebiasaan yang mengakar kuat dalam masyarakat sehinga dapat mempererat persaudaran keseharian kehidupan masyarakat kabupaten kupang.

Di sini, makan sirih pinang itu tidak mengenal umur. Bahkan untuk melamar gadis kalau tidak ada sirih pinang, tidak akan diterima. Sebanyak apapun uang yang dibawa, seberapa banyak sapi, babi dan kerbau yang dibawa, kalau tidak ada sirih pinang, jangan harap diterima”, tutur Jusak Eulama.

Menu Wajib Saat Bertamu

Jika biasanya saat bertamu akan disajikan minuman teh atau kopi, tidak demikian di desa-desa di Kabupaten Kupang. Tamu akan disajikan dan disambut dengan ‘menu’ yang mungkin akan asing terlihat.

Tamu akan diberikan sebuah wadah berbentuk kotak yang oleh masyarakat Kabupaten Kupang menyebutnya, ‘Oko Mama’. Wadah ini berisi sirih, pinang dan kapur sebagai sajian untuk tamu.

“Masyarakat Kabupaten Kupang menyambut tamu dengan cara seperti itu. Sambutan dengan sirih pinang berarti tamu tersebut diterima dengan baik oleh tuan rumah”, kata Yan Rubesi, Kepala Desa Sahraen.

Masyarakat Kabupaten Kupang juga percaya, bahwa mengonsumsi sirih pinang dapat menghindari penyakit mulut, mengobati gigi yang sakit dan napas yang tak sedap. (RSP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here