Pa’ Pompang, Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan

0
835
(dol: istimewa) Pa'pompang, alat musik bambu tradisional masyarakat Sulawesi Selatan

Jakarta, Klanews.id – Bambu merupakan tanaman yang paling sering dimanfaatkan oleh manusia. Paling sering dijadikan sebagai bahan untuk membuat rumah ataupun perabot rumah tangga.

Bagi masyarakat Indonesia, bambu mempunyai kegunaan lain, yaitu sebagai bahan membuat alat musik. Mungkin yang paling sering dilihat adalah seruling atau alat musik tradisional masyarakat Sunda di Jawa Barat yaitu angklung.

Masyarakat Sulawesi Selatan juga punya alat musik tradisional dari bambu. Penduduk setempat menyebutnya dengan Pa`pompang atau Pa`bas karena suara bas yang lebih dominan terdengar.

Alat musik ini banyak dijumpai di daerah Toraja, Enrekang dan beberapa desa di Pinrang, seperti Desa Suppiran, Desa Sali-Sali dan Desa Lembang Mesakada.

Berbeda dengan angklung, musik bambu khas Sulawesi Selatan ini merupakan jenis alat musik yang ditiup untuk mengeluarkan bunyi yang memiliki jangkauan nada dua setengah oktaf tangga nada.

Meski termasuk alat musik tradisional, seiring perkembangan zaman, Pa`pompang ini sering dikolaborasikan dengan alat musik modern lain seperti gitar, saksofon, organ, atau piano saat mengiringi lagu.

Alat musik bambu dibentuk dari perpaduan potongan-potongan bambu yang berukuran kecil dan besar. Besar-kecilnya ukuran bambu berpengaruh pada nada yang akan dihasilkan ketika ditiup.

Potongan bambu yang besar dan tinggi menghasilkan nada rendah, dan sebaliknya potongan bambu yang kecil menghasilkan nada tinggi. Potongan-potongan bambu dilubangi dan dirangkai sedemikian rupa agar bisa menghasilkan bunyi.

Biasanya potongan-potongan bambu diikat dengan rotan agar lebih kuat menyatu, sementara celah sambungan antar bambu ditutupi dengan ter atau aspal agar suara yang dihasilkan bulat dan tidak cempreng. Bambu yang dipilih untuk membuat alat musik ini adalah bambu yang tipis serta memiliki ruas yang panjang, tua, mulus, dan lurus.

Satu kelompok Pa`pompang biasanya terdiri dari 25 atau 35 orang, termasuk peniup suling. Alat musik ini bisa dimainkan oleh semua orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Selain dipergunakan sebagai musik pengiring dalam kebaktian di gereja, Pa`pompang sering juga dipentaskan dalam acara-acara khusus komunitas Toraja di berbagai daerah, seperti acara-acara pernikahan.

Pa`pompang tentu saja menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan yang patut dilestarikan. Mungkin tak banyak yang tahu keberadaan alat musik tradisional ini. Padahal ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. (RSP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here