Dedikasi dan Harapan M Ilyas Untuk Laut Indonesia

0
131
(dok: Klanews.id) M. Ilyas, Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan, sosok yang berperan penting dalam penemuan black box pesawat Lion Air JT 610

Jakarta, Klanews.id – Penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, sampai saat ini masih menjadi misteri. Untuk mengetahui diperlukan black box, bagian pesawat yang penting dan bisa mengungkap penyebab kecelakaan pesawat tersebut.

Setelah melakukan pencaharian selama kurang lebih empat hari, akhirnya black box tersebut berhasil ditemukan. Adalah Kapal Riset Baruna Jaya I milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang pertama kali menemukan indikasi sinyal lokasi black box melalui ping locator.

Kapal riset ini menjadi bagian dari Balai Teknologi Survei Kelautan yang merupakan salah satu dari 45 unit kerja yang ada di BPPT. Tugas balai ini adalah melakukan pengkajian dan penerapan teknologi survei kelautan, memberikan pelayanan jasa teknologi survei kelautan, mengelola armada kapal riset Baruna Jaya, dan mengelola data hasil survei.

Saat ini Balai Teknologi Survei Kelautan dikepalai oleh M Ilyas. Sosok yang berperan penting dalam penemuan black box pesawat Lion Air JT 610.

Dibalik sosoknya yang tegas dan penuh dedikasi, alumni Ilmu Keluatan Unhas ini punya banyak harapan untuk laut Indonesia. Terutama melalui pengembangan sumber daya manusia dan riset-riset kelautan.

Mengembangkan Potensi Laut Dalam Indonesia

Pemanfaatan sumber daya laut Indonesia sat ini hanya menyentuh daerah laut dangkal, kedalaman kurang dari 200 meter. Padahal, perairan laut dangkal hanya mencakup 30% dari total lautan yang ada di Indonesia. Sedangkan laut dalam (400-1.500 meter) yang sangat besar potensinya, sama sekali belum dimanfaatkan.

Baca Juga: Dr. Asbar Laga, Konsistensi dan Perspektif Kelautannya

Saat ini, Balai Teknologi Survei Kelautan memfokuskan eksplorasi sumber daya hayati di daerah laut dalam. Seperti contoh kerjasama eksplorasi ikan laut dalam dengan Jepang tahun 2010 di kedalaman 1.500 meter. Hasilnya, terdapat banyak ikan laut dalam yang sebarannya melimpah. Apalagi Indonesia memiliki banyak gunung bawah laut yang merupakan habitat ikan laut dalam. Ikan laut dalam ini banyak dimanfaatkan di industri farmakologi.

Selanjutnya ada potensi minyak dan gas bumi. Cadangan minyak dan gas bumi di darat sudah berkurang, sehingga sudah dimulai untuk mencari ladang baru, terutama di wilayah timur yang memiliki banyak cekungan laut dalam, seperti Halmahera, Teluk Tomini, dan Selat Makassar.

Riset Kelautan Indonesia Perlu Fokus dan Dukungan

Perairan laut Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia dengan luas 3,25 juta km2 ditambah 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Esklusif (ZEE) ini meliputi 70% wilayah NKRI, dengan garis pantai 99.093 km, merupakan terpanjang ke 2 setelah Kanada. Ironinya, besarnya potensi dan cakupan tugas ini tidak dibarengi dengan dukungan yang besar pula.

Balai Teknologi Survei Kelautan hampir tidak punya lagi anggaran. Padahal riset di laut membutuhkan anggaran yang besar. Sebagai contoh, ada 50 wilayah kerja yang ditawarkan ke asing untuk dikelola tapi tidak ada yang berminat karena tidak ada data seismik. Jika ada anggaran, riset seismik laut Indonesia bisa dilakukan.

Persoalan lainnya yang dihadapi adalah tidak fokusnya pengelolaan laut terutama riset-riset kelautan. Saat ini, banyak lembaga atau instansi penelitian kelautan di Indonesia yang jalan masing-masing. Apa yang telah dikerjakan Balai Teknologi Survei Kelautan dikerjakan lagi oleh instansi atau lembaga lain, begitupun sebaliknya.

Mendorong Perbaikan Riset

Riset dan eksplorasi sumber daya laut harus fokus dan tuntas, mulai dari permukaan laut, kolom air, dasar laut, hingga kelapisan bawah dasar laut. Untuk itu, sinergitas antar instansi diperlukan dalam melakukan riset kelautan, agar anggaran, waktu dan lokasi bisa lebih terfokuskan.

Dengan adanya sinergitas maka diharapkan kelembagaan riset di Indonesia juga bisa seperti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di Amerika Serikat atau Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) di Jepang. Jika ini terwujud, hasil dan efeknya akan jauh lebih besar, terutama untuk kesejahteraan masyarakat.

Terakhir menumbuhkan riset kreatif dan inovatif dari kampus atau universitas. Jika lembaga dan teknologi riset kelautan di Indonesia berkembang, maka kampus dapat melakukan penelitian dengan dukungan peralatan yang memadai dari balai riset kelautan atau instansi yang ada. Sehingga hasilnya nanti dapat memberi sumbangsi nyata terhadap pembangunan Indonesia sebagai negara maritim. (RSP dan SN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here