Kabar dari Pulau: Ini Alasan Mengapa Ikan Mahal di Selayar

0
260
Daeng Cambang saat menjelajah sisi tenggara Selayar (dok: pribadi)

Selayar, Klanews.id. Kontributor Klanews.id dari Selayar, Syamsul Bahri melaporkan hasil perjalanannya ke pulau-pulau di tenggara Pulau Selayar dalam bulan November 2018. Perjalanan yang heroik karena demi memgemban tugas pendataan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, dia dan timnya sempat diterjang badai.

Bagaimana keseruan perjalanan sosok yang juga akrab disapa Cambang itu, simak yuk!

***

Bagi banyak orang, Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki kekayaan alam laut yang begitu melimpah. Mereka menganggap masyarakat yang berdiam di sana umumnya nelayan. Hal yang sesungguhnya harus dibuktikan. Pada saat yang sama, saya juga merasa bahwa dari tahun ke tahun, Selayar mengalami perkembangan yang sangat pesat, juga merupakan hal yang perlu dibuktikan.

Saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana, keluarga nelayan di Desa Tile-Tille. Saya bangga dan senang lahir sebagai keluarga nelayan. Setiap harinya bisa makan ikan, yang sekarang banyak lembagaatau unsur Pemerintah maupun orang ternama mempromosikan ‘Ayo Kita Makan Ikan!”.

Saya kira mereka benar, bahwa dengan makan ikan secara teratur kita bisa mendapatkan protein dan vitamin yang sangat bagus dari daging ikan. Namun ada yang mengganjal dalam benak saya. Selayar hampir 70% dikelilingi laut, namun masih saja kekurangan ikan, mahal pun!

Ya, kekurangan ikan, kalau pun ada pasti mahal! Coba cari ikan di Kota Benteng kalau tidak percaya. Entah mungkin Selayar yang teah terlalu padat penduduknya, sehingga sampai sekarang kita masih kekurangan ikan, baik itu ikan segar maupun ikan kering.

Entahlah! Ini pula yang buat saya penasaran sampai harus menuliskan artikel ini.

Melacak ke pulau

Dalam bulan November 2018, saya mendapatkan tugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemkab Selayar untuk mendata nelayan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Takabonerate dan Kecamatan Pasilambena.

Saya bersama rekan, namanya Fahri, salah satu anggota Selayar Marine Dive. Dia pemuda dari Desa Patilereng yang sangat mencintai laut Selayar. Fahri bercerita kalau dia baru saja naik tingkat kelas penyelaman. Dia sangat bangga dengan apa yang dia peroleh saat ini, karena banyak belajar dari orang-orang besar dan banyak pengalaman yang didapatkan. Meski kemudian dia masih menerawang seperti apa masa depannya sebagai penyelam bersertifikat.

Destinasi pertama kami adalah Pulau Garupa Timur.  Di situ saya banyak berbagi cerita dengan Fahri, tentang pengalaman kami masing-masing. Dalam perjalanan itu, saat menuju Garupa, kapal kami dihantam gelombang.

Saya yakin banyak penumpang yang ketakutan saat itu meski kami sempat diam-diam minum kopi dingin dan pahit.

Kami berdoa. Selama sepuluh jam kami terombang-ambing dihantam ombak dan nyaris mengalami kecelakaan.

Karena badai yang tak henti-hentinya, pemilik kapal memutuskan untuk singgah sejenak di Desa Kayuadi untuk berteduh. Kami pun tidur di perahu beralaskain kain basah bersama penumpang yang lain.

Sambil browsing internet, kami mendapatkan informasi bahwa semalam lalu terjadi gempa bumi dan sunami di Kota Palu dan sekitarnya. Keesokan harinya kamipun melanjutkan perjalanan dengan waktu tempuh delapan jam. Kami tiba di Garupa pukul 18.40.

Fahri langsung berbisik kepada saya. “Om, jadi kita tinggal dan tidur di mana?”.

“Adaji hammock, bisakah kita mengikatnya di tiang rumah warga?” balasku bertanya. Namun akhirnya, salah seorang dari penumpang kapal, mengajak kami untuk menginap di tempatnya.

Namanya Pak Kalam. Di rumahnya, sembari menikmati kopi hangat masyarakat datang satu persatu ke rumah. Mereka mengira kami ini adalah calon anggota legislatif yang akan berkampanye di daerahnya. Esok harinya kami melakukan kegiatan pendataan nelayan, bertanya nama, umur sampai pada alat tangkap yang digunakan.

Di sana kami juga mendengar informasi tentang gempa yang menggoyang Selayar dan kami sempat naik ke bukit untuk mencari sinyal. Di pesisir, dikabarkan air naik setinggi lutut.

Enam hari kemudian kami pindah Desa ke Kawawu. Untuk sampai Kawawu kami menggunakan perahu jolloro milik masyarakat. Dalam perjalanan, kami lagi-lagi dihantam badai yang sangat dahsyat. Kami langsung menatap langit sambil tersenyum dan sayapun berkata ke teman saya.

“Badai pasti berlalu, diam atau tidaknya manusia,” kataku.

“Setiap bertambah satu detik bertambah pula hitungan usianya, setiap satu detik akan berkurang jatah umurnya tidak satupun manusia yang bisa lepas dari itu atau menghindarkan diri dari ketetapan itu,” lanjutku.

Albert Einstein menulis teori relativitas waktu. Dia menuliskan bahwa ketika seseorang bergerak mendekati kecepatan cahaya waktu pun menjadi relatif lebih lambat itu bagi dirinya, meski demikian waktu tidak akan berhenti.

Itu sang ilmuan yang berteori, sementara saya bukan ilmuwan.

Saya berkata ke Fahri. “Jika kita memang ditakdirkan untuk mati di laut, kita tak mungkin akan mati di darat atau tak mungkin kematian akan tertukar, sambil menatap langit yang sedikit mendung, kamipun berdoa  kepada Yang Maha Kuasa untuk minta pertolongan.

“Bismillahirahmanirrahim, bismillahi majreha wa mursha inna rabbi la ghafurur rahim allahmma inni as’alaku fi safarina hadzal birra wataqwa waminal a’amali watardha allahuma yassir wa ia tu’assir subhannalladzi sakhhara lana hadza wa ma kunn lahu mugrinina wa inna ilahi rabbina lamaqalibun,” batinku.

Hingga akhirnya sampai di desa tujuan. Kami istirahat sejenak di pondok warga. Keesokan harinya kami mendata. Data yang kami peroleh sangat sedikit. Jauh dari sasaran.

Kami sampai pada kesimpulan sementara bahwa bahwa benar, Selayar bukanlah kabupaten dengan nelayan yang banyak.  Hampir 80% dari masyarakat di Kepulaun Kawawu dan di Pulau Madu masyarakatnya petani.

Sayapun sambil tersenyum dan berkata dalam hati. “Oh inimi mungkin kenapa kita di Benteng kekurangan ikan,” batinku, meski belum bisa menyimpulkan jawaban saya segera.

Kami berada di Kecamatan Pasilambena selama dua minggu. Lalu pindah ke Kecamatan Takabonerate tepatnya Pulau Pasitallu.

Jam 8.00 pagi kami siap-siap untuk melakukan perjalanan, kami menggunakan perahu milik warga, untuk menuju desa tersebut waktu  dan jarak tempuh sekitar  8 jam  dari Pulau Garupa Timur.

Angin berhembus sepoi-sepoi dan diiringi deru embok, kami sangat menikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu, dan lagi, juga secangkir kopi berlatar suasana laut yang begitu damai, dibandingkan hari- hari sebelumnya.

Disinisi

Pukul 14.20 kami sampai di tempat tujuan dan saya bersama teman disambut masyarakat yang pandangannya sedikit sidikit sinis kepada kami. Mereka sedikit berbisik dan berkata, iru bagai (itu tamu).

Sayapun bertanyaa-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan bagai, saya sedikit cuek dengan persolan itu, kami mendatangi staf desa karena kebetulan saat itu Kades sedang tidak berada di tempat.

Kami melapor untuk meminta ijin melakukan kegiatan pendataan di desanya. Kami diajak beristirahat di rumah milik warga, besok paginya kami melangsungkan kegiatan yang sedikit hati-hati untuk berkomunikasi dengan masyarakat setempat.

Daeng Cambang saat tandang ke rumah warga (dok: pribadi)

Seiring berjalannya pendataan, saya bertanya kepada warga. “Pak kenapa ya warga di Desa ini sedikit yang merespon pendataan?” kataku.

“Karena masyarakat setempat selalu didata tapi tidak mendapatkan bantuan. Masyarakat di sini takut kalau bapak ini adalah petugas, sayapun semakin penasaran,” katanya.

“Kenapa takut petugas?” tanyaku lagi.

“Takut saja,” balasnya.

Kami pun melanjutkan pendataan. Kami di Pasitallu selama lima hari. Dan selama berada di sana, saya bisa secara perlahan mulai paham mengapa ika di Selayar mahal.

Dari Pasitallu, kami pindah ke Desa Tambuna, Desa Pasitallu Timur daan Barat itu berdekatan. Untuk sampai ke Desa Tambuna kami harus menggunakan perahu dengan jarak tempuh  tak sampai 30 menit dan tinggal di rumah Kepala Desa.

Keesokan harinya, kami mulai mendata. Ada ketegangan karena warga tidak mau didata dengan alasan yang tidak masuk akal.  Setelah itu, kami memutuskan untuk melaksanakan pertemuan. Lumayan, ada 9 warga tertarik untuk duduk bersama. Kami sampaikan bahwa ada tugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan terkait pendataan jumlah dan pekerjaan nelayan.

***

Di desa tersebut, kami terbagi dua. Saya di Dusun Bajo sementara Fahri di Dusun Baru. Kesimpulan saya bahwa banyak masyarakat tidak mau didata sebab selama ini mereka tidak mendapat apa-apa setelah di data.

Selama di sana, saya justeru menemukan warga yang meracik panggala atau bahan yang akan digunakan sebagai bahan pemicu bom. Saya pun pura-pura tidak mengetahui apa yang mereka sedang lakukan, sayapun bertanya. “Pak lagi bikin apa?” tanyaku.

Bapak itu menyatakan kalau lagi buat petasan untuk anak-anaknya. Bapak tersebut melap keringat dan bicara ke istrinya. Hingga kemudian menyatakan tidak mau didata.

“Jangan menyesal ketika nantinya dibagikan Kartu Nelayan dan bapak tidak mendapatkan. Bapak jangan protes sama pemerintah setempat ya pak,” kataku.

Dia pun luluh dan tertunduk. Namun bapak itu meminta supaya apa yang sedang dia lakukan tidak dilaporkan ke aparat Pemerintah sebab itu adalah pekerjaannya.

Saya lalu bertanya. “Pak kalau membom biasanya menghabisakan berapa botol,” tanyaku.

“Tergantung, kadang bisa sampai 5 dan 7 botol tergantung dari banyaknya ikan yang main dipermukaan laut. Ikan yang dicari ikan ekor kuning dan sinrili,” jawabnya sambil memperlihatkan ikan yang dijemur.

Saya juga mengamati bahwa di sekitar pulau ada kapal yang berlabuh, tak pindah. Rupanya itu kapal dari Sinjai.  “Oh, itu kapal dari Sinjai dan sering mengambil ikan basah masyarakat,” kataya.

Dari bapak tersebut saya memperoleh informasi bahwa perahu itu biasanya ada di situ selama beberapa minggu.

Sampai di sini saya pun mendapat jawaban mengapa ikan mahal di Kota Benteng, Selayar. Ternyata selain berlabuh di pulau-pulau Selayar, kapal dari sinjai melakukan aktifitas yang menurut saya itu adalah kegiatan illegal karena izin yang digunakan adalah ijin melakukan  penangkapan ikan, dan hasil ikan yang diperoleh dari nelayan setempat tidak masuk di Kabupaten Selayar.

Dinas terkait tidak mendapatkan informasi jumlah hasil tangkapan nelayan namun masuk di Kabupaten Sinjai dan Kota Makassar.

Saya mendapatkan jawaban kenapa ikan itu sangatlah kurang di Kota dan data base hasil tanggkapan di Selayar pun tak ada dan kenapa laut Selayar sangat hancur, laut hancur karena aktivitas masyarakat sendiri dan ikan sangat kurang di Kota Benteng.

Jawabannya, ini semua karena pelaku bisnis dari luar daerah Kabupaten Selayar, mereka tidak melaporkan hasil tangkapan nelayan dan menjual ikan pun di luar Selayar.

___

Penulis: Syamsul Bahri

Editor: K. Azis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here