Mangalli’ Allo, Pemberi Sinar Matahari Di Musim Penghujan

0
180
(Dok: istimewa)

Jakarta, Klanews.id – Manggalli’ Allo menjadi sebuah jawaban untuk menyelenggarakan acara atau kegiatan di ruang terbuka saat musim penghujan tiba. Apalagi untuk daerah dengan curah hujan yang tinggi.

Ritual ini sendiri adalah sebuah ritual menunda hujan atau memindahkan hujan ke tempat lain. Tidak sembarang orang yang bisa melakukan ritual Manggalli’ Allo, hanya orang tertentu saja. Mereka lebih dikenal dengan sebutan pawang hujan.

Di Kabupaten Pinrang, tepatnya di Desa Mesakada, Desa Suppiran dan Desa Sali-Sali, dan beberapa desa lain disekitarnya, ritual ini masih biasa dilakukan. Musim penghujan seperti sekarang, untuk menyelenggarakan acara besar seperti pernikanan ataupun hajatan lainnya, pawang hujan biasanya dilibatkan.

Baca Juga: Galesong Raya, Hikayat Bungung Barania dan Balla’ Barakka’

Menurut Hendrik, masyarakat di Desa Mesakada, Suppiran dan desa lain, ketika akan menyelenggarakan acara di musim penghujan, biasanya memakai jasa pawang hujan. Karena di desa ini, curah hujannya sangat tinggi dan masyarakat menyelenggarakan kegiatan di ruangan terbuka.

“Memang tidak bisa diterima oleh akal sehat, tapi ritual Manggalli’ Allo sudah dilakukan turun-temurun. Ketika terlihat sudah hampir hujan, tiba-tiba saja matahari cerah bersinar”, katanya dengan nada meyakinkan.

Pawang hujan sebenarnya tidak menunda atau menghentikan hujan. Mereka hanya menggeser hujan ke tempat lain, sampai acara yang diselenggarakan selesai.

Ritual  Manggalli’ Allo, mungkin sudah sering didengar dan di daerah lain juga ada, dengan nama yang berbeda. Tapi tidak banyak yang tahu bagaimana pawang hujan bekerja.

“Pada prinsipnya, pawang hujan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan alam, inilah yang mereka pakai untuk berdoa kepada Sang Pencipta yang mereka sebut dengan Dewata. Karena setiap benda di dunia ini memiliki kehidupan, awan dan air pun demikian”, lanjut Hendrik. (RSP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here