Kesehatan Gigi dan Pendidikan Pesisir

0
90
Kesehatan Gigi dan Pendidikan Pesisir

Makassar, Klanews.id – Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Ilmu dan Teknologi Kelautan (HMI Kom. ITK) Cabang Makassar Timur berkolaborasi dengan Sikola Cendekia Pesisir mengadakan diskusi dengan tema “Kesehatan Gigi dan Pendidikan Pesisir”, Selasa, 12 November 2019 lalu.

Hadir sebagai fasilitator diskusi Nur Adha Atjo yang merupakan Korps HMI Wati (KOHATI) Komisariat Kodekteran Gigi Unhas.

“Kemelaratan yang terjadi dalam masyarakat pesisir memberikan keterbatasan terhadap akses-akses terhadap fasilitas untuk penyediaan yang dimiliki. hal tersebut tentu
berbanding lurus dengan kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat pesisir, hal ini akan
mempengaruhi masyarakat dalam bergerak untuk mensejahterahkan dirinya.” kata Nur Adha membuka diskusi.

Pengaruh lainnya juga dapat menyebabkan nyeri dan sensitif utamanya jika penyakit gigi yang di derita oleh pesisir seperti biasa ditemukan karang gigi. Karang gigi ini jika tidak ditangani dengan baik akan merusak gusi dan saraf sehingga bisa mengakibatkan pendarahan pada gusi yang mempengaruhi psikologis orang yang terserang
penyakit gigi, bahkan bisa sampai membahayakan jantung.

Kondisi tersebut mempengaruhi gerak aktivitas masyarakat pesisir sehingga tidak
optimal dalam aktivitasnya karena terganggu dengan ketidaknyamanan persoalan sakit gigi.

Selain daripada itu sektor pendidikan anak pada wilayah pesisir menjadi penting untuk
membangun generasi yang terdidik kedepannya. Minimal terjadi pengurangan angka buta
huruf serta pengetahuan tentang ilmu hitung dasar agar diketahui oleh anak pesisir.

Keterbatasan utama dalam pendidikan pesisir terdapat pada tiga faktor utama yaitu fasilitas yang dibangun untuk sekolah yang pada pulau sentra (pusat kecamatan) mengayomi beberapa pulau sekitarnya dalam satu kecamatan, kasus ini biasanya sekolah menengah, Faktor yang lain merupakan keterbatasan tenaga pengajar yang hanya dapat mengajar sekolah selama dua hingga lima kali dalam sebulannya.

Hal ini mempengaruhi laju interaksi guru murid sehingga transfer ilmu. Faktor ini dipengaruhi oleh guru honorer yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhannya dalam mengajar karena biasanya guru berasal dari pulau lain atau kota dimana gaji tidak sepadan dengan transportasi dan akomodasi yang berada di pulau.

Faktor terakhir yang mempengaruhi perkembangan pendidikan yaitu murid yang jua
memiliki kesibukan lain dalam mengenyam pendidikan yang memiliki paradigma pragmatis
dalam melihat pendidikan hanya sebatas tulis, baca dan hitung sehingga meniscayakan ikut membantu dalam rantai ekonomi nelayan secara lebih cepat merupakan prioritas utama oleh anak pesisir.

Pendidikan dan kesehatan yang khusunya kesehatan gigi merupakan monitoring
jangka panjang karena sangat menunjang kesejahteraan masyarakat pesisir, disisi lain dalam contoh pemberdayaan yang telah dilakukan oleh Sikola Cendekia Pesisir (SCP) memberikan gambaran tentang pembagian pemberdayaan masyarakat dalam 4 pilarnya yaitu Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Dimana pemberdayaan ini membantu masyarakat untuk turut serta dalam membangun ekonomi kerakyatan serta pengelolaan lingkungan selain dari pilar utama pendidikan yang dilaukan pada tiga pulau binaan yaitu Langkai, Bonetambung, dan Pajeknekang.

Pemberdayaan dilakukan secara berkala dan digerakkan secara kolektif dengan evaluasi kegiatan yang terus menerus. Kebijakan pemerintah masih perlu kajian strategis dalam penempatan kebijakan utamanya dalam kesehatan dan pendidikan. Kebutuhan untuk lebih tepat dalam strategi dan mengerti akan kondisi masyarakat tidaklah dapat menyamakan sistem antara keruwetan perkotaan dan aktivitas masyarakat kepulauan.

Harapannya dalam diskusi semoga seluruh gerak kemanusiaan tertuju yang melahirkan gerak sinergis bersama untuk ikut serta dalam pengabdian masyarakat pesisir, laut dan pulau-pulau kecil.

Pengabdian dalam masyarakat perlu dirancang sebaik mungkin serta melihat respon
baik dalam masyarakat. “Kita tidak bisa mendidik dan mengubah masyarakat jika
masyarakatnya sendiri tidak ingin untuk berkembang,” kata gadis asal pare-pare itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here