Inspirasi Kaikoura: Antara Botubarani, Wakatobi dan Selayar

0
211
Paus di Perairan Tanjung Merayu Benteng - Kepulauan Selayar (dok: Asri)

Makassar, Klanews.id – Salah seorang narasumber pada pertemuan ‘Diseminasi Hasil Penelitian Dosen Politeknik Pariwisata Makassar” yang dilaksanakan pada 7 Desember 2018 adalah Irham Junaid, Ph.D. Irham yang juga alumi S3 di Selandia Baru ini berbagi hasil riset di dua destinasi: Wakatobi Sulawesi Tenggara dan Bulukumba Sulawesi Selatan.

Dia membukukannya dan menyebutnya bisa sebagai rujukan perbandingan model pengelolaan di kedua destinasi utama di Sulawesi. Irham menyatakan Indonesia mempunyai lebih dari 17 ribu pulau, 300 bahasa, 6000 pulau dihuni. Sayangnya belum dimanfaatkan secara maksimal melalui wisata bahari.

“Ada 11 ribu pulau belum dihuni, sehingga kita mempunyai potensi yang besar,” kata dosen Poltekpar Makassar lulusan S3 di salah satu Universitas di Selandia Baru ini di depan tidak kurang 80 orang peserta.

Potensi tersebut telah dimanfaatkan dengan baik di dua lokasi yaitu Bulukumba dan Wakatobi. Di Bulukumba ada Tanjung Bira yang merupakan lokasi wisata ‘heritage’ karena obyek pinisi dan keindahan pantainya. Di Wakatobi ada model kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah melalui model seperti di Waha Tourism Community yang dikelola warga setempat bernama Sudirman.

Singkatnya, bukunya berisi paparan dimensi pengembangan, peluang pengembangan, corak destinasi dan daya tarik wisata bahari di Bulukumba dan Wakatobi yang menurutnya mengikuti alur wisata berbasis alam dengan menggunakan sumber daya kelautan.

“Bagiannya adalah wisata diving, wisata pesisir, inilah yang kita sebut wisata bahari itu,” katanya. Irham menyebut beberapa prinsip untuk penyelenggaraan wisata itu di antaranya edukatif dan pelestarian.

“Yang pertama edukatif, ada pemberian informasi ke wisatawan tentang apa yang dikelola, apa yang mereka bisa lakukan, memberikan interpretasi dan melibatkan guide termasuk menjelaskan kode etiknya, ini boleh, ini tidak boleh. prinisip kedua adalah preservation atau conservation yang menekankan pada perlunya perlindungan tetapi tetap bisa dinikmati,” paparnya.

Wisata di Kaikoura (dok: istimewa)

Cerita Kaikoura

Ada yang menarik dari paparan Irham. Tentang Kaikoura, satu kawasan di Selandia Baru yang telah menjadi daya tarik wisatawan berkelas dunia. Dimulai pada tahun 1988 sebagai ‘wisata melihat paus’ kemudian tumbuh menjadi salah satu sektor industri yang dapat mendongkrak ekonomi setempat terutama komunitas di pesisir.

Menurut Irham, kawasan ini sebelumnya terdampak persoalan ekonomi, banyak pengangguran terutama masyarakat suku asli Maori tetapi kemudian menjadi salah satu lokasi wisata yang maju setelah dikembangkan menjadi  ‘Whale Watching Kaikoura’ atau lokasi pengamatan paus. Semakin internsif sejak tahun 1991.

“Yang menarik bahwa kegiatan perikanan dibatasi atau dilarang,” kata pria yang mengaku pernah memancing di sana namun merasa dimatai-matai oleh otoritas di sana.

Bagi kita, Kaikoura bisa menjadi contoh bagaimana upaya konservasi dan wisata berjalan secara bersamaan dan menguntungkan. “Awalnya, tamu yang datang tercatat 10 ribu, di tahun 1991. Kemudian di tahun 1996 mencapai 200 ribu lalu di tahun 2000 sudah terdata 873 ribu pengunjung,” sebutnya.

Dalam laporan ‘Evolution and Change in Kaikoura: Responses to Dourism Development” yang dirilis Chrys Horn, David G Simmons dan John R Fairweather dari Lincoln University Selandia Baru jelas bahwa apa yang terjadi di Kaikoura adalah pengaruh timbal balik antara pariwisata yang telah memberi dampak ke komunitas Kaikoura.

“Juga bagaimana komunitas itu telah beradaptasi dengan perubahan yang dibawa kegiatan pariwisata. Jelas bahwa struktur sosial masyarakat dan konteks historis memiliki pengaruh langsung pada cara pariwisata berkembang dan bagaimana dampaknya dirasakan,” tulis mereka.

“Sulit untuk memisahkan dampak pariwisata dari perubahan lain seperti kebijakan sektor publik, perubahan teknologi, pembaruan identitas budaya Maori (suku asli), undang-undang lingkungan, dan perubahan dalam peran dan tanggung jawab Pemerintah setempat,” tambahnya.

“Pariwisata adalah bentuk adaptasi terhadap efek restrukturisasi pengelolaan kawasan, dampaknya pun harus diadaptasi oleh komunitas lokal. Pariwisata hanyalah bentuk lain dari penggunaan sumber daya berkaitan pemanfaatan sumber daya di Kaikoura. Sama seperti pertanian, perikanan dan kehutanan, sebagai efek dari perubahan,” jelasnya.

Hiu paus Botubarani dan lumba Wakatobi

Cerita Kaikoura tersebut mengingatkan kita pada wisata sightseeing hiu-paus di Gorontalo yang marak belakangan ini meski masih pro-kontra. Di Botubarani misalnya, warga atau nelayan memancing kehadiran hiu paus dengan memberi makanan – meski ini juga berisiko dan perlu pendekatan yang lebih ‘akomodatif’.

Yang kedua adalah adanya penyiapan sarana prasarana untuk kemudahaan akses di sana, baik perahu wisata maupun akses jalan sebagaimana disebutkan oleh Bupati setempat.

Cerita yang sama juga terjadi pada pemanfaatan kehadiran fauna unik seperti lumba-lumba di perairan Wakatobi, di sekitar Pulau Wangi-Wangi.

Di sana, warga mendapat manfaat dengan memanfaatkan momen setiap subuh sampai pagi untuk menikmati iring-iringan lumba-lumba. Mereka menyiapkan perahu antara 1 hingga 3 groston dan menyebutnya sebagai wisata lumba.

Penulis pernah membayar 350 ribu untuk sewa satu trip ‘dolphin sightseeing’ di  tahun 2011. Sepanjang perairan Wanci hingga Waha, iring-iringan lumba-lumba menjadi pemandangan yang menakjubkan. Menyenangkan dan menjadi bukti bahwa alam, fauna laut dan manusia bisa hidup berdampingan.

Pemandangan di Bone Bolango (dok: istimewa)

Apa yang terjadi di Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo tidak bisa dilihat sebagai ‘kebetulan’ belaka. Toh, kehadiran lumba dan paus telah dimanfaatkan di Kaikoura, Wangi-wangi telah menjadi obyek wisata yang menguntungkan masyarakat dan lingkungannya.

“Hiu paus telah memberikan dampak yang signifikan bagi pariwisata Bone Bolango. Masyarakat juga mendapat manfaat dari maraknya wisatawan,” aku Hamim Pou, Bupati Bone Bolango terkait keunggulan wilayahnya tersebut.

“Apa yang kita lakukan di Wakatobi itu, berdasarkan kondisi dan apa yang menjadi kekayaan Wakatobi, laut dan isinya. Tidak perlu pikir macam-macam, yang rumit-rumit, jauh-jauh. Kita jadikan saja lumba-lumba sebagai obyek wisata,” kurang lebih begitu pernyataan mantan Bupati Wakatobi Hugua terkait strategi wisatanya kepada penulis dalam banyak kesempatan.

Fenomena dan pola pengelolaan potensi pariwisata seperti Kaikoura, Botubarani hingga Wakatobi adalah contoh yang baik tentang peluang pengembangan pariwisata di wilayah lain Sulawesi Selatan seperti Kabupaten Selayar.

Pemandangan di Wangi-wangi (dok: K. Azis)

Selayar mempunyai pulau-pulau unik seperti Pulau Kakabia, Pulau Madu, Pulau Kayuadi, Taka Bonerate hingga Pulau Pasi. Bukan hanya pulau tetapi ekosistem laut dan letaknya yang merupakan ruaya-ruaya hiu dan paus dari Australia.

Penulis mempunyai pengalaman mengasikkan melihat fauna seperti disebutkan di atas, seperti lumba-lumba dan paus di perairan antara ujung Appatanah Selayar dengan Pulau Kayuadi di tahun 90-an hingga 2000-an.

“Di Pulau Pasitallu pernah pula terlihat hiu paus di bagang (liftnet) nelayan. Demikian pula di Pantai Timur Pulau Selayar,” kata Moel, aktivis di Sileya Scuba Divers Selayar.

Pada setiap musim pancaroba, antara Februari hingga April atau antara bulan Oktober – November saban bulan, fauna langka tersebut selalu hadir untuk menghibur para pelaut. Ini salah satu potensi yang mungkin saja bisa dikembangkan seperti di Kaikoura, seperti Wakatobi, seperti yang ditunjukkan Irham, Ph.D dari Poltekpar Makassar itu.

Penulis optimis sebab cikal bakalnya telah nampak seperti anak-anak hiu dan induknya yang kian rajin bermain di Pulau Tinabo, Taka Bonerate. Ratusan turis datang ke Taka Bonerate demi itu. Ini pasti akan menggetarkan dan menginspirasi dunia jika semakin banyak pihak yang terlibat dan dipoles dengan cekatan, bukan?

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here