Pentahelix Pariwisata Sulsel yang Tercecer

0
82
Keindahan Pantai Appatanah di Selayar (dok: K. Azis)

Makassar, Klanews.id – Urungnya pelaksanaan Lovely December di Toraja tahun ini karena Pemprov Sulsel lebih fokus di kegiatan infrastruktur sebagaimana pledoi Gubernur Nurdin Abdullah patut disayangkan.

Ada tiga alasan. Pertama, yang namanya agenda pariwisata tahunan, pastilah sudah diplot oleh siapapun pelaku usaha wisata di sana (di Tana Toraja dan sekitarnya), operator wisata domestik maupun mancanegara. Penundaan atau cancellation akan membuyarkan angan yang telah disusun.

Kedua, seakan menihilkan eksistensi swasta dan organisasi masyarakat sipil dalam perencanaan yang telah ada terkait Lovely December 2018 itu. Mengapa tidak menunggu untuk review hingga tahun 2019 saja?  Ketiga, terkesan antipati pada perencanaan yang lahir dari Pemerintahan sebelumnya sehingga semua harus ‘dicuci bersih’.

Namun, bagi Gubernur, ini menjadi penanda lebih menomorsatukan infrastruktur sebagai ‘the most influencer’ ketimbang suprastruktur yang sudah terbangun, para aktor, para operator yang sudah berjibaku. Siapapun tahu, Toraja adalah destinasi teratas di Sulsel sejak bertahun-tahun dan menggeliat karena antusiasme para pihak itu.

Padahal sudah ada indikasi bagus. Di tahun 2017, jumlah wisatawan mancanegara yang datang melalui pintu Makassar pada Desember 2017 mencapai 1.689 kunjungan. Naik sebesar 11,71 persen jika dibandingkan jumlah wisman bulan November 2017 yang mencapai 1.512 kunjungan dan penyumbang terbesar adalah Tana Toraja Raya itu.

Secara kumulatif Januari – Desember) 2017, jumlah kunjungan wisman ke Sulsel mencapai 17.719 kunjungan, meningkat 5,08 persen dibandingkan kunjungan wisman periode sama tahun sebelumnya yang berjumlah 16.862 kunjungan.

Tahun lalu, Kemenpar menargetkan jumlah kunjungan di Toraja mencapai 820 ribu wisatawan. Dari target tersebut, di antaranya 120 ribu Wisman dan 700 ribu Wisatawan Nusantara.

Tim Percepatan Pengembangan Budaya Kemenpar, pernah menyebut bahwa untuk mencapai target tersebut, Kemenpar akan mendorong atraksi wisata tradisi dan seni budaya. Hal itu akan dilakukan secara stimulan sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang ada. Karena banyak atraksi yang dapat digali pada daerah wisata Toraja.

Jelas bahwa atraksi seni budaya bisa paralel dengan pembenahan infrastruktur. Atraksi seni budaya adalah satu hal, infrastruktur hal lain juga. Sejak diinisiasi Gubernur Syahrul Yasin Limpo, nampak sekali bahwa acara ini merupakan gagasan yang berdimensi sosial budaya ketimbang investasi fisik jor-joran.

Ada banyak atraksi yang didorong dan bertumpu pada mobilisasi sosiologi kultural ketimbang investasi bangunan. Harapannya para pengujung bisa ikut larut dalam getar tradisi dan kebudayaan setempat. Lovely December yang digelar tiap bulan Desember itu bahkan dikemas dengan perayaan Natal yang disebut menyedot banyak pengunjung.

Mengabaikan Pentahelix?

Urungnya Lovely December 2018, adalah preseden buruk bahwa masa depan isu atau sektor pembanguan strageis Sulsel menjadi semakin tak pasti. Padahal, perumusan, penetapan, pengkoordinasian, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif merupakan hal mendasar yang harus didorong terus menerus.

Menunda adalah kekalahan bagi yang sudah on fire memajukan pariwisata Sulsel. Mereka sadar bahwa ada banyak potensi sumber daya alam, situs peninggalan sejarah, flora dan fauna, keragaman budaya lokal disertai masakan kuliner yang sangat bisa diberdayakan.

Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, media merupakan lima unsur yang diharapkan bisa menjadi bagian integral yang mendorong dan menumbuhkembangkan industri pariwisata di Sulawesi Selatan tetapi ini tidak akan kontributif dan siginifikan dampaknya jika dikerjakan parsial.

Kelima aspek itu, atau acap disebut Pentahelix harusnya menjadi target Pemerintah Sulawesi Selatan untuk didekati dan diberdayakan agar paralel dengan agenda-agenda pembanguan Sulawesi Selatan bukan malah diabaikan.

Lalu bagaimana baiknya agar tidak tercecer dalam agenda perencanaan?

Kalau tidak parsial berarti harus didorong proses perencanaan terpadu, kolaboratif dan saling menguatkan. Pemerintah harusnya bisa mendekati dan mengikat komitmennya. Sebagai regulator, Pemerintah harusnya menyiapkan kemudahan operasional ketimbang ikut mengeksekusi. Mempermudah ketimbang mematahkan harapan.

Memang, infrastruktur dibutuhkan tetapi tidak ada gunanya jika perencana pembangunan infrastruktur sekadar bangun tanpa memahami ruh kepariwisataan yang selama ini telah ditunjukkan oleh banyak pihak di pusaran Pentahelix itu.

Sebagaimana pandangan publik yang melihat bahwa Gubernur tidak cekatan dalam mengendalikan TP2D, tidak terbuka dan akomodatif dalam memformulasi skop pengelolaan, maka jangan salahkan juga jika ada kesan bahwa Gubernur juga tak sensitif pada risiko-risiko kebijakan tata kelola pariwisata.

Bisa paralel

Seharusnya, mediasi para pihak untuk selaras dengan agenda Gubernur merupakan pilihan strategis ketimbang mengambil keputusan sepihak hanya semata karena dapat mengendalikan anggaran. Pemprov, melalui Gubernur harusnya melibatkan para pihak yang kompeten, kapabel terkait peruntukan infrastruktur tersebut jika memang perlu sentuhan dari praktisi atau operator. Membangun tanpa mempertimbangkan kesesuaian pengguna dan daya imbasnya sungguhlah keliru.

Saat yang sama, Pemerintah bisa terus menerus memberikan insentif, memberi kemudahan, perlindungan, bukan sebaliknya dengan menekan investor untuk melakukan tindakan inefisiensi melalui aneka ragam biaya-biaya siluman tak jelas.

Pemerintah bertanggungjawab memberikan kepastikan ke masyarakat pariwisata dalam pengertian mengayomi dan memberi stimulan untuk masuk ke pusaran utama kepariwisataan sebagai pengelola, bukan sebagai ‘penikmat’ belaka.

Masyarakat adalah juga akselerator garda depan yang juga harus dipercaya dengan kemampuan marketing-nya. Yang bisa memudahkan berjalannya bisnis kepariwisataan karena telah paham makna ‘digital atmosphere’. Mereka harus dijalin melalui program kerjasama lintas agensi dan bahkan negara. Mereka ‘enabler’ sehingga orang-orang datang karena mendapat layanan dan kesan yang baik.

Pelaku lain yang juga perlu didorong untuk kreatif meriset adalah akademisi. Mereka tak semata konseptor tetapi para pencari kreasi, para pengampu teknik pengembangan usaha pariwisata yang bisa diadopsi secara luas.

Mereka bisa menjadi the last man standing usaha pariwisata yang memang sedang babak belur karena berita-berita yang mengkhawatirkan; bencana dan kecelakaan pesawat. Beri mereka akses dan ruang untuk menelurkan gagasan kreatif, praktis dan profitable.

Mereka bisa menjadi mitra yang bisa menjadi teman diskusi para pelaku, mencari gap, memberi masukan yang bisa meminimalkan risiko dan membuka harapan baru yang lebih berdampak jangka panjang. Jadi jika unsur Pentahelix diberdayakan dan pariwisata menjadi lokomotif ekonomi Sulsel, pantaslah Gubernur didapuk jadi dirijen yang andal.

Pak Gub, ajak mereka yuk!

__

Ditulis oleh Kamaruddin Azis (Alumni Kelautan Unhas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here