Cerita Maritim di Diskusi Koridor Kelautan Unhas

0
51
Cerita Maritim di Diskusi Koridor Kelautan Unhas

Makassar, Klanews.id – Koridor Kelautan Universitas Hasanuddin pada Jumat 27 September 2019 sekitar jam 14.00 Wita terlihat tidak seperti biasanya. Puluhan mahasiswa duduk bersila dengan alas seadanya mengikuti diskusi Diskusi Kelautan dengan tema “History, Potensi serta peran penting ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kemaritiman”.

Diskusi ini dilaksanakan Badan Pengurus Harian Keluarga Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Unhas dalam rangka memperingati Hari Maritim Nasional 2019. Hadir sebagai pembicara, Dr. Ahmad Bahar S.T M.Si.

Dosen Ilmu Kelautan Unhas ini dalam pengantarnya, menjelaskan mengenai Universitas Hasanuddin yang menetapkan Kelautan sebagai Pola Ilmiah Pokok (PIP) tahun 1975. Penetapan ini melalui serangkaian seminar dan pertemuan ilmiah yang mendiskuskan berbagai alternatif pilihan PIP, diantaranya adalah Seminar Ilmu Kelautan di Unhas pada bulan September 1974 yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri riset Nasional.

“Tetapi program studi pertama yang terbentuk saat itu bukan kelautan, melainkan program studi Ekonomi, Hukum dan Kedokteran, sedangkan kelautan baru terbentuk sebagai program studi pada tahun 1988,” jelas Dosen yang akrab disapa dengan nama Pak Abe ini.

Baca Juga : Tiga Tahun MDC ULM, Terus Tebarkan Virus Konservasi Laut

Penerapan pola ilmiah pokok ini sudah ada sebelum Program Studi Ilmu Kelautan terbentuk. Kata dia, saat itu PIP diterapkan di berbagai program studi seperti Ekonomi yang membahas perekonomian pesisir dan Hukum yang membahas mengenai Hukum laut.

Pak Abe juga menjelaskan mengenai sejarah kemaritiman. Dimana sejak dulu Indonesia telah berjaya dalam perdagangan kemaritiman, bukan pada pengelolaan sumberdaya hayati laut.

Hal ini juga yang menjadi bahasan pada 7 nawacita jokowi. “Sebenarnya penggagas benua maritim itu dari UNCLOS yang membahas tentang hukum laut, tetapi di dalam hukum laut itu tidak membahas mengenai negara kepulauan sehinggga tidak sesuai dengan negara Indonesia,” jelas Pak Abe.

Baca Juga : Mahasiswa dan Masa Depan NKRI

Sementara, salah satu peserta menanyakan terkait kekayaan sumberdaya alam dilaut masih melimpah, tetapi perekonomian masyarakat di wilayah pesisir masih banyak yang kurang mampu.

“Penyebab tersebut dikarenakan masih kurangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pesisir sehingga pengelolaan sumberdaya alam dilaut masih belum bisa dioptimalkan dengan baik. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut anak-anak muda dari wilayah pesisir belum bisa mengoptimalkan waktu mereka untuk belajar di sekolah karena pada waktu pagi hingga siang mereka lebih sering turun kelaut untuk membantu orang tua mereka mencari nafkah,” jawab Pak Abe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here