Keindahan Pantai Tablolong Diserbu Buaya Muara

0
88
(dok: Klanews.id) Papan peringatan tentang buaya di sepanjang pantai Tablolong

Jakarta, Klanews.id – Berada tak jauh dari pusat kota Kupang, terdapat primadona wisata pantai yang menarik untuk dijelajahi, yaitu Pantai Tablolong. Hamparan pasir putih dan birunya laut, selalu menjadi daya tarik bagi para pengunjungnya.

Nama Tablolong diambil dari nama salah satu perkampungan nelayan kecil yang berada di ujung timur. Pantai yang memiliki hamparan pasir putih ini dan diapit oleh Pulau Rote dan Timor ini, ternyata sering dijadikan arena olahraga memancing dari mulai yang skala nasional hingga internasional setiap tahunnya.

Perairan sejauh 10 mil dari garis Pantai Tablolong itu merupakan jalur migrasi ikan yang cukup ramai dari perairan Laut Timor menuju Laut Sawu. Tak hanya itu saja, kekayaan biota lautnya juga menjadikan Tablolong sebagai penghasil rumput laut terbesar di NTT.

Baca Juga: Pantai Sahraen, Surga Tersembunyi Wisatawan Australia di Kabupaten Kupang

Selain berenang ataupun bermain air, pengunjung dapat bersantai ria di lopo (bale-bale/gazebo) sambil menikmati hembusan angin pantai. Tablolong juga dihiasi oleh adanya Pohon Centigi (Pempis Acidula) yang tumbuh liar di sekitaran bebatuan karang, dan merupakan sebuah tanaman golongan perdu yang banyak diburu orang karena keunikannya.

Namun, dibalik keindahannya, Pantai Tablolong juga menyimpan ancaman yang belakangan ini menjadi teror bagi warga Kupang. Fenomena kemunculan buaya yang sudah banyak memakan korban.

Di sepanjang pantai ini, banyak dijumpai papan-papan peringatan tentang  buaya. Masyarakat dan pengunjung wisata, juga sering menjumpai buaya berjemur di sekitar pantai.

Menurut Kepala Operasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Nusa Tenggara Timur, anomali iklim El Nino telah berdampak pada kekeringan berkepanjangan. Akibatnya debit air berkurang, sehingga buaya muara keluar dari habitatnya di air rawa masuk ke air laut.

Ketika air rawa yang selama ini didiami buaya muara itu mengering, otomatis buaya mulai keluar dari habitatnya dan mencari tempat lain, di antaranya ke pantai-pantai seperti Pantai Tablolong. Hal ini tentu saja mengganggu kenyamanan pengunjung.

Pemerintah setempat dan masyarakat telah melakukan upaya pencegahan dengan menghalau serta menangkap binatang liar itu, meskipun masih mengalami kendala dalam operasi itu karena keterbatasan fasilitas penunjang yang modern dan sistematis. (RSP)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here